Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
46


__ADS_3

"Oh jadi rumah yang di tempati ibu Hana punya Lusi dan kakak Lupi yang akan menggantikan ibu Hana di kantor utama Kencana Group?" Tidak di sangka Lusi yang hanya sekilas saja membacanya langsung memahami isi surat penting di dalam kotak rahasia ayahnya.


Mahendra mengangguk,tersenyum menatap Lusi dengan haru.


Tidak seharusnya ayah meninggalkan kalian anak anak ku,ini semua demi keselamatan kalian berdua,ayah tidak mau apa yang terjadi pada ibu yang melahirkan kalian terulang lagi


Mahendra mengusap air matanya mengingat bukti bukti yang sudah Gunawan peroleh tentang kecelakaan mendiang istrinya Rahayu.


Mengapa fakta itu baru terungkap sekarang Rahayu,maafkan aku yang terlambat mengetahui ini semua mataku telah di buta kan sikap lembut palsu dari Hana


Mahendra bergumam lagi dalam hatinya,bayangan wajah Rahayu melintas di wajahnya dengan senyum indahnya.


"Rahayu....." Ucap Mahendra pelan.


"Ayah,ayah kenapa, ayah sakit ?"Lusi meraba kening ayahnya.


"Gak panas,biasa saja..." Ucap Lusi lagi.


"Sekarang tanda tangani semua berkas ini nona Lupi yang tertera nama nona,untuk sementara nona Lusi masih kecil jadi tanda tangan masih di wakilkan nona Lupi,saya juga sudah membuat surat kepemilikan sementara yang harus nona Lupi tanda tangani juga,"Gunawan menyerahkan semua berkas pada Lupi.


"Setelah Nona Lusi berumur tujuh belas tahun nona Lupi harus menyerahkan semua yang atas nama Lusi padanya." Ucap Gunawan lagi.


"Mengapa harta ayah harus di bagi sekarang yah....adek kan tetap ikut kakak,adek tidak perlu dapat bagian yah....yang kerja nanti kakak Lupi" Lusi polos.


Tentu saja Mahendra terkekeh mendengar putri bungsunya


"Emang nanti kalau kamu sudah menikah kamu sama suami kamu kakak juga kasi makan bersama anak kalian nanti,? " Lupi berkata seolah dia sedang marah.


"Gak lah,nanti adek mau kerja dulu sebelum menikah,biar biaya nikahnya tidak minta sama kakak dan juga ayah,"Lusi pesimis.


"Nah gitu paham kenapa tadi tidak paham "Lupi pura pura sewot.


"Sengaja hi hi hi..."Lusi cengengesan.


"Anak anak ayah kelak ayah sudah tiada kalian berdua harus tetap akur,jangan berebut harta ayah yang lain,hendaklah kalian membagi sama rata,apa yang ayah punya sekarang adalah milik kalian berdua dan anak anak kalian nantinya" Mahendra membelai rambut putrinya satu persatu.


"Kenapa ayah bicara begitu,kami masih perlu ayah,"Lupi tidak suka mendengar ayahnya bicara seakan pesannya yang terakhir kalinya.


"Kelahiran,kematian dan jodoh tiga hal yang tidak pernah kita tahu nak,itu semua rahasia Tuhan"jawab Mahendra.


"iya ayah..." Lupi dan Lusi bersamaan.


"Yah,boleh minta satu hal ?"Tanya Lupi.

__ADS_1


"Katakan saja nak," Jawab Mahendra teduh.


"Sekian banyak cabang perusahaan yang atas nama kakak boleh kah satu atau dua cabang untuk Raisa dan ibu Hana ?"


Uhuk! Mahendra tersedak liurnya sendiri,bukan tidak suka dengan permintaan Lupi,Mahendra tidak menyangka saja jika hati anaknya sangat mulia.


"Kalau ayah tidak mengijinkan Kakak ganti permintaannya,kakak mau Pak haji mengurus satu cabang yang berada dekat gang tempat tinggal kami sekarang dan bu Ratmi..."Ucapan Lupi terpotong oleh Lusi.


"Bu Ratmi ikut adek pulang ke rumah megah,"Lusi berkobar.


Mahendra semakin terharu,ternyata di balik tragedi tenggelamnya kapal pesiar telah membuat anak anaknya menjadi orang yang mengerti tentang balas budi.


