
Ratmi dan rombongan sudah pergi,tinggallah Lupi dan Alek duduk di bangku samping. Suasana hening tercipta di antara keduanya,Lupi fokus menatap rumput liar yang tumbuh di halaman.
"Pi,,, kok kamu diam aja,ngomong dong.." Lupi menoleh pipinya mengembung.
"Yang perlu bicara aku atau kamu,? Kalau tidak ada yang di bicarakan baiknya kamu pulang saja,aku masih banyak kerja " Lupi kesal,lantaran dirinya yang di suruh 8buka suara.
"He..he..he... Jangan galak galak gitulah.... Ntar gak ada yang naksir lho..." Goda Alek.
"Sedari aku lahir sudah tidak terhitung nyamuk yang mendekati ku,bahkan ada yang secara langsung menyentuh kulitku tanpa seijinku... Akibatnya mereka harus membayar tepukan dariku..." Lupi berceloteh panjang lebar.
"Ha....ha.....! ternyata kamu jago juga melawak,apa kamu masuk group komedi saja..." Alek terkekeh.
Lupi membulatkan matanya menatap Alek, membuat Alek semakin terpingkal melihat tingkah Lupi yang semakin menggemaskan.
"Lupi...awas biji mata mu hampir keluar..." Lupi memalingkan wajahnya,kembali menatap tumbuhan liar yang kecil.
Kembali hening.
"Pi,,, kamu marah ya.... Maaf ya...aku cuma bercanda... Tapi kamu tambah manis dalam keadaan marah...sumpah deh !" Aleh menampakan dua jarinya.
"Dari dulu aku memang paling manis..."Lupi pede.
"Oh ya...?" Alek berpura pura membantah.
"Kata orang tuaku.... Bukan kata orang lain termasuk kamu...,makanya kalau orang bicara dengarkan dulu sampai dia selesai bicaranya..." Lupi mencibir.
Kamu memang manis Lupi bahkan lebih dari manis aku saja tidak bisa bosan menatap wajahmu
Batin Alek.
"Tapi aku setuju dengan perkataan orang tuamiu" Ucap Alek.
Lupi memalingkan wajah menyembunyikan pipinya yang bersemu merah karena malu.
"Hei....kenapa kamu tutup wajahmu... " Alek menarik tangan Lupi yang menutup wajahnya sendiri.
"Jangan ah... masa kamu lihat aku secara gratis,enakan kamu lah..."
"Ha..ha..." Alek tergelak.
"Pi,... Aku mau bicara serius dengan kamu... " Lupi menatap Alek, tidak ada raut wajah yang sedang bercanda di sana. Lupi menganggukkan kepalanya pelan tanda mempersilahkan untuk Alek bicara.
"Pi... aku tidak sanggup memendam rasa yang selalu menuntut hatiku untuk mengatakannya,bahkam aku selalu berusaha untuk menguburnya,tapi aku tidak bisa," Alek menjeda kalimatnya menarik napas dalam untuk mengumpulkan lagi kekuatan untuk bicara.
"Setiap malam ingin tidur,wajah mu selalu melintas di mataku, ingin aku tepis tapi aku tidak bisa,semakin aku berusaha menepis bayang wajahmu,semakin jelas bayangan mu di depanku, aku hampir gila Lupi karena ulahmu yang menjauhi ku..." Entah dari mana datangnya yang bisa membuat Alek bicara tanpa terbata.
Lupi mendengarkan setiap kalimat yang Alek ucapkan mencerna semuanya.
"Pi...kamu dengar gak aku lagi ngomong.."
__ADS_1
"Iya aku dengar...aku gak budek kali..."
Di kasi ruang untuk bicara panjang lebar seperti sedang membaca dongeng saja tidak berterima kasih
Batin Lupi.
"Habisnya kamu diam saja dari tadi..." ucap Alek merasa dirinya bicara tanpa ada orang yang sedang bersamanya.
"Kalau aku ngomong juga siapa yang akan mendengarkan?... Baiklah kalau begitu kita bicara secara bersamaan,hitungan ketiga mulai ya... Satu... Du...."Kalimat Lupi terpotong oleh Alek.
"Oke..oke... Kamu memang manusia paling pantas di cintai oleh semua orang.. Termasuk aku.."
"Uhuk!." Lupi yang sedang menyedot minumannya dengan pipet hampir saja tersedak.
"Pi..! Pelan pelan Pi... Minumnya... Lagian aku juga gak bakalan ambil minuman punya mu" Ucap Alek.
Kalimat kamu itu yang hampir mencekik leherku Alek
"Eh..iya...minumanmu sudah habis ya...aku buatkan lagi ya...." Alek segera mencegah Lupi yang baru saja akan beranjak dari tempat duduknya.
