Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
19


__ADS_3

Minggu siang Lupi sudah berada di Taman Kota,karena masih jam istirahat Lupi menyempatkan diri duduk di bawah pohon kayu yang rimbun.


Udara sejuk menghadirkan kenyamanan buat Lupi yang baru saja menyapu jalanan di depan taman.


Sambil menunggu team berkumpul kembali, Lupi mengeluarkan hpnya dari tas Selempang miliknya.


ke


Di lihat sebuah aplikasi hijau hanya ada pesan dari group sekolah dan group rumpi yang beranggotakan Dirinya,Jenita,Aldi dan Weni.


Berharap ada pesan dari Alek,di gulir ke kanan melihat story,juga tidak ada story di tampilkan Alek.


Kenapa aku jadi memikirkannya apa otakku ini sudah tidak beres,sepertinya aku perlu tabib atau apalah namanya,oh iya psikiater bagian otak hi hi hi


Lupi tertawa geli di dalam hatinya, andai pohon dan rumput bisa mendengar suara hatinya pasti mereka juga akan mentertawakan dirinya.


Sepasang muda mudi yang sedang di mabuk kasmaran duduk di bangku taman dekat dengan pohon tempat Lupi bersandar.


Lupi senyam senyum sendiri melihat gelagat mereka yang terkadang saling merangkul,terkadang saling berpegang tangan,isi kepalanya melanglang buana.


*Apa orang pacaran itu harus begitu ya hihihi.... lucu juga tingkah orang pacaran,


eh! bukankah kemarin aku dan Alek berpelukan?berarti kemarin aku dan Alek pacaran dong,tapi orang bilang kalau pacaran ada tembak menembaknya....


Nembak pake apa,bagaimana,yang nembak siapa huh! pikiranku ini memang sudah gila*.


Lupi tidak sadar kalau dirinya di perhatikan sedari tadi oleh seseorang.


Cantik!wajahnya begitu cantik,senyumnya sangat manis


Alek memenuhi permintaan Lupi untuk datang ke taman kota di siang hari.


Alek berkeliling Taman mencari keberadaan Lupi.Di lihatnya seorang wanita berseragam oranye sedang duduk sambil tersenyum sendiri.


Alek berjalan mengendus mendekati Lupi,di colek pundak Lupi,tidak menoleh.


"Pi,...." Masih belum menoleh Alek duduk di samping Lupi menopang dagu dengan dua tangannya,


Lupi memutar wajahnya menoleh ke samping,Dub! mata Lupi dan Alek bertemu pandang,tinggal satu senti lagi hidung mereka akan beradu.


Sedetik!dua detik! sampai hitungan ke sepuluh Lupi menarik wajahnya,

__ADS_1


"Apa aku juga sedang pacaran?" gumam Lupi seperti sedang berbisik,tapi jelas di telinga Alek.


"Kamu mau kita berpacaran? apakah kamu sedang menembak ku dengan cintamu?" Alek tersenyum menggoda Lupi.


Lupi menjadi salah tingkah pipinya bersemu merah


"A..aku menembak mu? ti..tidak... aku tidak bawa senjata apapun ," Lupi gelagapan.


"Ha..ha..ha....Lupi....Lupi... kamu kenapa lucu sekali Lupi..." Alek tertawa terbahak,Lupi menautkan kedua alisnya.


"Yang lucu bagian yang mana ?" Tanya Lupi polos


Alek semakin mengencangkan tawanya,bahkan sampai terpingkal ,wajah Lupi berubah menjadi masam.


Alek melihat perubahan di wajah Lupi,di tutup mulutnya dengan tangannya.


Lupi mendongakkan wajahnya meminta penjelasan,Tubuh Alek berguncang akibat tawanya yang tertahan.


Merasa dirinya menjadi tawa Lupi membalikkan badannya,langkahnya tertahan tangannya di raih Alek.


Ngeselin banget sih,orang nanya serius dianya malah tertawa serius hiks hiks


"Kenapa lagi,pengen tertawa lagi !?, tertawa saja , huh! nyebelin " Lupi manyun.


*Ha .ha...ha... Lupi...Lupi.. kamu tau tidak perutku sakit menahan tawa akibat ulah mu yang terlalu polos, tapi sumpah aku jadi semakin terpikat dengan mu*


Alek menarik napas dalam berusaha untuk tidak tertawa lagi.


