
Setelah mandi Lupi menepati janjinya duduk di samping Lusi yang sudah menunggu di ruang multifungsi Bu Ratmi.
"hmmm, Wangi " Lusi mengendus hidungnya ke arah Lupi.
"iya dong..... siapa dulu he...he...he..." Lupi mengibaskan rambutnya yang masih lembab.
"Kak Lupi,tadi ada orang tampang preman mampir di warung," Lupi mengalihkan pembicaraan Lupi.
"Hem ?" kening Lupi berkerut lalu memandang Bu Ratmi,
"Itu preman di kampung sini Neng,kami di sini tidak ada yang berani,kecuali Pak Haji.Sifatnya memang begitu,suka mampir ke warung orang,kalau tidak minta uang dia ngambil apa yang dia suka di warung tanpa ada niat membayarnya." Bu Ratmi menarik napas.
"Tadi ibu sempat takut melihat neng Lusi tidak gentar dengan preman tadi,namanya Parjo. " Lupi melebarkan senyumnya mengusap rambut Lusi perlahan.
Tentu saja Lusi berani Bu,Lusi sudah berlatih ilmu bela diri semenjak dirinya berusia PAUD, hanya sekarang kondisi tidak tepat untuk Lusi mendalami lagi.
Lupi sudah sejak lama mendalami Ilmu bela diri,Ibunya Rahayu sengaja mendatangkan pelatih terhebat untuk mendidik Lupi menjadi wanita yang kuat dan tangguh.
Niat ibunya tidak sia sia Lupi mendidik adiknya secara sembunyi di kamar ketika Hana dan Raisa tidak ada di rumah.
Itulah sebabnya Lupi tidak terlalu khawatir Jika Lusi pulang sekolah berjalan kaki sendiri.
Yang Lupi takutkan adalah Lusi bertemu dengan Hana karna bisa saja Hana menggunakan Lusi sebagai alat kelemahan Lupi.
"Orang seperti itu harus di beri pelajaran Bu Ratmi,kita jangan lemah,begitu kakak Lupi bilang,iya kan kak ? " Lupi mengangguk
"Berlatihlah sendiri di halaman belakang rumah,Kamu masih perlu pendalaman yang bersifat khusus." Lupi bicara pelan.
maksudnya apa ya.... kenapa Lupi mengatakan Lusi masih perlu pendalaman khusus.
Bu Ratmi mengorek wajah dengan kukunya,raut wajahnya masih menampakkan kebingungan.
"Kak Lupi beli motor baru ya ,tapi kok bisa nomor platnya sama ?" tanya Lusi.
"Tidak.... itu motor legen kakak,kemarin rusak,kakak bawa ke bengkel," Lupi menjelaskan cuma sepotong saja.
"Wahhh....! Pasti banyak keluar duit motornya tu ....sudah kinclong lagi ..." Lusi memperhatikan motor dari dalam rumah.
Bu Ratmi juga ikut ikutan seperti yang Lusi lakukan,
Tuk! kepala Lusi terbentur ke dagu Bu Ratmi.
"Auw !kepalaku...! iiihhh ! Bu Ratmi kenapa ikutan Lusi juga,kepala Lusi kesedug! " Lusi mengelus kepalanya sendiri.
"Dagu ibu juga terbentur sama kepalanya Neng Lusi,kita sudah satu sama deh" Bu Ratmi memegang dagunya.
Lupi senyum pura pura tidak lihat apa yang sudah terjadi dari balik pintu.
*
Di sebuah rumah megah,Raisa duduk di sofa di sebelah Hana.
"Ma, Lupi sekarang jadi tukang kebersihan," Raisa membuka percakapan.
"Terus? ?" Hana mengangkat bahunya.
"Bukan apa apa sih,Alek juga ikut membantu Lupi Ma,tadi mereka seperti pasangan yang sedang berbahagia hu hu hu...." Raisa menghentakkan kedua kakinya ke lantai.
umphuuuhhh !
Hana mengeluarkan napas panjangnya,
"Oh....anak mama cemburu ceritanya hi hi hi...." Hana tertawa menggoda.