"Ya udah... Lanjutkan saja bicaranya.. mumpung aku masih mau mendengarkan... Waktu ku mahal lho..." Ucap Lupi enteng saja.
"Oh iya...sampai di mana tadi aku bicaranya..." tanya Alek lupa dengan kalimatnya sendiri.
"sampai di kamu gak bakalan ambil minuman ku..." Ucap Lupi.
"Bukan yang itu...sebelumnya lagi...." tanya Alek.
"Ha..ha... Kamu mirip sama bu Risma kalau seperti itu..." Kelakar Alek.
"Masih ada yang mau di sampaikan...?" Lupi bicara datar.
Aku sekarang bicara dengan siapa sih terkadang kocak terkadang bikin merinding terkadang juga bikin meradang
"Masih banyak yang ingin aku katakan, jika aku katakan semua dua hari gak akan selesai," Ucap Alek.
"Terus kamu mau aku mendengarkan kamu sampai dua hari gitu ?"
"Aku akan bicara langsung ke poinnya saja," Alek mengatur napasnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaaannya.
"Pi,mau kah kamu menjadi kekasihku....mau kah kamu terus menjadi orang selalu menyadarkan aku dari kegilaanku,karena kamu aku berhenti menjadi lelaki yang suka koleksi wanita cantik,karena kamu aku berhenti party di klub malam,karena kamu juga aku bisa merasakan beraneka ragam jajanan tradisional, aku tidak memaksamu menjawab sekarang,aku juga akan lega mendengar apapun jawabanmu... Karna dengan jawabanmu aku akan berhenti seperti orang gila..." Alek mengeluarkan napasnya secara kasar,jantungnya berdegub kencang.
Akhirnya kalimat ini bisa aku keluarkan walaupun konsep sebenarnya tidak seperti ini
Batin Alek.
Hah aku di tembak untung saja aku tidak mati membeku di suhu panas begini jawabnya gimana kenapa gak bilang dari tadi malam kalau mau nembak aku biar semalam aku bisa buka youtube bagaimana jawabnya
Lupi celingak celinguk bingung sendiri.
__ADS_1
"Kalau mau jawab sekarang bagaimana rumusnya?" Lupi bertanya pelan.
"Tinggal kamu jawab iya dan tidak saja... Jika ingin di tambahkan alasannya juga bisa,aku siap mendengarkan apa pun jawabanmu" Alek tenang,dalam hatinya deg degan.
Sejenak hening di antara mereka Lupi masih mencari kata yang tepat untuk dia ucapkan,sementara Alek masih menenangkan jantung dan hatinya yang tidak karuan bersamaan dengan pikirannya.
"Alek,aku sendiri bingung bagaimana menjawab seperti seorang penyair,dan aku juga bingung pacaran itu seperti apa,sebenarnya aku juga takut untuk berpacaran" Pikiran Alek semakin kacau,walau saat ini dia berpura pura untuk tenang.
"Alek berjanji lah padaku,apapun jawabanku kamu tidak akan melukai hati orang orang yang telah menyayangi ku saat ini,seperti Bu Ratmi,pak Haji dan istrinya,terlebih lagi adikku,dan juga orang tua ku" Mata Lupi berkaca mengenang ibu dan ayahnya.
Yah kakak bingung saat ini ibu bantu aku
"aku berjanji..." ucap Alek.
Lupi tersenyum menatap Alek,
"Aku mau " Jawab Lupi singkat.
"Mau...jadi kekasihku...?" Alek berhati hati mengucapkan kalimatnya.
Sebuah anggukan dari Lupi di sertai senyuman yang teduh.
Alek mengusap dadanya napasnya tersendat seperti sulit sekali untuknya menghirup napas ke rongga dadanya.
Gila kenapa aku begini tidak pernah aku seperti ini biasanya aku slow saja kalau nembak cewek ini kok rasanya seperti di timpa batu besar dadaku mendengar jawabannya
"Alek ! Kamu kenapa ? Kamu sakit!" Lupi jadi kebingungan melihat Alek yang seperti orang terserang penyakit ayan.
"jantungku....jantung ku..."
"Jantungmu kenapa ?" tanya Lupi.
"Jantung ku hampir berhenti berdetak saking girangnya aku mendengar jawabanmu " Ucap Alek masih mengelus dadanya.
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=
**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris
~jangan lupa Like dan komen ya,
Biar author lebih semangat lagi
~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...
~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**
Mohon maaf 🙏jika ada tulisan dan bahasa yang tidak berkenan,
__ADS_1
Jika ada nama tokoh dan kejadian yang sama author juga minta🙏 maaf cerita ini hanyalah fiktif belaka.