Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
26


__ADS_3

Hana terpikir tentang suaminya Mahendra yang di nyatakan hilang di lautan sebelas bulan yang lalu.


Stafnya jefri mengatakan jika mereka terbawa ombak laut dalam keadaan terpisah.


Tatapan matanya dan juga suaranya sangat mirip dengan Mahendra,hanya wajahnya saja yang jauh berbeda,tidak mungkin itu Mahendra dia sudah lama tiada.


Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Hana terus terpikir tentang Mahendra.


" Mari silakan masuk", seorang karyawan wanita membukakan pintu untuk rombongan para petinggi perusahaan.


Hana mengayunkan langkahnya,di ikuti oleh Ahen,Rio,Jefri dan beberapa orang lainnya.


Ahen memandang ruangan yang dulu pernah dia tempati,semuanya sudah berubah,tidak ada lagi photo keluarga dirinya dengan istri pertamanya.


Photo kedua putrinya juga tidak ada lagi di ruangan tersebut,hanya tertinggal photo Presiden dan wakilnya yang melekat di dinding.


Di meja kerja Photo Hana sendiri,di sebelahnya photo Raisa.


Kamu telah merubah segalanya Hana


Ahen menetralkan kembali perasaannya,tidak ingin Hana curiga dengan dirinya.


"Apakah itu photo putri anda Nyonya Hana ?" Ahen berpura pura menanyakan Photo Raisa.


"Iya betul tuan Ahen, " Hana sangat bangga memamerkan photo Raisa.


Dia memandang Rio yang masih berdiri di samping Ahen.


"Apakah dia putra anda Tuan Ahen?" Tanya Hana.


"Saya...." Rio tidak dapat melanjutkan ucapannya,


"Iya betul Nyonya Hana,dia Rio,Putra Pertama saya,dan adiknya ada dua orang putri yang satu remaja dan satu masih berusia Sekolah Dasar " Ahen merangkul pundak Rio,tangannya mencekal pelan lengan Rio.


"Rio,Duduklah ," Ahen memberi titah.


"B-baik T- tuan,eh! Pak,ets,Ayah," Rio jadi gugup,pasalnya Ahen tidak ada memberi tahu sama sekali kalau dirinya akan di katakan sebagai putra pura pura oleh Ahen.


ah tuan Ahen,kenapa tidak bilang dari tadi malam kalau mau bersandiwara begini


"Kenapa memanggil Tuan ?"Hana mengerutkan keningnya.


"Dia terbiasa ikut menghadiri rapat penting seperti ini,karena dia anak yang sopan yang pintar menyesuaikan tempatnya" Ahen tersenyum licik ke arah Hana.


Anak yang tampan, lebih baik aku akan memperkenalkannya dengan Raisa


Gumam Hana.

__ADS_1


"Baiklah bisa di mulai sekarang Tuan Ahen meeting hari ini ?" Hana masih dengan sifat yang di buat buat.


"Silakan " Ahen tersenyum, duduk mendengar persentase dan saham yang akan di tanam dengan oleh PT.RAMANA Group,


Ahen menyimak dengan sangat teliti setiap persentase yang di bacakan oleh sekretarisnya Hana.


Meeting pun berakhir dengan asisten kantor Hana, Pram menyerahkan perjanjian kontrak kerja sama antar Ramana group dan kencana group.


"Terima kasih tuan Ahen,semoga kerja sama kita terjalin dengan baik ,"Hana kembali berjabat tangan dengan Ahen.


Senyum Ahen yang sulit di artikan merekah di bibir pria bertopeng silikon wajah.


"Nyonya Hana,maaf sebelumnya,saya masih ingin berkeliling di kota ini untuk beberapa hari, apakah ada orang kepercayaan Nyonya yang bisa menemani saya,? saya tidak hapal dengan seluk beluk kota ini " Ahen memang cerdik,Hana langsung menoleh ke arah jefri.


"Dia yang akan membawa rombongan Tuan berkeliling kota ini,Dia Jefri, dulu dia adalah asisten saya di kantor sekaligus asisten pribadi saya,


Tapi sekarang asisten di kantor sudah di gantikan oleh Pram,sementara Jefri saya jadikan asisten pribadi saya di luar kantor" Hana menjelaskan secara detail tentang jabatan Jefri dengan Ahen.


Karena kamu ingin berdekatan dengan Pram Hana,makanya jefri kamu alihkan tugasnya.


Ahen bergumam.


Hubungan Hana dan Pram di ketahui semenjak Jefri di pindahkan ke rumah Hana,


Jefri tanpa sengaja melihat mereka melakukan ritual dewasa di kamar yang di tempati selama dirinya berada di kantor.


