Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
41


__ADS_3

Alek menendang angin kosong dengan kuat,


"Argh!" Alek melangkah dengan gerakan terus menendang udara.


Kenapa Lupi,kenapa kamu selalu menyembunyikan masalahmu, tahu kah kamu Lupi,aku lebih sakit melihat mu seperti ini.


Trang! sebuah kaleng kosong melayang ke udara dan terhempas ke beton semen.


Alek benar benar frustasi dengan sifat Lupi hari ini.


Kenapa aku bisa menjadi seperti ini,tidak lolos seleksi pun aku tidak masalah,toh perusahaan papa ku tidak ada yang meneruskan nantinya,Hah,kenapa aku menjadi bodoh tidak bertanya sama papa tentang acara ini,sekolah ini kan punya kakek yang sekarang di urus oleh papa,bodoh benar benar bodoh


Alek mengutuk dirinya dalam hati,Alek masuk ke dalam mobilnya melaju perlahan keluar dari halaman parkir dan membelah jalanan menuju rumahnya.


Tiba di sebuah rumah bernuansa gold Alek memasuki halaman rumahnya yang sangat luas,terlihat mamanya sedang asyik dengan majalah elektroniknya.


"Hei,anak mama,ada apa dengan wajahmu,tadi mama sudah dengar dari anak buah papa,katanya salah satu temanmu mundur sebagai pemenang, why ?"Mutia mengangkat dua tangannya sebagai isyarat meminta penjelasan dari Alek.


"Bagaimana keadaan papa Ma,apa papa masih pusing ?" Alih alih menjawab pertanyaan mamanya Alek justru menanyakan papanya yang tidak bisa hadir sebagai juri di karenakan pusing mendadak.


"Papa sudah baikan " Suara renyah pria yang di cari Alek berjalan ke arahnya sambil membawa laptopnya.


"Oh syukurlah,aku hampir gila hari ini gara gara mikirin kesehatan papa dan juga karena Lupi " Alek tanpa sadar mengucapkan kalimat tersebut.


"What !?" Mutia dan Permana bersamaan.


Lagi lagi aku menjadi orang paling bodoh, kenapa mulut ku tidak terkontrol,apa karna aku benar benar gila.


Alek menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Maksudnya tadi aku mikirin papa jadi tadi tidak konsen,gitu ma, pa,"


"Oh,sebenarnya papa juga belum tuli,walaupun kemarin papa tiba tiba sakit kepala" Permana meledek Alek.


"Tadinya mama mengira mama yang salah dengar pa," Mutia juga ikut meledek Alek.


"Sudah ma,kasian anak kita lihat wajahnya, ha ha ha..." Permana dan Mutia sama sama tertawa.


Alek pergi meninggalkan orang tuanya yang sedang menggodanya,melangkah menuju kamarnya.


"Pa,tadi Alek sebut nama Lupi kan ?" Mutia meyakinkan dirinya.

__ADS_1


"Iya,papa dengar juga begitu,kenapa Ma," Permana mengambil koran,membaca halaman depan.


"Bukankah Lupi itu anaknya teman Papa? "


Permana menatap serius istrinya.


"Teman papa banyak ma,dan yang namanya Lupi juga banyak " Permana kembali melanjutkan aktivitasnya membaca koran.


"Maksud mama Lupi anaknya tuan Mahendra Pa,yang di kabarkan tenggelam di lautan " Mutia mengingatkan Permana.


"Oh iya.... benar Ma,tapi tidak mungkin anak kita lagi jatuh cinta sama anaknya teman Papa,kalau benaran papa sih tidak melarang " Permana bicara sambil membaca.


"Papa pernah ketemu dengan Lupi sekarang Pa,Mama sudah lama tidak berjumpa dengannya,"Permana menjawab Mutia hanya dengan gelengan kepala.


"Besok mama mau ke tempat Hana ya pa,mumpung mama masih libur kerja"


"Terserah mama saja,besok papa ada klien yang ingin bertemu,sebenarnya papa juga mau liburan,tapi klien papa hanya ada waktu besok saja" Permana melenguh


Keheningan terjadi di antara keduanya,mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing masing.


