
Lamunan Lupi buyar Lusi masuk ke kamar Lupi dan langsung berbaring di dekatnya.
"Kenapa Dek,main nyelonong saja " Lupi mengusap pipi adiknya.
"Kangen ayah kak..." Suara manja Lusi membuat hati Lupi tersentuh,Lupi merubah posisinya duduk dan memeluk Lusi.
"Kakak juga Dek,kakak juga kangen ayah," Lupi membelai rambut panjang adiknya.
Andai ayah tidak merayakan kemenangan tender saat itu pasti ayah masih ada
setidaknya kami masih punya ayah yang sayang walaupun ibu Hana tidak sayang dengan kami
"Kak,kita ke makam ibu,aku juga kangen ibu"Rengek Lusi.
"Kakak mandi dulu ya,tadi lagi malas mandi hehe..."
"Kakak..... gadis jam segini belum mandi,pasti kakak di marahi ibu nanti suka molor mandi " Lusi memasang wajah cemberut.
"Baru juga hari ini dek kakak molor," Lupi mengambil handuk berjalan ke arah kamar mandi yang dekat dengan dapur.Kamar mandi di rumah Ratmi hanya satu saja.
Selesai dengan kegiatan mandi Lupi mengenakan pakaian berbahan kaos lengan panjang.
Semenjak Lupi tidak bekerja lagi menjadi tukang kebersihan kota dan taman,Lupi lebih fokus dengan kegiatan belajarnya.
Lupi juga mengisi waktunya menjadi guru les di komplek tempat tinggal Ratmi,
Lupi memberikan ilmu secara cuma cuma,Lupi dan juga memberikan teknik ilmu bela diri untuk pemula.
Dengan begitu Lupi bisa lebih leluasa menambahkan pendalaman ilmu bela diri lagi untuk adiknya.
Lupi dan Lusi mengguna motor kesayangannya yang sudah banyak jasa dalam hidupnya.
Lupi menolak ketika Mahendra yang mengganti namanya menjadi Ahen berniat membelikan sebuah motor baru.
Apalagi mobil,Lupi tidak mau ada anggapan miring tentangnya.
Empat puluh menit,kakak beradik itu sudah sampai di pintu masuk menuju pemakaman ibu mereka.
__ADS_1
Mereka melihat mobil yang di parkir kan di sana,Mereka tidak menghiraukan,paling paling mobil orang yang berziarah juga seperti itu pikiran Lupi.
Lupi mematikan mesin motornya,turun dari motor Lupi mengandeng tangan Lusi berjalan bersama membawa karangan bunga.
Langkah mereka tertahan ketika mereka melihat ada orang seperti sedang menyiram pusara ibu mereka.
"Siapa itu kak,kenapa dia ada di makam ibu," Tanya Lusi.
"Entahlah," Lupi membawa adiknya berjalan perlahan melihat siapa yang sedang membersihkan pusara ibu mereka.
Langkah mereka semakin dekat,dengan mengendap mereka berjalan untuk melihat siapa orangnya.
Tek! Sebuah ranting patah terinjak oleh Lusi,orang yang sedang membelakangi juga terkejut,dia membalik badannya.
"Ayah !" Lusi orang yang pertama kali berteriak ketika melihat wajah orang yang berziarah,
Mahendra mengusap wajahnya,ternyata dia lupa memasang topeng tipis yang sering dia gunakan.
Sudah terlanjur Mahendra tidak dapat menyembunyikan lagi wajah asli dari putrinya.
"Apakah ini benar ayah kami, ayah yang sudah lama menghilang? "Lupi masih ternganga,sementara Lusi sudah memeluk ayah yang dia rindukan.
"Tidak....ayah ku sudah lama meninggal,tidak mungkin ayahku bisa selamat dari amukan ombak di lautan" Lupi menggelengkan kepalanya dirinya belum percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Mahendra mengerti pikiran anaknya saat ini,Mahendra merogoh sesuatu dari saku tas yang dia letakkan di dekat pusara istrinya.
Mahendra mengenakan topeng yang sehari hari di gunakan di saat dirinya di kenal oleh anaknya sebagai Om Ahen.
"Om Ahen,jadi selama ini ayah menyamar," Air mata lupi sudah jatuh ketika melihat sosok orang yang dia rindukan masih tegak berdiri.
"Ayah,kenapa ayah tega membohongi kami yah,kami sakit selama ayah tidak ada,kami menderita yah....ayah jahat !" Lupi memeluk ayahnya erat.
