Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
38


__ADS_3

Perang drama antar kedua kubu pun berakhir sementara waktu,Mahendra berpamitan kembali ke hotel bersama Rio.


Raut wajah senang pada Raisa bukanlah sebuah drama,dirinya bisa bernapas lega tanpa harus melihat ancaman dari sorot mata Hana.


Tidak perlu ikut basa basi Raisa mengambil jurus langkah seribu menuju kamarnya di lantai atas.


Lain lagi dengan Hana,jika kedatangan Mahendra Jefri yang menyambut,kini pamit meraka Hana yang mengantar sampai pintu depan.


Sebuah taksi online masih menunggu di depan pagar rumah,merasa lama menuggu driver berbagi cerita dengan satpam yang berjaga di rumah Hana.


Driver membuka kan pintu untuk Mahendra dan Rio,keduanya masuk ke dalam taksi,dalam perjalanan menuju hotel Rio dan Mahendra sama sama diam.


Di rumah Hana mendatangi Raisa yang sudah dulu masuk ke kamarnya.


tok tok tok " Raisa...Rai...buka pintunya " Raisa mendengar suara mamanya,berpura pura tidur.


"Rai,buka pintunya! " Raisa melompat dari tempat tidurnya membuka lemari pakaian


"Nah ini dia,buat jaga jaga" Raisa mengenakan baju tebal berlengan panjang.


Membuka pintu,mengucek matanya seolah dirinya sudah tertidur dalam waktu lima menit.


"Ada apa lagi ma,Raisa ngantuk " Rengek Raisa.


"Sini kamu," Hana menarik lengan baju Raisa menuntunnya duduk di pinggiran tempat tidur.


"Kenapa sih kamu sulit di atur,mama tadi kan sudah bilang,kamu harus bersikap manis di depan Rio dan tuan Ahen,mama sudah memberi contoh kok kamu malah lain lagi " Hana kesal dengan putrinya.


"Apa! jadi dengan mencubit lengan Raisa berulang ulang itu mama katakan bersikap manis ma !" pekik Raisa.


Raisa cepat mengelak sebelum kedua jari mamanya menjepit lagi kulit lengannya.


"Raisa !" pekik Hana


"tidak ma,sakit di cubit terus dari tadi,"


"Mama tidak akan mencubit kalau kamu mau dengarkan mama," Hana duduk di sofa.


"Apakah kamu tahu,Lupi sekarang di tanggung oleh tuan Ahen hidupnya,dan kamu tahu kalau kekayaan tuan Ahen tidak sebanding dengan kekayaan Papa kamu" Hana memelankan suaranya.


"Mana aku tahu ma," Raisa ketus.


"makanya mama bilang sekarang Raisa" Hana lebih kesal lagi.


"Apa hubungannya dengan Raisa Ma..." Raisa masih bersandar di dinding kamar,masih takut berdekatan dengan mamanya.

__ADS_1


"Mama mau kamu mendekati Rio,jangan sampai Lupi yang di dekati oleh Rio" tegas Hana pelan.


"Kenapa tidak mama saja yang mendekati Om Ahen,?"


"Bisa,tapi kita harus bisa membawa Lupi dan adiknya pulang ke rumah ini lagi," Raisa mulai kesal jika berurusan dengan Lupi.


Lupi lagi Lupi lagi,baiklah aku akan merayu Lupi pulang ke rumah ini lagi,selanjutnya terserah aku bagaimana memperlakukannya.


......................


Di hotel, Mahendra belum bisa memejamkan matanya,pikirannya masih tertuju pada dua putrinya.


[Rio datang ke kamarku sekarang]


Mahendra mengirim pesan pada Rio,contreng biru dua.


Tok tok tok !Ketukan pintu dari luar,Mahendra membukanya,


"Masuk Rio.." ajaknya.


Rio masuk mengikuti langkah bos besarnya, langkahnya pun terhenti Rio masih berdiri tegap.


"Duduk Rio " Mahendra menepuk sofa menginginkan Rio duduk di dekatnya.


Sungkan? sudah pasti meski sudah lama menjadi asisten pribadi Mahendra Rio tidak berani sekedar duduk di samping Mahendra jika tidak mendapat instruksi.


"Dua hari lagi ada acara seleksi siswa berbakat di tempat sekolah Nona Lupi,informasi ini saya peroleh dari jefri"


"Apa yang harus kita lakukan,apakah Lupi juga ikut kegiatan tersebut?"


"Informasi yang Jefri peroleh, Nona Raisa dan Nona Lupi sama sama terpilih dari seleksi antar sekolah,Undangan terbuka untuk umum,kita bisa datang ke sana menjadi sponsor dadakan " Ide Rio bisa di terima oleh Mahendra,dalam pikirannya sudah terselip rencana dadakan juga.


