Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
47


__ADS_3

Kini Lupi dan Lusi sudah bersama ayahnya di hotel setelah di bantu oleh Gunawan mencari apa yang di perlukan oleh kakak beradik itu.


"Yah,apakah ayah tidak merindukan rumah ayah?" Lusi bertanya,tangannya memeluk perut ayahnya.


"Tentu saja ayah rindu berkumpul dengan kalian,tapi jika kalian bahagia bersama Ratmi ayah tidak memaksa kalian untuk kembali ke rumah kenangan ayah dan ibu kandung kalian"Mahendra memahami banyak kenangan pahit untuk kedua putrinya selama Hana berkuasa atas rumah itu.


"Kakak masih takut jika ayah tidak ikut,takut dengan ibu Hana" Pertama kalinya Lupi mengadu tentang Hana.


"Maafkan ayah yang sudah menghilang dari kalian,ini semua salah ayah,mementingkan perasaan ayah di banding kalian saat itu,andai waktu bisa di putar kembali,ayah tidak akan pernah menikahi seorang wanita bernama Hana"Sesal Mahendra.


"Di sekolah semua orang di antar sama ibunya yah,cuma Lusi yang di antar kakak,dan pulangnya harus nunggu kakak juga,Adek sering bermain sama satpam sekolah ketika kami masih tinggal di rumah besar" Mahendra menitikkan air matanya,sesak mendengar putri bungsunya bercerita.


"Sekarang adek berangkat dan pulangnya ikut pak Haji,makanya saat kakak dan adek di jemput Om Jefri saat itu Bu Ratmi dan Pak Haji jadi cemas"Lusi melanjutkan ceritanya.


Entah kenapa aku seperti pernah melihat Ratmi,apa hanya imajinasi ku saja


Mahendra berusaha untuk mengingat kembali,tapi nihil Mahendra tidak berhasil memutar kembali memorinya kembali.


"Ayah,"Lusi menggerakkan badan ayahnya yang masih larut dengan pikirannya ke masa lampau.


"E iya...kenapa Nak...kalian lapar? ayah telpon Rio dulu untuk pesankan makanan"Meraih hp yang terletak di atas nakas.


"Ide bagus yah,sepertinya juga sangat lapar,kan dek ?"Lupi cekikikan.


"Iya...ayah dari tadi di panggil seperti patung berkedip "Ujar Lusi.


"Jadi tadi ayah melamun ya ...?"Mahendra malu dengan kedua putrinya yang dari tadi senang meledek dirinya.


"Gak ...ayah gak melamun...."ucap Lupi


"Cuma menghayal mungkin ha ha.."Sambung Lupi.


Mahendra menggelitik dua putrinya mereka tertawa bersama,tapi momen itu hanya sebentar,Lupi tertunduk wajah cerianya berubah sedih.


"Kamu kenapa Nak,"Mahendra menyentuh pundak Lupi.


"ayah....hiks hiks hiks"Lupi menangis memeluk ayahnya.


"Lupi takut untuk tertawa bersama ayah,besok pagi benar kami sudah di antar sama kak Rio pulang,dan kami tidak boleh mengantar ayah ke bandara hiks hiks hiks"Lupi semakin erat memeluk ayahnya,sosok yang sangat dia rindukan selama sebelas bulan dan baru menyadari orang yang memperkenalkan dirinya Ahen adalah ayah kandungnya.


Dirinya hanya bisa melepas rindu hanya sehari semalam.


"Nanti ayah telpon Gunawan memikirkan bagaimana caranya kalian bisa ke bandara besok pagi" Mahendra berusaha menghibur,


"Beneran yah !" Kedua putrinya terlihat sangat senang.


Mahendra menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Di kedua tangannya di rentangkan memeluk kedua putrinya.


"Sekarang tidurlah,tugas ayah sudah menumpuk,ayah akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan ayah di sana,dan ayah akan segera kembali" Mahendra mengelus lengan Lupi dan Lusi.


Lama Mahendra membelai kepala keduanya,akhirnya mereka tertidur,perlahan Mahendra bergerak bangun dari tempat tidur.


Di ambilnya hp menghubungi Gunawan untuk mengatur strategi supaya kedua putrinya bisa mengantarnya ke bandara esok harinya.


Setelah mendapatkan solusi terbaik Mahendra merebahkan lagi badannya di tengah kedua putrinya yang sudah lelap.


