Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
44


__ADS_3

Mahendra membawa kedua putrinya turun dari mobil,dia mengenakan topi dan kacamata hitam untuk berjaga jaga dari kamera paparazi.


Lusi terus bergelayut manja di lengan sang ayah,mereka menuju sebuah tempat lesehan yang hanya muat untuk enam orang untuk satu tempat.


Di sana sudah ada Jefri dan Rio yang menunggu kedatangan mereka bertiga.


Dengan membungkukkan badan Rio dan Jefri mempersilakan Mahendra dan kedua putrinya masuk ke tempat yang semi privat.


Para pengunjung lainnya tidak bisa melihat penghuni lesehan di sebelahnya jika tidak dengan sengaja melihat dari arah tempat masuk.


"Om Jef sama kak Rio kok bisa di sini?" Tanya Lupi.


Mahendra mengajak kedua putrinya duduk,dirinya di apit oleh Lupi dan Lusi.


Mahendra melepas kacamata hitam dan topinya,


"Jef,buat pintu masuk ini separuh tertutup,dan mata kita masih bisa melihat indahnya pemandangan." Titah Mahendra.


Jefri yang dari tadi sudah melihat tuannya tidak menggunakan penutup wajahnya paham dengan maksudnya.


"Ayah yang telpon mereka supaya menunggu di sini,ayah tahu hari ini Jefri tidak bekerja di kantor ayah" Jawab Mahendra.


Keamanan nona muda dan nona kecil akan terancam jika tuan sudah menampakkan wujud aslinya di kota ini.


Jefri merentang tirai dari anyaman bambu yang di beri sekitar dua puluh sentimeter terbuka untuk tamu melihat ke arah laut.


Jika di lihat dari depan orang orang tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang berada di dalam.


"silakan tuan,nona muda,nona kecil " Jefri melempar senyum hormat dan senyum ramah untuk ketiga orang majikannya sembari memberikan buku menu pada mereka.


Setelag deal dengan selera mereka masing masing Jefri menelpon bagian penyajian makanan dan minuman dengan nomor yang sudah tertera di buku menu,hingga pengunjung tidak perlu repot repot berjalan menuju tempat penyajian utama.


"Permisi tuan tuan,kami mengantar pesanan anda" Suara di balik tirai bambu,Jefri bangkit berdiri melihat dari celah terbuka,


Tiga orang pelayan wanita datang membawa banyak pesanan mereka,Jefri memberi kode pada Rio untuk membantunya mengambil pesanan dan menyajikan di atas meja.


Sementara posisi Jefri membelakangi para majikannya menutup penglihatan dari para pelayan wajah wajah ketiga orang di belakangnya.

__ADS_1


Setelah semuanya tersaji di atas meja,Jefri kembali menutup tirai seperti semula sedikit saja terbuka.


"Mari kita makan dulu,setelah itu baru kita bahas rencana selanjutnya" Mahendra mengajak mereka makan bersama.


Hembusan angin yang masuk dari selah selah bambu membuat selera makan mereka bersemangat.


"Tempatnya indah ya yah,apakah ini pertama kalinya aku kesini ?"Lusi menyedot minumannya,matanya di manjakan dengan pemandangan laut dan batu karang yang di terjang oleh ombak kecil.


"Ini tempat favorit ibu,dulu terakhir ke sini kamu baru bisa duduk dek"Mahendra menjelaskan dengan Lusi sembari dia menunjukkan foto di mana seorang bayi berusia tujuh bulan duduk di pasir bersama ibunya.


"Ini fotoku waktu kecil yah?" tanya Lusi.


"Gak mungkinlah itu kakak,coba lihat tanda lahir di lengan dekat pundak,kakak mana punya tanda lahir yang mencolok begitu" ledek Lupi dengan adiknya.


Mahendra juga menampakkan sebuah foto anak kecil posisi sedang duduk menoleh ke belakang dengan menggunakan baju pantai khusus balita.


"Ini foto si kakak waktu usianya dua tahun" Lusi terkekeh sedangkan Lupi menutup wajahnya malu.


"Tuh lihat tanda lahir kakak bentuknya kaya awan gelap di pinggang,eh sini yah....bentuknya cantik yah seperti di lukis"Lusi memperbesar layar hp ayahnya.


"Zona ku di mana yah,apakah boleh aku minta zona ku di koreo ?"Semua yang berada di pondok lesehan tertawa dengan pertanyaan Lusi.


