Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
48


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh,tapi Mahendra masih bersantai ria dengan kedua putrinya.


Lupi sedikit heran melihat ayahnya,sementara pagi ini ayahnya harus pergi ke bandara.


"Yah....bukankah pesawat yang ayah tumpangi akan terbang pagi ini"Akhirnya Lupi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"iya,bahkan jadwal penerbangannya di percepat setengah jam"Lupi semakin bingung dengan perkataan ayahnya.


"Berarti ayah terlambat,apa ini gara gara kami berdua ikut ayah di sini ?"Lupi merasa bersalah.


"Sama sekali tidak,"Mahendra melebarkan senyumnya "Ayah akan akan pergi dengan jadwal penerbangan sore,Gunawan sudah mengurus semuanya"Ucap Mahendra lagi.


"Terima kasih ayah,telah meluangkan waktu untuk kami,maaf kami telah membuat ayah batal berangkat pagi" Ucap Lupi.


"Ini tidak ada kaitannya dengan kalian,ini semata keinginan ayah,bersiaplah ayah akan mengantar kalian pulang ke rumah Bu Ratmi" Ada rasa kecewa di hati Lupi dengan perkataan ayahnya.


"Baik ayah,"Jawab Lupi.


Mereka berjalan meninggalkan hotel,Rio sudah mengemas semua barang mereka dalam dua buah koper besar.


"Apakah ayah nanti langsung ke bandara?"Tanya Lusi.


"Iya,ayah langsung ke bandara bersama Rio"Mahendra memperbaiki topi untuk menutupi wajahnya.


"Silakan masuk tuan tuan dan nona nona "Gunawan membukakan pintu untuk Mahendra sementara Rio dia membukakan untuk kedua putri tuannya.


Setelah mereka masuk,barulah Rio masuk dan menutup pintu mobil.


"Kita antar kedua tuan putri ini dulu Gun,"Mahendra membelai rambut kedua putrinya.


"Tuan,ada baiknya jika bu Ratmi masih mengenal tuan dengan wajah tuan Ahen"Ucap Rio.


"Apa yang di ucapkan Rio ada benarnya tuan,di sekitar kita selalu ada kamera pengintai"Gunawan menimpali.


Mahendra segera menggunakan topengnya,kini dirinya sudah menjadi yang orang kenal sebagai Ahen.


Mobil berbelok ke sebuah gang yang terkenal sangat tentram,budaya gotong royong yang masih kental,tali silahturahmi pun masih terjaga.


Sebuah ruko mini yang dulunya hanya sebuah warung kecil dengan penutup warung di jadikan meja,kini sudah jauh berubah.


Mahendra tersenyum bahagia melihat perubahan tersebut,semuanya sudah di renovasi tidak ada lagi dinding papan yang lusuh atap seng yang berkarat juga sudah baru.


Ternyata Ratmi telah menggunakan uang itu dengan baik


Gumam Mahendra.


Mereka semuanya turun dari mobil setelah mobil menepi di samping halaman rumah Ratmi yang tidak begitu luas.


Seorang wanita memandang bingung,melihat mobil parkir di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Mobil siapa itu bu Rat?"Seorang pembeli bertanya pada Ratmi.


"Tidak tahu Bu,yang biasa mengantar neng Lupi dan adiknya tidak seperti itu warnanya "Ucap Ratmi.


"Mungkin keluarganya Lupi ya Bu,semenjak Lupi tinggal di sini mobilnya gonta ganti yang datang,sepertinya Si Lupi calon orang kaya raya nantinya Bu,ibu beruntung sudah mengangkat mereka sebagai anak,ni lihat sudah banyak perubahan dengan kehidupan ibu"Ucap pembeli itu lagi menunjukkan semua barang di rumah Ratmi.


"Iya bu,Tuhan telah mengirim orang yang sudah membuka pintu rejeki untuk saya,,,eh...beneran itu Lupi sama orang yang mendanai semua keperluan Lupi dan adiknya" Ratmi menunjuk pada Lupi dan Mahendra yang baru keluar dari mobil.


Pembeli yang lain juga melihat ke arah rombongan Lupi.


"Beruntung sekali bu Ratmi,menampung anak orang yang tidak tahu datangnya dari mana,malahan Lupi dan adiknya jauh lebih baik dari anak anaknya bu Ratmi yang tidak mau mengunjungi ibunya,"Ujar seorang pembeli.


"Benar bu,malahan saya suka dengan Lupi dan adiknya di banding anaknya Bu Ratmi,tahun lalu sudah datang ke sini hanya ingin menyuruh Ratmi menjual sebagian tanahnya,huh dasar anak durhaka"ucap seorang yang lain.


"ssstt! sudah jangan bicara lagi,mereka menuju ke sini " Bisik bisik mereka pun terhenti,mereka melanjutkan memilih belanjaan mereka.


"Bu ibu.... mari duduk sini,sudah pada masak kan di rumah ?"Ratmi melambaikan tangan pada pembeli yang notabene ibu rumah tangga sekitar kompleks.