"Iiihhh mama.... bantuin dong....gimana caranya supaya Alek dekat sama aku,bukan sam Lupi " Raisa cemberut.
"Kita harus bisa membawa Lupi pulang ke rumah ini lagi,supaya Alek bisa main ke rumah dan kamu bisa berdekatan dengan Alek." Hana memberi ide.
Raisa tersenyum,ide mamanya memang masuk akal.
__ADS_1
"Ide cemerlang Ma.... pantesan mama bisa dapetin Papa Mahendra,mama pintar deh " Raisa mengacung dua jempol pada Hana.
"jelas dong Mama paling pintar,Mahendra yang pemilik perusahaan saja masih bisa Mama tipu,apalagi anaknya ha...ha..ha..." Hana tergelak.
"Kalau Lupi tidak mau bagaimana Ma,? "Raisa menyangga dagu dengan jempol dan jari telunjuknya.
"Bego' jangan di pelihara Rai,gunakan otak kamu untuk berpikir bagaimana caranya..." Hana ketus.
"Sepertinya aku punya ide Ma,.... bagaimana kalau kita telpon tantenya Lupi untuk merayu dia pulang ke rumah bersama kita lagi...."ujar Raisa.
"Ide bagus,apakah tidak mencurigakan nanti kalau baru sekarang kita telpon,Lupi dan adiknya kan sudah lebih dari sebulan tidak tinggal bersama kita lagi " Hana merenung.
"Sini aku bisik mama caranya supaya tantenya Lupi tidak curiga " Raisa membisikkan sesuatu di telinga Hana.
Hana melebarkan senyumnya.
"Bagaimana Ma..." tanya Raisa.
"Boleh juga.... kamu tau tempat tinggal Lupi yang sekarang ?" Tanya Hana.
"Nggak Ma..." Raisa menggeleng
"Haahhh.....! " Hana melenguh
"besok aku bisa minta bantuan Melani dan Sinta mengikuti Lupi pulang sekolah "ujar Raisa lagi.
"Terserah kamu sajalah, Mama masih ada urusan." Hana berlalu berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Hana membuka semua laci lemari termasuk lemari pakaian Mahendra.
Hana menemukan sebuah kotak kecil mirip seperti kotak Laptop.
Hana mencoba membuka ternyata kotak tersebut menggunakan kode.
Berbagai upaya sudah Hana lakukan masih belum berhasil juga.
Huh! sepertinya aku harus bisa membujuk Lupi pulang ke rumah ini lagi.
Hana menyimpan kotak tersebut kembali seperti semula.
Drrrt! Drrrt! Hp Hana bergerak pengaruh dari getaran dari Hp.
[Ya,Halo Pram ]
Hana berbicara dengan seseorang yang di sebutnya Pram.
[Bagaimana Hana... apakah sudah kamu temukan semua surat yang kita perlukan?]
[Aku sedang mencari Pram,ada kotak yang tidak bisa aku buka,aku tidak tahu kodenya Pram ,]
[Kenapa tidak kamu hancurkan saja Hana ! Kita harus bergerak cepat,sebelum pengacara yang menangani kasus Mahendra datang,]
[Tidak bisa juga Pram! benda itu sangat kokoh,! ]
[Arrrgh! Begitu saja kamu tidak bisa Hana?! Kamu benar benar tidak bisa di andalkan! tubuhmu saja yang menarik tapi otakmu tidak cerdik !" ]
[Apa kamu bilang! seharusnya kamu berpikir! yang memberikan kamu fasilitas yang nyaman itu siapa hah! apartemen! mobil mewah! handphone mahal,belum lagi rekening gendut kamu,siapa yang memberikan kamu itu semua kalau bukan aku ! " ]
Hana mematikan hpnya
"Brengsek kamu Pram,lihat saja nanti,aku akan menarik semua uang di rekening mu " Hana menggenggam erat hpnya.
[Jeff,besok kamu siapkan semua dokumen penting perusahaan, besok ada pertemuan dengan pemimpin perusahaan dari negeri China!]
