
["Mel,kita ke taman yuk!lagi gabut nih"] Raisa mengirim pesan pada melani,
[jemput... ]
Balasan dari Melani
"Uh.... Melani seperti ratu saja,gak apalah demi Bestie," Raisa mengoceh sendiri,dia pun membalas pesan Melani dengan kata ok.
Pimp! pimp! Raisa menyalakan klakson mobil di rumah Melani ternyata sudah ada Sinta.
Mereka berdua masuk ke mobil yang di bawa Raisa.
"Rai, mimpi apa kamu semalam tiba tiba hari ini ngajak ke taman? " Melani bertanya sambil memainkan hpnya.
"Suntuk Mel di rumah gak ada kawan," Raisa bicara datar
"ha..ha... kalau sepi gak ada kawan kenapa Lupi kamu suruh pergi ..." Raisa malas menanggapi ucapan Melani,
Di belakang Sinta memberi kode pada Melani kalau teman mereka sedang tidak mau bercanda.
Melani memilih melihat ke depan jalan,dirinya bersenandung ria
"Na...na..nana nana.... hem hm..hm."
Tidak tau lagu apa yang di senandung oleh Melani,yang penting tidak kaku,pikir melani.
Ada kamu aku comblang sama si Gino yang suka nana nini kaya kamu tu Mel,Bila perlu aku beli pelet untuk lengket kan kalian berdua.
Akhirnya mobil sampai di taman,Raisa memarkirkan mobilnya,
"Rai... bukankah itu mobil Alek? "Sinta menunjukkan sebuah mobil berwarna hitam mengkilat,
"Iya... kayanya itu mobil Alek,ternyata dia di sini juga, " Raisa senang karena dirinya akan bertemu dengan Alek di taman.
Orang bilang kalau berjodoh tidak akan pergi ,
Raisa memperhatikan pengunjung yang berlalu lalang.Tidak terlihat batang hidung Alek.
Mereka bertiga memilih duduk di bangku dekat dengan pohon besar,Mata Raisa masih terus mencari keberadaan Alek.
"Eh,itu Alek kan ? kenapa dia bersama tukang sapu? ets! apakah itu Lupi? " Melani menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Raisa dan Sinta juga tidak kalah terkejut bukan masalah ada Lupi di sana,Tapi Lupi yang sedang membersihkan taman dan di bantu oleh Alek.
Jika tante mutia tahu ini pasti dia akan marah besar pada Lupi,Ah tidak ! tante Mutia tidak boleh mengenal wajah Lupi sekarang,aku harus cari cara lain menyingkirkan Lupi.
"Rai,kenapa kamu diam saja,kenapa kamu tidak hampiri saja Lupi,ini kan kesempatan kamu buat jatuhin dia ," Melani mengapi api Raisa.
"Kalau aku jatuhin dia sekarang sama juga aku jatuhin Alek bego ! " Raisa kesal dengan ide Melani.
"Benar Mel,coba lihat,Alek dan Lupi happy banget, cocok deh mereka " Mata Raisa melotot.
""Maksud kamu aku tidak cantik,dan tidak pantas untuk Alek! gitu !" Sinta menunduk tidak berani menatap Raisa.
"Bukan begitu maksudnya Rai,.... aku cuma....." Sinta Terbata
"Cuma mau bilang Lupi jauh lebih cantik dari aku! gitu maksud kamu ! hah! kenapa sih Mel kamu ajak dia segala, bikin mood ku rusak saja hari ini !" Raisa meninggalkan Sinta dan Melani, mereka saling tatap,
"Rai...! Tunggu ! aku minta maaf, !" Sinta berlari mengejar Raisa,di ikuti oleh Melani.
"Gara gara kamu sih,pake bilang Alek sama Lupi serasi "Melani juga menyalahkan Sinta.
"Tapi faktanya memang begitu Mel," Sinta membela dirinya.
"Iya,... tapi jangan di depan Raisa juga ngomongnya, sekarang yang susah siapa,? aku juga kena imbasnya gara gara kamu !" Melani masih terus menyalahkan Sinta.
"Rai...! tunggu dulu Rai....! "Melani berlari dengan sangat kencang.
