
Lupi terus melajukan kuda besinya menerobos ramainya kendaraan yang berlalu lalang.
Hingga di perempat jalan menuju rumah warisan ayahnya Lupi berbelok ke arah yang berlawanan.
Ada sesak di dadanya menoleh ke arah jalan menuju rumah yang baru saja dia tinggalkan.
"Kak .. kenapa kita berbelok ke sini kak.... rumah kita kan di sana " Lusi ingin tau jawaban dari kakaknya.
Andai saja saat itu Lupi tidak sedang mengendarai motornya sudah pasti dia akan berteriak memanggil ibu dan ayahnya.
Andai saja ayah tidak pergi untuk selamanya kakak tidak akan membawamu meninggalkan rumah itu dek,kakak juga berat membawamu di tempat yang tidak nyaman untukmu,tapi kakak tidak tega melihatmu di hukum oleh ibu hana dan juga Raisa.
"Untuk sementara kita cari kontrakan dulu ya dek,kamu mau kan kita hidup tidak bergantung dengan ibu Hana dan juga Raisa?" Lusi diam saja di belakang Lupi,dia pasrah saja mau di bawa kemana oleh kakaknya.
Raisa dan juga ibu Hana aku akan mengambil kembali hak ku dari tanganmu
"iya kak,Lusi akan nurut sama kakak" Lusi sebenarnya bukanlah anak pembangkang,dia selalu menurut apa saja yang di katakan oleh Lupi.
Di sebuah warung kecil Lupi membawa adiknya turun,dirinya tahu jika Lusi sangat haus,
"ayo dek kita minum sebentar ya... kamu pasti lapar"
Lusi mengangguk setuju pipinya memerah karena sengatan matahari,ada perasaan bersalah di hati Lupi telah membawa adiknya hidup menderita bersamanya.
Sebenarnya Lupi bisa saja menitipkan Lusi pada tante Mirna adik dari ayahnya Lupi yang berada di bandung.
Tetapi telah berjanji dengan mendiang ibunya yang meninggal karna di tabrak lari oleh orang yang tidak bertanggung jawab di saat Lusi berusia tiga tahun.
"Lupi sayang..... rawatlah adikmu dengan kasih sayang,jangan bentak dia... peluklah dia jika dia menangis..... didiklah dia menjadi anak yang kuat sepertimu "
__ADS_1
Kata kata itu masih terasa hangat di telinga Lupi walaupun saat itu dirinya baru berusia sebelas tahun.
"iya bu.... Lupi akan jaga Lusi tapi ibu janji ibu akan kuat dan ibu akan sembuh" Lupi memegang kedua tangan Rahayu yang dalam keadaan sekarat.
Lusi adik kecilku begitu singkat dirimu melihat wajah ibu,begitu cepat ibu pergi meninggalkan dirimu yang masih memerlukan pelukan ibu
"kak,kenapa kakak menangis?kakak sakit ya ?"
"Dingin.... tangannya juga dingin tidak panas,tapi kenapa kakak nangis ?"
Lusi meletakkan telapak tangannya di kening Lupi
Ah... manis sekali dirimu adikku... ternyata jiwa peduli mu sudah ada sejak dini
"ah nggak apa apa... mata kakak kayanya kemasukan debu deh.... coba kamu tiup dek "
Gadis kecil melakukan apa yang di perintahkan kakaknya.
Pemilik warung yang dari tadi memperhatikan dua wanita beda usia itu mencoba menanyakan arah tujuan mereka.
"Eh ibu.... iya buk.... saya baru ke sini,saya mau kontrakan sederhana sekitar sini bu,biar dekat mengantarkan adik saya ke sekolah "
Pemilik warung itu mengamati anak perempuan kecil yang matanya mulai sayu,sepertinya dia sudah mengantuk
Sepertinya gadis ini dan adiknya orang jauh,duh...kasian sekali anak kecil itu,apa mereka anak yatim ya
"Oh... kalau dari sini belok ke arah kanan neng,ada kontrakan papan masih satu yang kosong,pemiliknya pak haji yang rumahnya bercat hijau itu neng "
Ibu pemilik warung itu menunjukkan sebuah rumah bernuansa hijau muda
__ADS_1
"Terima kasih buk.... apa pak hajinya ada buk jam segini?"
"Kalau siang begini pak haji jarang di rumah neng,tapi nanti sebentar lagi dia lewat,eh... itu adiknya sudah mengantuk... tidurkan di sini dulu neng,nanti biar ibu yang panggilkan pak haji kalau beliau lewat"
Ternyata di dunia ini masih ada orang baik Terima kasih Tuhan semoga rejeki ibu ini di lancarkan .Amin
"terima kasih buk,saya jadi merepotkan ibu..."
Lupi membaringkan adiknya di atas tempat rebahan yang terbuat dari papan.
"Jangan sungkan neng,panggil saja saya bu Ratmi"
Bu Ratmi memperkenalkan dirinya
"Saya Lupi bu,kalau adik saya ini namanya Lusi,dia berusia sembilan tahun,adik saya bersekolah di sana Bu
Sedangkan saya sekolah kelas XII di tidak jauh dari tempat adik saya bersekolah"
Bu Ratmi mangut mangut
"Orang tuanya kemana neng? maaf ya neng Lupi ibu mah suka kepo orangnya"
Lupi berusaha untuk tersenyum jika di akui hatinya benar benar terluka jika ada yang bertanya tentang orang tuanya.
Lupi yang dulunya sangat bahagia ketika ayahnya ingin menikah lagi,berharap Lusi bisa mendapatkan pelukan hangat setiap waktu dari Ibu sambungnya.
Awalnya Hana memang baik,selalu memberi keadilan dengan Raisa,Lupi,dan juga Lusi.
Semua berubah ketika Mahendra sering bertugas ke luar kota,otomatis Hana lah yang menghandle perusahaan milik Mahendra yang dulu juga pernah di urus oleh Rahayu.
__ADS_1
Hana akan berubah baik jika Mahendra di rumah,tidak jarang Lusi selalu mendapat ancaman jika berani mengadu dengan ayahnya.