Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
35


__ADS_3

Hari ini Lupi di bantu Ratmi mengemas barang barang masuk ke dalam rumah,untuk mengangkat barang yang berat Ratmi meminta bantuan tetangga.


Rumah Ratmi menjadi pusat tontonan tetangga sekitar,mereka merasa senang melihat ada yang peduli dengan Ratmi.


"Bersyukur ya Bu,dapat bantuan dari orang baik,"Salah seorang warga yang membantu Ratmi dan Lupi merasa senang.


"Iya Bu,ini rejeki Lupi dan Lusi,saya mah yang ikut menikmatinya saja" Jawab Ratmi terkekeh.


"Mereka berdua berkah buat Bu Ratmi,mereka anak yang baik,jika ibu memperlakukan mereka dengan baik mereka tidak akan pernah melupakan Bu Ratmi,"


"Mereka sudah saya anggap anak kandung saya sendiri Bu,kehadiran mereka yang sudah membuat saya bermakna,anak kandung saya saja pergi meninggalkan saya,karna tidak mau hidup susah ," Mata Ratmi berkaca mengingat anaknya yang sudah lama tidak menelponnya.


Bagaimana kalian di sana nak,semoga kalian baik baik saja,dan menjadi orang baik juga seperti Lupi dan Lusi.


Batin Ratmi.


"Ambil hikmahnya Bu," Tetangga Ratmi mengelus punggungnya.


Ratmi tersenyum ikhlas,tidak terasa hari sudah sore,semua barang sudah tertata rapi,ruang multifungsi Ratmi kini sudah terisi satu set sofa empuk,Layar TV berganti dengan ukuran besar,kipas angin besar terpasang di dua sudut ruangan.


"Ya ampun! aku lupa!" Lupi berteriak sambil menepuk jidatnya.


"Kenapa Neng,?"Ratmi keheranan.


"Lupa ijin sama pengawas Bu hari ini," Lupi terduduk lemas,


"Lho,bukankah waktu itu tuan siapa ,Jef,Jef,Jefri ya kalau tidak salah,Neng Lupi gak usah kerja lagi ,"


Lupi menghembus napasnya kasar,


"Lupi tidak nyaman saja Bu di perlakukan istimewa seperti ini,Lupi takut ada yang bergosip tentang Lupi,"


"Gosip miring ya tetap ada Neng,jika kita tidak pernah melakukan hal buruk tidak akan ada orang yang percaya dengan gosip miring" Ratmi menyodorkan segelas air putih untuk Lupi.


Lupi meneguknya hingga tandas,lelahnya hari ini membuat kerongkongan Lupi mengering.


["Kami sudah menemukan alamat tempat tinggal Lupi Nyonya," ]


[Bagus, berita apa yang kamu peroleh hari ini]


[Menurut info yang saya dapat dari warga Nona Lupi mendapat kiriman fasilitas barang mulai dari televisi,tempat tidur dan masih banyak lagi nyonya]


[apakah kamu tahu,siapa yang memberinya fasilitas barang tersebut]


[Mereka tidak tahu nyonya,tadi saya sempat mendengar warga menyebutnya Ahen Nyonya"]


[Kamu cari lagi informasi sedetail mungkin]


[Baik nyonya]


Tut,


Panggilan berakhir,seorang pria duduk di dalam mobil terparkir tidak jauh dari rumah Ratmi,dia keluar dari mobil berjalan menuju warung Ratmi yang hanya terbuka sedikit saja.


"Permisi,"

__ADS_1


Ratmi bergegas dari arah ruang,


"Mau cari apa Mas,"Tanya Ratmi.


"Ada rokok xxxx Bu,sekalian juga saya mau pesan kopi susu,"


"Oh,ada mas,sebentar ya saya bikin kopinya dulu," Ratmi meraih rokok yang tersusun dalam etalase kecil, lalu meracik minuman untuk pria yang sudah duduk di bangku warungnya.


Pria itu mengangguk,ekor matanya menelisik ke arah dalam rumah Ratmi.


"Ibu sendiri di sini" Si pria basa basi.


"Tidak,saya bersama anak saya mereka sedang tidur di ruang tengah,kecapekan mas," Ucap Ratmi.


"Berapa orang bu anaknya,mereka sudah kerja ya,"


"Anak saya ada dua orang,mereka belum bekerja,masih sekolah,Mas dari mana" Ratmi balik bertanya.


"Oh.....,saya datang dari blok A,mau cari tenaga kerja untuk bagian marketing Bu,"


"Bisa terima anak sekolah tidak ?" Lupi tiba tiba muncul,saat badannya terasa lelah Lupi membaringkan badannya di kasur lantai yang baru saja di pasang depan TV.