"Baiklah,biar ayah lurus kan,permintaan kalian akan ayah kabulkan semuanya,khusus untuk Raisa dan Hana berikan mereka cabang di dunia entertainment,karna menjadi artis itu mimpi Raisa," Ucap Mahendra pelan dan tegas.


"Terima kasih ayah....!" Keduanya memeluk ayahnya.


"Om Jef bagaimana yah,"Tanya Lusi.


"Om Jef sudah ayah siap kan,satu cabang lagi di kota A di sana dia bersama Rio akan mengurusnya,mereka akan menggantikan posisi ayah jika ayah sudah menua dan berkumpul bersama kalian" Mahendra menatap Rio.


"He,em " Rio hampir batuk mendengar perkataan tuan besarnya.


"Kenapa Rio,maaf kalau tidak sesuai dengan jasamu " Ucap Mahendra.


"Terima kasih tuan" Mungkin ini kata pertama yang baik


Gumam Rio.


"Tuan terlalu berlebihan dengan saya,bahkan saya saja tidak pantas dengan pemberian dari tuan"


Syukurlah lidah ku tidak keseleo


"Di beri pekerjaan seperti ini saya sudah bersyukur tuan" imbuh Rio lagi.


Deg degan jadinya,kenapa juga tuan harus bagi bagi perusahaannya seperti bagi bagi angpao lima puluh ribu saja,namanya juga orang kaya


Rio terus berkata sambil terus bergumam dalam hatinya di terima keinginan tuan besarnya takut di katakan tamak,tidak di terima takut di bilang merajuk,posisi serba salah batin Rio.


"Apa yang saya berikan tidak seimbang dengan nyawa saya Rio,dan nasib anak anak saya akan terus menerus di injak jika saya tinggal nama" Mahendra menghembus napasnya panjang.


"Terima kasih kak Rio,telah merawat ayah saya selama di sana,kami di sini telah menganggap ayah kami tiada tenggelam di dasar lautan paling dalam,maaf ayah...." Lupi tersedu,wajah di tutup dengan kedua tangannya.


"Nak,saat ayah sadar ayah ingin mengabarkan berita bahwa ayah masih selamat,tapi ayah sudah melihat Hana di televisi menyatakan ayah sudah meninggal,saat itulah ayah dan Jefri mengatur semua rencana demi rencana"

__ADS_1


"Hingga ayah mengandeng semua pengusaha kecil di sana untuk bergabung,itu pun di bantu oleh Rio hingga sukses menjadi perusahaan terbesar di sana"


"Awalnya ayah ingin Jefri membawa kalian tempat ayah,tapi mengingat perusahaan yang di kuasai oleh Hana adalah perusahaan turun temurun itulah sebabnya ayah membatalkan niat ayah untuk menjualnya." Jelas Mahendra lagi.


"Maaf tuan kita harus kembali ke hotel sekarang,dan kita akan bersiap terbang besok pagi jam delapan empat lima" Rio sebenarnya tidak tega mengatakan hal tersebut,tapi kesehatan tuan besarnya harus dia jaga.


"Apakah nona berdua juga ikut?besok pagi bisa saya antar pulang dulu ke rumah Bu Ratmi" Rio menawarkan pada Lupi dan Lusi.


"Mauuuu..."Kompak berseru


"Sekalian besok antar ayah ke bandara" seru Lusi.


"No!"Gunawan melarang tegas.


"Why?"Lupi mengangkat kedua tangannya,


"Tidak aman untuk ayah kalian dan rencana kita selanjutnya,jika kalian berdua ikut ayah kalian bermalam di hotel saya tidak melarang,kecuali ikut ke bandara" Gunawan tegas.


"Ikuti saja apa yang Gunawan katakan,apakah besok kalian tidak sekolah?" Tanya Mahendra.


"Kami libur ayah" Masih kompak menjawab seperti anak kembar.


"Baiklah,kita sepakat besok pagi buta kalian di antar Rio pulang" Ucap Mahendra.


"Ayah,nanti kita mampir di toko pakaian yang masih buka ya,"Pinta Lusi.


"Mau cari apa Dek,mau cari gorengan mana ada..." Sontak Mahendra tertawa.


Lusi jadi cemberut.


"Mau cari pakaian sport kakak,.... jadi kita turun di jalan saja,kakak sendiri tahu lingkungan Bu Ratmi bersih dari isu miring" Lusi berkata laksana seorang guru yang sedang mengajar.


"Pintar! top deh!" Lupi mengacung dua jempolnya.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...

__ADS_1


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2