Mereka pun saling dorong mendorong antara takut dan malu,


"Mari ibu ibu,jangan malu,ini lho Lupi yang manggil" Ratmi kembali memanggil mereka dengan menjelaskan atas keinginan Lupi.


Akhirnya mereka pun bergabung duduk di kursi panjang tempat para pembeli yang masih ingin singgah dan duduk.


"Selamat pagi ibu ibu,masih pada belanja ya bu " Mahendra menyapa mereka.


"Iya tuan,biasa mah keperluan rumah tangga" Seorang ibu separuh muda mewakili mereka.


"Pak Haji baru saja lewat pulang olah raga pagi bersama istrinya tuan,mereka ada di rumah"Seorang ibu ibu yang berdekatan dengan Pak haji menimpali.


"Keluarga yang harmonis ya bu,,"Mahendra beramah tamah.


Mungkin ini tuan yang ramah ini yang membiayai hidup Lupi tidak seperti cerita di novel kebanyakan orang kaya sombong


Batin seorang ibu yang bergabung.


Lusi datang bersama pak Haji dan istrinya,


"assalammualaikum, selamat pagi tuan tuan dan ibu ibu kompleks sini"Pak Haji mengucap salam.


"Assalamualaikum"


"selamat pagi"


Mereka menjawab serempak dengan salam khas mereka masing masing.


"Selamat pagi pak haji,bu haji,bagai mana kabarnya,sehat ?"Mahendra menyapa dan bersalaman dengannya.


"Alhamdulillah tuan,kami sehat,bagaimana dengan tuan dan Rio,oh ya yang sebelah sana kita baru berjumpa?"Pak haji menatap ramah pada Gunawan.

__ADS_1


"Sehat pak,dia teman saya Gunawan beliau adalah pengacara hebat di sini"Gunawan berdiri berjabat tangan dengan pak Haji.


Pembicaraan mereka pun panjang lebar sampai akhirnya Mahendra pamit undur diri.


"Saya titip Lupi dan adiknya pak Haji,bu Ratmi dan ibu ibu kompleks sini,jika Tuhan memberi umur panjang kita akan berjumpa lagi,saya akan berkunjung ke sini lagi menjumpai anak anak saya dan juga anak anak Bu Ratmi " Mahendra sengaja mengatakan kata kata Lupi juga anak anak Ratmi,supaya tidak ada yang curiga dirinya lah ayah kandung mereka berdua.


"Amin,kami akan selalu menyayangi Lupi dan Lusi seperti anak kami sendiri tuan Ahen," Ucap pak Haji.


"Lupi,Lusi baik baik lah di sini,jangan membuat repot bu Ratmi pak Haji dan juga istrinya," Suasana haru pun tercipta Lupi sudah menangis memeluk Lusi yang dari tadi sudah terisak tidak rela berpisah lagi dengan ayahnya.


"Lupi,Lusi sudah jangan bersedih,di sini toh banyak yang sayang dengan kalian berdua,kalian juga banyak orang tua di sini" Bu haji menghibur kedua kakak beradik yang semakin menjadi tangisnya.


"Iya,benar non,kami di sini semua bersedia menjadi orang tua kalian,kami mengerti bagaimana perasaan kalian berdua" Seorang pembeli yang ikutan menangis juga menghibur Lupi dan adiknya.


Sebelum aku mengenal Om Ahen itu adalah ayah kandung kami sendiri,rasa sedih ini tidak seperti ini kami sudah menganggap kalian semuanya di sini keluarga tapi setelah tahu kenyataannya berat berpisah dengan mu ayah


Lupi terus terisak dengan jeritan kata dalam hatinya.


Mahendra memeluk kedua putrinya,tanda dirinya akan berangkat menuju bandara.


"Ayah....hu hu hu"Lusi tersedu lidahnya sudah kelu untuk berkata lagi.


"Lupi,Lusi,kami berangkat dulu ya,nanti kami terlambat" Mahendra tidak tega melepaskan tangan putrinya yang masih melingkar di pinggangnya.


"Dek,sini peluk kakak,kita tidak boleh cengeng,ingat,tugas kita masih banyak," Lusi melepas tangannya,Mahendra mencium kening kedua putrinya secara bergantian.


Mahendra melangkah menuju mobil,setelah masuk Mahendra melambaikan tangan pada mereka


Lupi dan Lusi tak henti hentinya melambai tangan sampai mobil tidak terlihat lagi.


Ratmi memeluk keduanya,seakan tahu apa yang mereka butuhkan saat ini.


Pelukan orang orang terdekat akan membuat mereka tenang dan nyaman.


Benar saja,lama Ratmi memeluk mereka tangisnya pun reda.


Sementara ibu ibu yang lain mengelus pundak Lupi dan Lusi.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


Mohon maaf 🙏jika ada tulisan dan bahasa yang tidak berkenan,


Jika ada nama tokoh dan kejadian yang sama author juga minta🙏 maaf cerita ini hanyalah fiktif belaka.


__ADS_2