
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan,dan hari ini adalah di mana pengumuman kelulusan ujian sekolah untuk Lupi dan teman temannya.
Lupi sudah mengenakan seragam sekolahnya untuk mengambil amplop kelulusan,
jantung Lupi dak dik duk,bukan tidak yakin dengan prestasinya selama ini.
"Pi...."Lupi menoleh ke arah suara.
Alek berjalan sedikit berlari ke arah Lupi,
"Lupi... kamu sekarang susah banget di hubungi kenapa sih,kemarin aku ke rumah Bu Ratmi,tapi kamu tidak ada" Keluh Alek.
"Ada keperluan apa kamu ke rumah?" bukannya menjawab Lupi malahan bertanya pada Alek.
Dengan berat Alek mengeluarkan napasnya.
"Ada waktu sebentar untuk ku,please ! sebentar saja "Lupi hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
Mereka pun berjalan menuju halaman belakang sekolah,tempat di mana paling jarang di kunjungi.
Sebuah pohon besar dan tempat duduk dari beton semen di situlah mereka berdua bersembunyi dari sinar matahari.
"Mau bicara apa kamu sama aku,sepertinya penting banget,"Lupi menatap pagar pembatas lingkungan sekolah mereka yang hanya dengan hitungan jam dirinya akan menjadi alumni.
"Pi,, aku mengenalmu dari kamu masih tinggal di rumah megah sampai sekarang,dari pertama kali aku melihatmu pacarku tidak terhitung jumlahnya,,,"
"Aku tidak pernah menanyakan berapa banyak pacar mu,berapa usia mu,berapa mobilmu,bicara langsung pada intinya,waktu mu tidak banyak" Lupi berkata ketus mendengar Alek yang bicaranya seperti orang membaca dongeng.
"Aku sayang kamu Lupi,aku mencintai kamu,bahkan aku takut kehilangan kamu,bahkan aku hampir gila di saat kamu sengaja menjauhi ku,salah kah aku mencintai mu,,Lupi katakan pada ku..."
Alek memegang jemari tangan Lupi.
Ada desir aneh di hati Lupi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alek,kata yang Lupi nantikan.
Sebelumnya Lupi berpikir tidak satupun pria yang bisa jatuh cinta padanya,kini dirinya merasa seperti di atas awan.
Hatinya di penuhi bunga bunga yang bermekaran,
"Pi...apakah kamu mau menjadi kekasih ku?"
Suara Alek membuyarkan lamunan Lupi.
"Alek,,,,"Raisa datang dan langsung bergelayut manja di lengan Alek.
Tatapan matanya menjadi tajam ke arah Lupi melihat Alek yang masih menggenggam jemari Lupi.
"Eh,,, maaf aku permisi,,"Secepatnya Lupi menarik tangannya,berlari tanpa tujuan.
Matanya pun berembun,langkahnya semakin cepat tanpa memperdulikan suara Alek yang berteriak memanggilnya.
Bug! Lupi menabrak Aldi satu satunya sahabat Lupi yang berjenis kelamin pria.
"Auw! "Lupi mengelus keningnya terbentur rahang Aldi.
"Eh Lupi,di cariin kemana saja sih,?lalu muncul seperti kereta api main tabrak saja,,eh bentar...kamu nangis ya...kamu kenapa?"Aldi memutar badan Lupi memeriksa keadaannya.
"Lupiiii......!" Jenita dan Weni juga muncul dari arah lain,keduanya berlari menghambur memeluk sahabat dari bangku sepuluh.
__ADS_1
"Jen,,Weni...hiks hiks..."Lupi menangis di saat mereka berpelukan.
Weni dan Jenita juga ikutan menangis yang mereka pikir Lupi menangis karena hari ini adalah terakhir mereka datang ke sekolah ini lagi.
"Hiks,,hiks,,aku juga sedih banget setelah ini kita akan berpisah hiks hiks" Mendengar kalimat Jenita tangis Lupi makin meraung.
Aku jauh lebih sedih lagi para sahabatku belum juga bisa menjawab pertanyaan dari Alek aku juga harus kehilangan kalian ternyata menyukai dalam diam itu sakit
"Hu...hu....hu....aku juga kepengen nangis,lalu aku siapa yang meluk" Aldi mendekap badannya sendiri.