__ADS_1
Napasnya ngos ngosan,. "Aduh Rai.... tunggu dong.... ah!...hah!...ehuuuhhh...! capek !" Raisa berdiri membelakangi pintu mobil,
"Kenapa kalian berdua masih ikutin aku ! Sudah puas bilang aku jelek ! ha! " Sergah Raisa
"Aku gak ada ngomongin kamu jelek Rai,kamu tu cantik,gak ada yang ngalahin kecantikan kamu,"Sinta meluruskan kesalahpahaman Raisa.
"Benar kah ?" Raisa tersanjung,dia melihat wajahnya di kaca spion mobil.
"Benarlah Rai,kami kan sahabatmu,tidak mungkin kami bohong, iya kan Sin,?" Melani melirik Sinta,
"Iy..iya Rai,.... kamu tu yang paling cantik di sekolah kita... " Raisa memainkan rambutnya
"Ya jelas dong.... aku yang paling cantik."
Untung punya jurus meyakinkan Raisa melunak,kalau tidak bisa naik taksi pulangnya
Huuhhhh,
Melani mengelus Dada.
Sementara Di taman Alek giat membantu Lupi membersihkan Taman,Sesekali mereka tertawa dengan gurauan.
"Alek,apa orang tua mu tidak marah melihat kamu seperti ini ?" Sambil bekerja Lupi bertanya.
"Tidak mungkinlah mereka marah,aku bisa bicara kalau aku ikut kegiatan sosial bersih bersih," Ujar Alek santai.
"hmmm," Lupi singkat.
"Dah selesai ! kita pulang !" Alek menepuk kedua tangannya.
Lupi pergi ke toilet,mengganti bajunya yang kotor,Menyimpannya ke dalam kantong kresek.
Tadi seperti suara Raisa, apa dia melihatku ya ? ah biar saja,paling paling besok aku di buli,
"Lek,Bisa antar aku ke bengkel gak,aku mau lihat motor ku " Senyum Alek mengembang baru kali ini dia mendengar Lupi minta di antar tanpa ada di tawar.
"Tentu saja Lupi.... aku akan mengantarmu kemana kamu pergi,asal jangan pergi jauh dariku... " Alek membungkukkan badannya layaknya seorang sopir pribadi Lupi.
Perasaan apa ini ! tidak !tidak mungkin ini yang di namakan berdebar jatuh cinta, jatuh tersandung baru betul hi hi hi
Gumam Lupi,senyumnya tersembul sedikit saja dari sudut bibirnya.
Tiba di bengkel Lupi tidak melihat motornya,yang ada hanya sebuah motor yang tampak baru Lupi tidak yakin kalau itu motornya.
Karna penasaran Lupi turun dari mobil di ikuti oleh Alek, dari belakang.
"Bang,motor butut yang kemarin masuk sini mana ya....?" Lupi masih memandang motor yang sudah terparkir.
"Atas nama Lupi ya ?" Lupi menganggukkan kepalanya,
Montir masuk ke dalam mengambil sebuah lempengan seng baja,
Itukan plat motorku
Lupi bergumam.
Montir memasang plat ke motor yang dari tadi terparkir
"Bang, apa betul ini motor saya,kenapa di permak habis begini... kemarin saya cuma minta di cek yang tidak bisa hidup mesinnya saja ." Montir masih serius memasang plat yang juga di ganti dengan lempengan seng baja baru.
Antara senang dan sedih Lupi melihat motornya seperti motor baru lagi
Habislah tabunganku untuk bayar motor keluar dari salon,
Alek melihat Lupi yang murung,dia tahu pasti lupi memikirkan biaya servis motornya.
"Bang,tolong motornya di buat seperti baru lagi ya,jangan ada yang kurang, ini nomor hp saya Bang, " Ucap Alek saat itu pada montir yang sedang mengecek kerusakan motor Lupi.
__ADS_1
"Bisa, tapi selesainya besok siang," kata montir itu ramah
"Gak apa apa Bang,kalau ada seorang perempuan atas nama Lupi,jangan bilang ya Bang motor ini saya yang bayar,nanti terserah abang mau bilangnya gimana." Montir itu mengangguk setuju.
"Ini mbak Lupi,motornya sudah bisa di bawa pulang,kalau masih ada yang belum beres,atau pun rusak kembali dalam jangka waktu satu bulan Mbak Lupi antar saja motornya ke sini, " Lupi masih termangu.