Keesokan harinya,Mutia meluncur ke tempat Hana,dia sengaja tidak memberitahu jika dirinya akan bertamu,Mutia ingin memberi kejutan untuk Hana.


Mobil Mutia sudah berada di depan rumah megah bernuansa putih awan.


Klik! pintu terbuka,


"Nyonya Hana ada?" Tanya Mutia pada seorang asisten rumah tangga.


"Ada Nya,sebentar saya panggilkan ," Art membungkuk hormat.


Mutia duduk di kursi teras sambil melihat halaman rumah yang di tempati Hana,


Dulu Rahayu masih hidup halaman ini di sulap menjadi taman bunga yang cantik,sangat memanjakan mata,enggan masuk ke dalam rumah kalau sudah melihat bunga bunga cantik milik Rahayu.


"Mutia....!" Hana kaget bercampur senang melihat kedatangan Mutia, keduanya berpelukan,mereka memang sudah lama tidak bertemu secara langsung.


"Kenapa tidak kasi kabar kalau mau kerumah, " Hana membawa Mutia masuk ke ruang tamu .


"Kalau di kasi tau itu bukan kejutan namanya he he.." Mutia terkekeh.


"Ayo duduk Muti,ke sini sendirian saja " mengambil bantalan sofa dan meletakkan di pangkuannya.

__ADS_1


"Ada sama sopir hi hi..." Mutia berkelakar.


"Ha ha... Muti malah ngajak bercanda, " Hana juga tertawa.


"Mas Permana hari ini mau bertemu klien, aneh ya,hari libur klien pengen ketemu " Mutia menghela nafasnya.


"Anak anak pada kemana "Mutia mengedar pandangannya tidak terlihat seorang pun yang berada di rumah selain Hana dan para pembantunya.


Wajah Hana menjadi tegang otaknya seketika bekerja mencari jawaban yang tidak di curigai oleh Mutia.


"Minum dulu Muti,"Hana memberikan jus jeruk pada Mutia yang di bawa oleh pembantunya bersama snack.


"Raisa tadi pagi lagi ke studio untuk latihan pemotretan judul film," Kata Hana lagi.


"Oh,sekarang Raisa sudah jadi bintang film? hebat dia bekerja sambil sekolah ," Mutia menyedot jus dengan pipet.


"Kalau anak anak Hana yang lainnya ?" Maksud Mutia adalah Lupi dan Lusi.


"Kemarin Raisa menang dalam ajang pemilihan bakat di sekolah,dan dia langsung di terima di sebuah kontrak film remaja,kalau Lupi,pergi dari rumah ini aku tidak tahu apa alasannya,dia tidak suka melihat Raisa Muti,sebenarnya aku yang ingin pergi dari rumah ini,tapi aku punya tanggung jawab besar dengan perusahaan Mas Mahendra dulu,dan juga Rumah ini," Hana merubah riak wajahnya sesedih mungkin.


"Apa aku salah Muti kalau aku menegur Lupi jika dia berbuat salah,aku hanya ingin Lupi bersikap lunak dengan Raisa,kasih sayang ku pada mereka sama Mutia," Hana kembali merangkai kata kata yang pas seakan akan dirinya yang menjadi korban.


"Yang sabar Jeng Hana, semua ibu di dunia ini menginginkan yang terbaik untuk anaknya,meskipun mereka bukan anak kandung kita," Mutia memberi penghiburan.


"Aku sudah berkali kali membujuk Lupi pulang ke rumah ini,tapi dia tetap tidak mau, dia ingin kembali jika aku dan Raisa angkat kaki dari rumah ini, hiks " Akting kembali di mainkan oleh Hana,perannya cukup bagus,hingga Mutia menjadi iba melihatnya.


Mutia mengelus pundak Hana dengan lembut,


"Sabar Han,berdoa saja semoga Lupi cepat sadar jika dirinya telah bersikap salah dengan mu ..." Ucap Mutia.


"Hu...hu...hu.... ,apa seorang ibu sambung tidak pantas untuk menyayangi seorang anak tirinya Muti, sampai saat ini aku belum tahu letak salahku di mana hu...hu...hu...." Drama menangis haha huhu di tampilkan oleh Hana.


Sukses! Batin Hana berkata.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi

__ADS_1


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2