Antara mengantuk dan lelah,Lupi mendengar ada orang memanggil dari depan warung,Ratmi sedikit tergesa berjalan untuk melihat.Lupi akhirnya merebahkan lagi badannya,hembusan angin di hasilkan kipas listrik membuatnya merasa nyaman.


Matanya kembali segar ketika mendengar jika ada yang memerlukan tenaga kerja,sontak dia bangun,berlari menuju ruang kecil yang di sulap warung Ratmi.


"Kamu sudah bangun Nak," Tanya Ratmi, pria yang sedang menyeruput kopi susu menatap seksama wajah Lupi.


"Putrinya Bu?" Pria tadi meletakkan gelasnya ke piring kecil,sekilas dia melihat foto Lupi yang di kirim Hana.


"Dia...." ucapan Ratmi tercekat


"Iya..."Lupi memotong kalimat Ratmi.


"Hm,masih sekolah?" Pria tadi menyulut rokoknya sengaja berlama lama bicara dengan Lupi.


"Masih," Lupi singkat.


"Sekolah di mana?kelas berapa?" Pertanyaan seperti orang sedang interview saja,Lupi tetap menjawabnya dengan tenang.


Belum habis rokok yang di sulut sudah di matikan,menyeruput kopi lagi,mengambil sebatang rokok lagi.


Kopi belum habis tapi sudah habiskan rokok sebanyak empat batang


Batin Lupi.


Diam diam pria tadi mengambil foto lupi bersama Ratmi dengan ponselnya.


Setelah menyimpan ke galery pria tadi membayar rokok dan minumannya,dia pun pamit pergi.


"Huhhhh, "Lupi mendengus,


"Kenapa Neng," Ratmi kembali memanggilnya Neng.


Bu Ratmi seperti orang pemain film saja,aktingnya bisa lolos di babak semifinal,hanya Ratmi yang tahu Neng dan Nak yang di lontarkan dari mulutnya bisa berubah kapan saja dan di mana saja.Bahkan Neng dan Nak bisa keluar menyesuaikan keadaan tersempit sekalipun.

__ADS_1


"Tadi Bu Ratmi sedang nyimpan Lupi dalam lemari ya... " Tanya Lupi penasaran dengan pribahasa yang tidak di mengerti oleh Ratmi.


"Kapan,?" Ratmi menggeleng,


"Tadi pas orang tadi lagi wawancara " Lagi lagi Lupi membingungkan Ratmi.


"Apa tadi yang di namakan wawancara Neng,?" Ratmi bengong.


Hah bu Ratmi ini kenapa,sudahlah mungkin tadi lidahnya tergelincir saja,tapi aku nyaman dengan sebutan Nak,


"Bu,masak apa kita hari ini," Lupi mengalihkan pembicaraan,


"Ibu masih bingung Neng,tadi ibu sudah beli juga sayuran di pasar,eh tadi di tambah lagi sama tuan Ahen,sampai penuh kulkas," Ratmi mengorek dagunya.


"Nanti Aku saja yang masak ya Bu,... Ibu mandi saja dulu " Lupi bersemangat.


"Ibu tutup warung dulu Neng," Lupi hanya mengangguk,Ratmi melenggang menuju ruang kecil yang berada paling depan.


Lupi membuka kulkas yang hari itu juga baru di beli oleh Ratmi,isinya memang penuh oleh buah ,sayuran dan daging.


Lupi memilih brokoli,sosis dan udang sebagai menu masakannya.


Untuk urusan dapur Lupi memang cekatan memasak memang hobinya,namun dirinya bercita cita menjadi seorang pengacara handal,karena dirinya ingin mengambil kembali hak warisnya yang sudah di rampas oleh Hana.


Empat puluh menit Lupi berkutat di dapur kecil milik Ratmi,hidangan ala Lupi sudah terhidang di atas meja.


"Sudah selesai ! " Lupi melepas celemek menggantung di dinding.


Ting! notifikasi pesan masuk ke hp Lupi


(Selamat malam Lupi,apa kamu sudah makan)


(Baru selesai masak Ayah )


mengirim foto hidangannya di atas meja.


(Sepertinya masakan mu lezat,ayah jadi lapar)


(Tunggu ayah kemari Lupi bisa masak untuk ayah,Lupi mandi dulu ya yah...)


Lupi meletakkan Hpnya di atas meja sofa ruang multifungsi.


Ayah,aku rindu ayah... aku sudah masak kesukaan ayah dulu


\=\=\=\=\=\=\=\=


~**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2