"bentar bentar..."Lupi menyentuh kedua pelipis dengan dua telunjuknya seakan sedang meramal sesuatu.


"menurut penerawangan ku zona keberuntungan mu tetap berada di lingkungan bu Ratmi atau Pak Haji" Lupi membuka matanya meledek sang adik.


Mahendra bahagia melihat kedua putrinya yang terkadang akur terkadang seperti permen karet.


"Kakak,adek....ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan pada kalian berdua" Wajah Mahendra terlihat sangat serius.


Mereka semuanya diam menunggu Mahendra melanjutkan ucapannya.


"Besok ayah akan kembali ke kota A mengurus perusahaan ayah yang di sana,ayah akan kembali ke sini lagi setelah semuanya di bereskan oleh Jefri,dan nanti malam pengacara ayah Gunawan akan datang,untuk membantu Jefri dari luar," Tambah Mahendra lagi.


"Kenapa ayah jahat sekali,baru hari ini kami tahu jika yang kami kenal om Ahen itu adalah ayah kandung kami,dan besok ayah sudah pergi lagi meninggalkan kami, kenapa yah.... ayah tidak rindu kah dengan kami hu hu hu..."Lusi menangis tersedu memeluk ayahnya.


Sementara Lupi diam saja tanpa sepatah kata pun,hanya air mata yang mewakili perasaannya.

__ADS_1


Mengapa ayah muncul dengan wujud asli ayah di depan kami jika akhir ceritanya begini,Kakak tersiksa yah kakak sakit yah...kakak masih rindu ayah


Air mata Lupi semakin deras,isak tangisnya pun tidak ada sama sekali,Mahendra yang melihatnya menjadi tidak kuasa membendung genangan air di pelupuk matanya.


"Kakak....ayah yakin...kamu anak yang kuat anak yang mengerti dengan keadaan ini,ayah akan kembali nak,kalian nanti akan bersama Om Gunawan,hanya ini cara ayah menyelamatkan kalian...." Mahendra memeluk erat putri sulungnya.


"Ayah...hiks hiks hiks " Lupi tidak sanggup untuk berkata tenggorokannya terasa ada sesuatu yang tersangkut.


"Adek...ini bukan rencana ayah untuk muncul di hadapan kalian hari ini,tapi takdir berkata lain,mungkin ini juga keinginan ibu kalian kita berjumpa di sana di hari ulang tahun ibu kalian..."Mahendra juga memeluk Lusi dengan tangan sebelah.


Tidak tega sebenarnya meninggalkan putrinya lagi,apa boleh buat,jika dirinya berlama lama di tempat sekarang keselamatan semua perusahaan dan kedua putrinya terancam.


"Kakak,jangan kerja lagi ya,gunakan kartu kredit yang ayah berikan,gunakan saja uangnya sesuai dengan keinginan kakak,jika kakak sekedar membantu menjaga warung Bu Ratmi ayah tidak melarang,perluas lagi warungnya menjadi lebih besar lagi supaya Hana tidak curiga dengan ayah,dan Jefri" Kamu paham kan maksud ayah ? " Lupi menganggukkan kepalanya,di usia yang masih belia dirinya sudah merasakan kerasnya kehidupan.


Mengapa ayah tidak membawa kami pergi saja bersama ayah,dan lepaskan saja perusahaan ayah di sini untuk ibu Hana,aku dan Lusi akan nyaman bersama ayah


"Ayah sebenarnya ingin membawa kalian pergi bersama ayah,tapi ayah sudah mempertimbangkan semua,jika kalian ikut,Hana bersama anggotanya akan curiga sama kita,keselamatan Jefri juga ayah jaga" Mahendra berkata seolah dia tahu apa yang ada di benak Lupi.


"Ayah belajar dari mana ilmu membaca pikiran orang yah"Lupi dengan suara tersendat menanyakan kenapa ayahnya bisa tahu isi kepalanya.


"hm,Kakak sayang....aku adalah ayahmu,yang menimang mu sejak kecil,jika sedih,marah,kamu akan diam tanpa suara,tapi di hatimu berisik dengan banyak perkataan,umpatan,tapi jika senang kamu akan selalu tersenyum" Lupi mengangguk membenarkan perkataan ayahnya.


Hingga hari menjelang sore,Mahendra mengantar kedua putrinya ke tempat penitipan motor dekat area pemakaman,supaya tidak ada yang curiga jika mereka pergi bersama seharian.


Sedangkan Jefri dan Rio menggunakan taksi online mengelabui team paparazi Hana.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2