Di tempat lain,Hana merasa lelah sedari tadi di bawa Jefri berkeliling dari arah barat menuju timur berputar lagi dari selatan ke utara mencari buah tangan terbaik.


Sampai kota paling sudut mereka kunjungi,Jefri melihat Hana dari kaca spion di lihat wajahnya sudah lelah dan mengantuk,Jefri memutar lagi stir mobilnya ke arah semula.


Setelah sampai di sebuah tempat pengrajin kain batik khas kota tersebut Jefri membangunkan Hana.


"Nyonya...nyonya....bagaimana nyonya apakah masih di lanjutkan,ini tempat pengrajin terakhir yang kita kunjungi"Ucap Jefri.


"Hm...uaham... aku mau pulang saja Jef,pegal kaki ku turun naik mobil dari jam enam tadi" Hana kembali menyandarkan kepalanya jok.


Sukses! aku sukses membuat nyonya menjadi lelah,bagaimana mungkin wanita licik seperti anda tidak cerdik,ini adalah tempat terdekat dengan lokasi kantor


Jefri tertawa dalam hatinya,dia pun kembali menyetir mobil membelah jalanan menuju rumah megah yang di tempati oleh Hana dan Raisa.


Setelah sampai di rumah Jefri kembali memanggil salah pelayan wanita untuk mengurus Hana yang tertidur di dalam mobil.


"Yeah...lumayan melelahkan,mudah mudahan tuan besar aman di sana "Gumam Jefri pelan.


Drrrt drrrt Hp Jefri menyala,pesan dari Rio.


Tuan jefri,nona muda dan nona kecil malam ini bersama tuan besar di hotel X besok pagi tuan Gunawan sudah mengatur semuanya,termasuk nona muda dan adiknya mengantar ayahnya ke bandara


laporan selesai


Jefri tersenyum geli membaca pesan dari Rio,selalu saja di akhiri dengan kata penutup.


Rio....Rio... seperti upacara di lapangan saja laporan mu


Jefri mengetik kata kata untuk membalas pesan dari Rio


Terima kasih Rio,besok ingatkan tuan besar kembali ke penyamarannya


"Tugas ku besok lebih ekstrim lagi hussss...."Jefri menghembus napas kasarnya.


Jefri meletakkan benda pipih di balik bantalnya,sementara Hp yang sering di gunakan untuk sarana hiburannya di letakkan di atas meja.


Di tarik selimut sampai ke lehernya,Jefri pun tidur.

__ADS_1


Matahari pagi sudah menyapa kota yang luas dan padat dengan bangunan bertingkat,


Terlihat Lupi dan Lusi belum terbangun dari tidurnya,


Tok tok tok


Sebuah ketukan dari luar,Mahendra membukakan pintu,Rio datang dengan membawa sarapan untuk para tuannya.


"Letakkan di situ saja ya Rio,aku akan membangunkan anak anak dulu"Rio meletakkan nampan di meja sofa yang di tunjukan oleh Mahendra.


"Nak....bangun...kita sarapan dulu,ayo bangun...sebentar lagi ke bandara" Kedua kakak beradik menggeliatkan badannya.


"hem ..pagi ayah.." Lupi dengan suara seraknya.


"Pagi juga Lupi,gosok gigimu kita sarapan,setelah itu kita harus bersiap ke bandara." Ucap Mahendra.


Lupi segera ke kamar mandi di ikuti oleh Lusi dari belakang.


"Dek,kamu mau kemana,kakak mau pipis lho..."Lupi menahan langkah adiknya.


"Aku mau pipis juga" jawab Lusi.


"Ya masa kita berdua pipis bareng,gak lucu lah..."Lupi sewot.


"kita pingsut seperti biasa "Ucap Lusi.


Drama seperti ini adalah yang terjadi setiap hari setelah mereka tinggal di rumah Ratmi,


Mahendra senyum bahagia melihat kedua putrinya.


Sayang lihatlah anak kita mereka tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti mu,terima kasih sayang telah melahirkan dua orang putri yang cantik seperti mu


Mahendra mengusap matanya bayangan wajah istrinya kini kembali melintas di pikirannya.


Setelah kedua anaknya keluar dari kamar mandi mereka pun sarapan bersama,rupanya kedua putrinya langsung mandi.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2