Tidak di sangka di hari ulang tahun ibunya dia dan Lusi bisa bertemu perisai mereka.
"Maaf kan ayah nak,ayah terpaksa melakukan ini,tadinya ayah ingin ke tempat kalian,ingin mengajak kalian ke suatu tempat,dan di sanalah ayah akan membuka topeng ayah,tapi ibu kalian berkehendak kalian tahu di saat sekarang" Mahendra bergantian mencium kepala kedua putrinya.
"Ayah ke sini ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk ibu kalian,nah sekarang kalian berdua,ucapkan selamat ulang tahun untuknya " Lupi dan Lusi menyiram pusara ibu mereka dengan air yang sudah di doakan,menaburi dengan bunga warna warni,dan meletakkan karangan bunga di pusara.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Bu,ini aku kakak Lupi,sekarang kakak anak sulung ibu merasa terharu,ayah yang sudah lama hilang kini sudah kembali,apakah ibu juga bisa seperti ayah?" Mahendra menitikkan air matanya mendengar putri sulungnya bicara dengan nisan istrinya.
"Selamat ulang tahun ibu,ini aku Lusi,aku belum sempat mengenal ibu dengan baik saat itu,yang aku kenal hanya ibu Hana,tapi aku tidak pernah di peluk sama ibu Hana,Lusi pernah dengar dari teman teman Lusi,kalau mereka setiap hari mendapat peluk dan cium dari ibu mereka,tapi aku tidak pernah mendapatkannya Bu," Lusi terisak tangan terus menabur bunga di atas tanah pusara ibunya.
"Hanya ayah dan kakak Lupi yang sering melakukannya Bu,,tapi setelah itu aku kehilangan lagi orang yang sering memeluk Lusi,sedih bu rasanya,hanya kakak yang aku punya saat itu,sekarang ayah sudah kembali bu,aku ingin ibu seperti ayah kembali pada kami "Lupi memeluk erat adiknya,Mahendra memeluk kedua putrinya membelai rambutnya dengan lembut.
"Nak,sekarang kita masuk mobil ayah saja ya,motor kamu titip di sana nanti pulangnya baru ambil lagi "Lupi dan Lusi menyetujui perkataan ayahnya.
Mereka masuk ke dalam mobil Mahendra sengaja tidak mengajak satu orang pun orang orang kepercayaannya pergi bersamanya saat ini,tapi setelah kedua putrinya mengetahui penyamarannya,Mahendra menelpon Jefri dan Rio untuk bertemu di tempat yang sudah di tentukan.
"Apakah Om Jef juga tahu penyamaran ayah selama ini?" Tanya Lupi dari belakang.
Mahendra tersenyum matanya terus fokus dengan jalanan,
"Iya....Jefri dan Rio sama sama orang yang tahu tentang penyamaran ini,kecuali sekretaris kantor ayah." Mahendra menjelaskan dengan Putri sulungnya.
"Kenapa Om Jefri jahat menyembunyikan ayah dari kami,?"Lusi terlihat marah Lupi juga memendam sesuatu yang bisa Mahendra jabarkan.
"Kakak...adek....Om Jefri tidak jahat,karena dia ayah tahu segalanya tentang kalian,tentang Hana dan juga Raisa" Suara Mahendra bergetar menyebut nama Hana.
"Tapi kenapa ayah tidak telepon kami kalau ayah masih hidup,pasti kami tidak menderita selama sebelas bulan yah," Protes Lupi pada ayahnya.
"Karena ayah mau kalian tetap selamat dari gangguan pihak mana pun,ayah tidak mau Hana menyakiti kalian lagi " Mahendra menyeka air matanya rasa bersalah selama sebelas bulan menghilang dari putrinya teramat dalam.
"Jadi ayah tahu kalau ibu Hana jahat?" Tanya Lusi.
"Iya,ayah juga tahu,ayah belum bisa berkutik saat itu untuk menyelamatkan kalian,hingga tragedi jatuhnya kapal telah membuka jalan pikiran ayah untuk membalas Hana secara perlahan " Mahendra menepikan mobilnya di sebuah pantai di mana tempat itu adalah tempat favorit Rahayu semasa masih hidup.
\=\=\=\=\=\=\=
**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris
~jangan lupa Like dan komen ya,
Biar author lebih semangat lagi
~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...
__ADS_1
~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**