Hana menelpon Jeffri yang sudah bertahun tahun bekerja di Kencana Group.
[Baik nyonya !] suara Jeffri dari seberang telepon.
Tut.... tut.... tut..... !
__ADS_1
Tut....tut....tut.....!
Hana menelpon Lupi,tidak di respon oleh Lupi.
"Arrrggh ! , Lupiiiiii ! kamu benar benar merepotkan ku saja ! " Hana membanting peralatan make up dengan sekali kibasan tangannya.
Brak! treng! Semuanya berserakan di lantai,Hana menghempaskan badannya di kasur empuk.Kedua tangannya menutup wajahnya frustasi.
"Mungkin jeffri tau kode rahasia kotak tersebut,aku akan menelponnya sekarang "
Hana mengambil benda pipih di sampingnya.
[Jeff,bisa ke kamar ku sekarang ! ada hal penting !"]
Hana mematikan hpnya.
Dengan buru buru Jeffri menaiki tangga atas menuju kamar nyonya besar kedua.
Jeffri yang dulu menginap kantor sekarang sudah berpindah ke rumah megah atas permintaan Hana .
Jeffri sendiri belum menikah usianya sudah menginjak tiga puluh tahun.
Jeffri mengabdi sejak dari Rahayu masih hidup.Jeffri juga sebagai sopir pribadi Rahayu yang sekarang di lanjutkan sebagai sopir pribadi Hana.
Tok! tok !tok!
Jeffri mengetuk pintu,terdengar suara sahutan dari dalam menyuruh masuk jeffri membuka pintu kamar.
Matanya terbelalak melihat peralatan make up yang berserakan di lantai.
"Tutup pintunya Jeff!" Hana memberi perintah,Jeffri menurut saja.
"Duduklah di situ !" Hana menunjukkan sofa di kamar yang sangat luas.
Jeffri duduk seperti kerbau yang di tusuk hidungnya,
Hana mengambil kotak yang berada di dalam laci rahasia Mahendra,dan membawanya ke hadapan Jeffri.Kening Jeffri berkerut,dirinya pernah melihat Tuannya Mahendra membuka kotak tersebut dengan sidik jari Lupi dan Lusi.
"Kamu tau kode rahasia kotak ini ?" Hana melingkarkan lengannya ke leher Jeffri dari belakang.
Keringat Jeffri bercucuran aroma wangi parfum Hana menusuk hidungnya.
Jari jemari Hana sengaja membelai rahang jeffri.
Oh Tuhan.... tolonglah hamba Mu ini dari godaan setan yang sedang bergentayangan
Jeffri berdoa dalam hati,jeffri menggeleng,
"Maaf nyonya,saya tidak tahu kode kotak ini " Jeffri menahan napasnya.
"Jika kamu bisa membukanya aku akan memberimu sebuah pelayanan yang spesial,di jamin kamu akan ketagihan,di tambah lagi uang Sebesar dua ratus juta,kamu mau ?" Hana masih membelai wajah Jeffri lembut.Tangannya membuka kancing baju Jeffri.
Jeffri semakin gelagapan Hana mengecup leher jeffri lembut mengendus kan hidungnya ke telinga jeffri.
Napas Jeffri tersengal ada benda mengeras memenuhi celananya tatkala Hana memainkan ****** di dadanya.
"aahhhhhh....!" Jeffri mendesah Hana semakin bernafsu mendengar ******* Jeffri.
Hana terus melancarkan aksinya.
"Kamu senang? katakan padaku apa kode rahasia kotak itu," Hana ******* bibir Jeffri.
"Umphhh! Sidik jari Lupi dan Lusi nyonya " Jeffri tersengal.
"Bagus sayang.... kamu bisa mendapatkan hadiah dariku kapanpun kamu mau,kalau kamu bisa membawa kedua anak itu ke sini dan memintanya meletakkan jari mereka" Hana kembali beraksi.
"Mamaaaaa !" Raisa mematung melihat adegan dewasa di kamar Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1