"Biayanya berapa Bang...." Suara Lupi pelan
"Motor Mbak Lupi mendapat kupon hadiah servis gratis," ucap montir.
"Hah.....! Abang serius ....!? " Lupi ternganga.
"betul mbak," Montir tersenyum, Alek mengacungkan jempolnya dari belakang Lupi.
"Lek,gak nyangka ya motor legen ku yang butut ini bisa mendapat kan servis gratis ," Lupi membelai motornya yang seperti baru keluar dari dealer.
"Terima kasih orang baik,semoga kebaikanmu ada yang membalasnya," mata Lupi berkaca kaca.
Terima kasih juga Lupi,dirimu orang yang sangat baik,sepantasnya kamu selalu mendapat kebaikan
Lupi meninggalkan Alek yang masih di bengkel dengan alasan Alek masih mau mengganti oli mobilnya.
Sampai di rumah Lupi di sambut adiknya yang satu hari di tinggal pergi.
"Kakak.....!" Lusi menghambur memeluk kakaknya yang masih berbau keringat.
"Dek,kakak masih bau Dek,kakak mandi dulu ya...." Lupi mengelus rambut adiknya.
Lusi mengikuti Lupi dari belakang,Biasanya hari minggu Lupi selalu bersama Lusi,mengajaknya bermain bersama.
Hari ini Lusi dari pagi sampai sore hanya bermain sendiri,Bu Ratmi sibuk mengurus warungnya.
Terkadang Lusi juga membantu Bu Ratmi melayani pembeli seperti kejadian di siang hari, ada seorang pria bertampang preman memesan kopi, dia juga membeli rokok dan mengambil lima gorengan.
Orang tersebut hendak pergi begitu saja,tanpa membayar,Lusi yang sudah hapal dengan harga yang di pasarkan Bu Ratmi menagih uang dengan pria yang tampangnya menyeramkan.
"Om! tunggu ! Bayar dulu Om ! " Lusi tanpa ada rasa takut,Bu Ratmi sudah melarangnya,tapi Lusi tidak peduli dengan larangan Bu Ratmi.
"Heh anak kecil ! kamu berani menagih uang dari ku hah !" Matanya melotot tampangnya semakin menakutkan.
"Om tadi sudah pesan minuman Kopi dua gelas,rokok Om ambil dua bungkus,gorengan ambil lima,harusnya Om bayar dulu,Bu Ratmi ambilnya pakai uang Om,bukan gratis seperti Om ," Lusi berkata tanpa takut sedikit pun.
"Lusi,Sudah Nak,biar kan saja...ayo kita masuk ," Bu Ratmi meraih tangan Lusi.
"Jangan di biasakan Bu orang seperti ini, nanti aku adukan sama kakak,biar dia tahu terima kasih ,!" Lusi mengancam preman itu.
"Ha ...ha ... siapa kakak mu! biar aku habisi sekali kamu dan juga kakakmu itu !" ancam pria tersebut
"Kalau Om tidak mau bayar,aku akan teriak kalau Om sudah mencuri,sekarang Om lihat mobil polisi itu yang sedang patroli." Lusi tanpa takut menunjukkan sebuah mobil polisi yang sedang berjaga.
"Pak poli.." Ucapan Lusi terpotong.
"stop! stop! jangan panggil polisi,besok aku bayar,berapa jumlah uang yang harus aku bayar," Preman tersebut langsung meredakan teriakan Lusi.
"Tidak bisa besok Om,sekarang,! kalau tidak mau,aku teriak panggil polisi itu, Pak....!" Kembali ucpannya tidak berlanjut.
"Baiklah ! baik... berapa yang harus aku bayar,"
Preman itu menjadi takut dengan ancaman Lusi.
"Tujuh puluh ribu, kalau Om tidak bayar semuanya,aku akan teriak," ancam Lusi lagi.
Pria tersebut menyodorkan dua lembar uang bernilai lima puluh ribu,Bu Ratmi menyodorkan kembalian dengan tangan gemetar.
"Ayo nduk kita masuk" Bu Ratmi menarik tangan Lusi.
"Lain kali kalau sudah ambil barang bayar Om,jangan cari gratisan saja ," Lusi berjalan pergi meninggalkan preman yang masih berdiri di pinggir jalan.
__ADS_1
Siapa anak itu,wajahnya sangat familiar,
Gumam preman jalanan.