Sumpah Lupi...kamu itu lugu,lucu,polos,tapi judes suka aku sangat suka !


"Kamu mau pacaran ?" Alek bertanya lagi


"Gak! aku tidak mau berciuman! aku tidak mau pacaran,! " Lupi persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Terus,tadi kamu bilang tadi itu apa?" Alek menaikkan satu alisnya.


"yang mana?" Lupi bingung.


"Kita bahas yang lain saja deh,katanya kamu mau cerita kenapa kamu pergi dari rumah," Alek menagih janji Lupi di tempo hari.


Lupi melirik jam di tangannya,masih ada waktu satu jam lagi waktu untuk mulai kerja lagi.

__ADS_1


Lupi menarik napasnya dalam dalam,lalu mengeluarkannya secara kasar,Lupi melihat orang yang berlalu lalang di taman,


"Aku dan Adikku sudah tidak ada hak lagi dengan semua kekayaan orang tua ku," Lupi menghentikan ucapannya.


Alek terdiam masih menunggu Lupi melanjutkan ceritanya.


"Semenjak ayahku di nyata hilang di lautan,semuanya di kuasai oleh Ibu Hana,termasuk perusahaan Ayah yang di kelola oleh Mendiang Ibu kandungku dulu sebelum beliau meninggal" Suara Lupi tersendat,Matanya berkaca kaca mengingat kedua orang tuanya.


"Lalu bagaimana dengan pesangon Ayahmu?"


Alek mulai penasaran.


"Semuanya di ambil oleh Ibu Hana,mobil,motor,rumah semuanya di ambil Ibu Hana" Lupi menatap lurus ke depan.


"Bukankah mobil yang di pakai Raisa itu mobilmu hadiah dari ayahmu?" Alek kembali bertanya


"Iya" jawab Lupi singkat.


Alek menghempas napasnya matanya juga menatap jauh lurus ke depan.Tidak menyangka teman sosialita Mamanya ternyata bermuka dua.


"Jeng,bagaimana kalau kita besanan saja,pasti kita tambah dekat " Ucap Bu Hana kala itu di rumah kediaman orang tua Alek.


Saat itu orang tua Alek mengundang keluarga Mahendra makan malam bersama untuk membicarakan kerja sama bisnis di bidang properti.


Lupi tidak ikut saat itu dengan alasan sedang membantu Lusi mengerjakan tugas sekolah.


Ibu Hana hanya memperkenalkan Raisa sebagai putrinya,sedangkan Pak Mahendra diam saja ketika Bu Hana menjodohkan Raisa dengan Aleksander permana.


"benar sekali jeng,apalagi anak kita juga sudah saling kenal di sekolah,Alek pasti suka ya dengan Raisa yang sangat cantik ini." Raisa tersenyum bahagia mendapat pujian dari Mutia mamanya Alek.


"Lupi juga tidak kalah Ma,putri Pak Mahendra dengan Mendiang Rahayu,betulkan Pak Mahendra ?" Arya Permana tersenyum menatap Mahendra.


Mahendra membalas senyum Arya dengan anggukan kepalanya,Lalu menatap ke arah Hana dan Raisa yang tiba tiba wajahnya berubah masam.


"Oh iya,,Mama Lupa Pa,Kalau Mahendra juga punya dua putri dengan mendiang istrinya dulu,... Sudah lama tidak bertemu Lupi dan adiknya,Pasti Lupi sudah gadis juga ,apa dia satu sekolah juga dengan Alek?kenapa dia tidak ikut?"Sederet pertanyaan dari mulut Mutia membuat rasa tidak nyaman untuk Hana dan Raisa.


"Tadi Lupi juga kami bawa,tapi dia tidak mau katanya mau membantu Lusi mengerjakan tugas sekolah,padahal Raisa berharap lho kalau Lupi juga ikut tadi,iya kan Pa,sayang?" Hana tersenyum sangat di paksakan.


Dia melihat ke arah Mahendra dan juga Raisa.


Tante Hana aku kira tante benar benar baik dan penyayang seperti yang tante perlihatkan di depan orang tuaku.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2