"Baiklah jef,anda temani saya berkeliling kota ini untuk beberapa hari ke depan,karena sekretaris saya akan pulang besok pagi " Ahen menjabat tangan Jefri ,sandiwara di depan Hana sangatlah sempurna.


"Jef,bawalah Tuan Ahen berkeliling,nanti Tuan Ahen bisa menginap di apartemen saya"


"Saya akan menginap di hotel saja Nyonya Hana," Ahen tersenyum datar.


"Baiklah Tuan,selama anda di sini anda bisa bertandang ke rumah saya dan putri saya...dan bawalah putra anda" Ucap Hana.


Ahen tersenyum mengangguk,dia sudah memahami niat Hana ingin memperkenalkan Rio dengan Raisa.


Ahen keluar dari gedung yang sudah mengagungkan namanya,Jefri membuka pintu mobil mempersilahkan Ahen masuk bersama Rio dan sekretarisnya.


"Jef,aku ingin melihat sekolah Lupi dan Lusi, "


Suara teduh Ahen yang sedang merindukan putrinya sangat kentara.


Jefri melirik jam di pergelangan tangannya,pukul dua belas kurang lima belas menit,Lusi biasanya baru keluar dari gedung sekolah dan menunggu jemputan.


Mobil sampai di depan sekolah Lusi,jefri menepikan mobilnya dari jarak tidak terjauh dan tidak terlalu dekat dengan sekolah.


Ahen mengedarkan pandangannya,sekolah sudah mulai sepi,terlihat beberapa orang murid yang menunggu orang tuanya menjemput di tempat khusus dan di awasi oleh satpam sekolah.

__ADS_1


Ahen menatap seorang gadis kecil rambut di kepang dua,pita rambut berwarna pink poni depan yang tebal sedang menikmati es krim.


"Maaf tuan,sebaiknya Tuan menahan niat tuan untuk saat ini,saya tau bagaimana perasaan tuan,tapi saat ini bukan waktu yang tepat tuan," Tangan Ahen tertahan,matanya berembun selama sebelas bulan dirinya mengasingkan diri di Kota A.


Ahen menurun sedikit kaca mobil,bibirnya bergetar, " Lusi.. " Jefri menghela napasnya tidak tega sebenarnya melihat tuannya hanya menatap putrinya dari kejauhan.


Jefri turun dari mobil,berjalan mendekati Lusi,


"Om jefri ? " Lusi memekik girang memeluk Jefri,


"Om Jefri kemana saja kenapa tidak bantu Lusi sama kakak Lupi?" Jefri tertegun,


Keadaan yang memaksa Om seperti ini Lusi.


Jefri mengelus rambut Lusi,


"Mau Om antar pulang tidak ?" Lupi berpikir sejenak


"Nanti Lusi di cari sama Pak haji yang sering bawa Lusi pulang Om," Jefri menatap Lusi,lalu berjalan ke arah satpam .


"Pak,kalau ada yang cari Nona Lusi bilang dia sudah di jemput sama Omnya, ini kartu nama saya Pak," jefri menyerahkan sebuah kartu dengan Satpam.


Satpam itu pun berjalan ke arah Lusi.


"Nona Lusi,apakah Non Lusi orang ini ?" Sebagai orang yang bertanggung jawab besar menjaga keselamatan anak anak di sekolah,Satpam tersebut harus yakin jika anak anak harus sudah mengenal dengan baik orang yang ingin menjemputnya.


"Dia Om jefri Pak,dia orangnya baik," Lusi polos.


"Maaf Pak Jefri,jika saya meragukan Bapak,kami harus meyakinkan kalau anak ini sudah kenal bapak atau belum demi keselamatan anak anak Pak," Jelas satpam.


"Saya paham pak,karena tanggung jawab bapak begitu besar,justru saya berterima kasih pada Bapak karena benar benar menjalan tugas dengan baik " Jefri tersenyum ramah.


"Lusi,mari Om antar,Om sudah titipkan pesan sama Satpam, " jefri mengandeng tangan Lusi.


"Da...da... Pak satpam...." Lusi melambaikan tangannya,di balas juga oleh Satpam tersebut.


"Lusi duduk dekat Bapak ini ya... dia orang baik kok,dia orang sering tolong Om juga" Jefri membukakan pintu belakang dekat dengan dengan dirinya.


Sementara Rio dan sekretaris Ahen berada di jok paling belakang.


"Wah rame benar yang ikut Om jefri,emang Om jef mau lamaran ya.... " Lusi duduk di dekat ayahnya yang tidak Lusi kenali.


Serentak mereka tertawa,Ahen langsung merangkul Lusi dirinya tidak bisa menahan tangannya untuk tidak memeluk putrinya.


"Tawa Om ini mirip seperti ayah Lusi,tangannya juga hangat seperti tangan ayah " Lusi meraba tangan ayahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2