"Apa kamu mengantuk Rio?" Tanya Mahendra pelan.


"Belum Tuan,jika Tuan sudah mengantuk tidurlah," Mahendra menggeleng,sebelas bulan dirinya menghilang dari putrinya meninggalkan rumah megah yang sekarang di tempati Hana.


"Tuan ingin ngopi" Tanya Rio pelan,dirinya tahu apa yang di pikiran Mahendra,


Bersabarlah dulu tuan,aku sendiri merasa sangat bersalah pada putri tuan,di sana aku bisa menikmati hidup layak,terangkat dari kemiskinan berkat jasa tuan,saya berjanji tuan, akan membuat tuan dan putri hidup bahagia.


"Malam ini kamu temani aku di sini saja Rio," Anggukan dari Rio bukan karena suatu keterpaksaan.


"Baik tuan,saya akan pesankan kopi" Rio menggunakan telpon khusus di dalam hotel memesan minuman untuk dirinya dan bos besarnya.


Kopi susu hangat sudah datang,dua pria beda usia meneguknya berbicara hingga menjelang larut malam.

__ADS_1


Kantuk sudah menghampiri mereka,Rio lebih memilih tidur di atas sofa,Meskipun Mahendra mengijinkan dirinya tidur di sebelahnya.


Rio mematikan lampu kamar menggantikan dengan lampu tidur,terdengar dengkuran halus dari Mahendra tanda orangnya sudah larut dalam mimpi.


Rio belum bisa memejamkan matanya,memori otaknya kembali ke cerita silam sebelum dirinya bertemu bos besarnya .


"Yo,bapak tidak mampu melanjutkan lagi sekolahmu,,apalagi adikmu Yana dia akan masuk SMA,Aris masuk SMP," Rio tidak menjawab perkataan bapaknya.


Rio pun memahaminya,bapaknya hanya seorang nelayan yang penghasilannya pas pasan, untuk keperluan selama sekolahnya Rio harus bekerja keras mencari uang sendiri.


"Iya Pak,mulai besok aku bantu bapak saja mencari ikan di laut,supaya hasilnya lebih banyak lagi,"Ucap Rio lirih.


Rio melihat mata bapaknya yang berkaca kaca,tanda ke ketidakberdayaan dengan kondisi keuangan saat itu.


"Bapak tidak perlu bersedih,aku ikhlas pak,jika sudah punya uang yang banyak nanti aku bisa kuliah sambil mencari ikan di laut bersama Bapak" Rio berusaha menghibur bapaknya,sementara hatinya pun hancur harapannya menjadi seorang pengusaha di kampungnya sirna.


Dirinya tidak bisa menyalahkan orang tuanya,faktor ekonomi lah yang membuatnya harus mengubur dalam dalam mimpinya.


Kini kehidupannya jauh lebih layak dari sebelumnya,adiknya Yana sudah mendapat pekerjaan di kantor Mahendra sebagai staf keuangan.Adiknya Aris sedang kuliah di biayai oleh dirinya dan Yana,Bapaknya Rio sekarang sudah menjadi penampung ikan di bantu oleh dua orang temannya yang membawa Mahendra menuju rumah sakit.


Rio saat ini juga sedang mengikuti pendidikan khusus di bidang usaha,kecerdasan otaknya masih berfungsi dengan baik,hingga Rio tidak mengalami kesulitan selama mengikuti pendidikan secara zoom.


Slide demi slide memori yang melintas di pikirannya telah membawanya ke alam bawah sadar.


Sebuah cahaya masuk dari selah gorden yang sudah di buka lebar, aroma kopi susu sudah memenuhi ruangan kamar hotel.


Rio menggeliatkan badannya deg! tersentak baru menyadari dirinya tidur di sofa kamar Bos besar.


"Maaf tuan saya bangun kesiangan" Perasaan malu dan serba salah Rio merapikan selimutnya dan bantal yang di pakainya.


"Cuci mukamu dulu Rio,nanti minuman mu dingin" Mahendra tersenyum melangkah mendekati Rio yang masih mematung.


"Jangan salahkan dirimu,aku tidak tega membangunkan mu,segera cuci mukamu" Mahendra menepuk pundak Rio.


Rio melangkah menuju kamar mandi,dalam hati dia memaki dirinya sendiri, bodoh kamu Rio! Benar benar memalukan bisa bangun kesiangan di kamar orang yang telah mengangkat kehidupanmu dari kemiskinan,.


\=\=\=\=\=\=\=\=


~**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...

__ADS_1


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2