"Tiang tuh peluk,lagian kamu laki laki kok mintanya di peluk"Weni membulatkan matanya.
"Ih...iya...sorry...habisnya kalian pake cuekin aku segala" Aldi pura pura merajuk.
"Sini aku peluk....."Lupi tersenyum merentangkan kedua tangannya.
"Gak ah...malu,aku kan laki laki Lupi,"
"Hi hi....aku kira setengah "Lupi menutup mulut dengan tangannya,sedihnya perlahan hilang melihat tingkah Aldi.
"ih...Lupi jahat deh..."Aldi cemberut.
Jenita dan Weni tertawa terbahak,Aldi selalu saja membuat ulah yang bisa menciptakan tawa di antara mereka.
"Iya ..sorry deh...canda kok.."Lupi menampakkan giginya yang putih.
"eh,kepala sekolah datang,yuk kita sana !"Lupi dan sahabatnya berjalan menuju gerombolan yang lain di halaman sekolah.
Kata pengantar serta kesan dan pesan dari kepala sekolah sudah selesai kini pembagian amplop sudah di mulai.
Terdengar teriakan dari siswa yang sudah menerima amplop tanda mereka lulus dan berhak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Di ikuti oleh Jenita.
"Aku juga lulus! yes!"
Perlahan Lupi membuka amplopnya di baca secara perlahan matanya pun berkaca kaca.
"Pi,kamu lulus kan,masa bintang kelas tidak lulus"Jenita nyengir.
"Iya...aku lulus"Lupi perlahan.
Mereka kembali berpelukan,tidak lupa mereka berfoto bersama sebagai kenangan kelulusan mereka.
"Kita rayakan di mana nih kelulusan kita "?Tanya Aldi.
"Aku tahu...yuk ikut aku...nanti aku yang traktir "Para sahabat Lupi kegirangan mendengar tawaran dari Lupi.
Empat orang tersebut segera tancap gas ke tempat yang sudah Lupi sebutkan alamatnya.
Mereka membelah jalanan yang di penuhi oleh para murid yang sedang berpawai merayakan kelulusan mereka.
Di sebuah cafe yang biasa di kunjungi para remaja menjadi pilihan mereka.
Lupi membiarkan sahabatnya memilih meja mana yang akan mereka tempati.
Setelah deal dengan pilihan sebuah meja paling depan dekat menghadap sang penyanyi di pilih oleh Jenita yang paling resek.
__ADS_1
Mereka asyik menikmati minuman dingin sambil mendengarkan lagu yang di bawakan oleh penyanyi cafe,mereka juga ikut menyanyikan syair lagu.
Tak terasa sudah satu jam waktu mereka habiskan di sana,Jenita juga mengabadikan kebersamaan mereka dengan berfoto lagi.
Cekrek! cekrek! cekrek! berbagai pose mereka ambil,keceriaan terpampang di wajah mereka.
Lupi pun telah melupakan sejenak tentang perasaannya yang terpendam.
Sudah waktunya ke empat sahabat itu berpencar pulang ke tempat tinggal masing masing,Lupi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Hingga tiba di rumah Ratmi Lupi melihat sebuah motor besar sedang terparkir di depan warung Ratmi.
Ada juga orang pake motor elit mau mampir di warung bu Ratmi,biasanya jenis motor biasa saja
Pikir Lupi dalam hati.
Lupi membelokkan motornya menuju halaman samping rumah Ratmi tempat biasanya Lupi memarkir motornya.
Lupi turun setelah mematikan mesin motor berjalan masuk dari pintu dapur.
"Kak,,kakak di tungguin sama teman kakak di depan" Lusi menghampiri kakaknya.
"Siapa " Lupi mengangkat sedikit wajahnya
"Lihat saja di depan,lagi ngomong sama bu Ratmi"Jelas Lusi lagi.
"Laki laki atau perempuan" Tanya Lupi sambil menyimpan helmnya di rak yang sudah di buat oleh tukang panggilan Ratmi.
"Laki laki" Lusi santai sambil menikmati sosis bakar.
"Ganteng gak "Lupi mengambil satu buah sosis dari piring Lusi dan mengunyahnya.
"Setengah "Lusi kesal dengan pertanyaan kakaknya yang tidak langsung melihat secara langsung.
"Hem?" Lupi menautkan kedua alisnya tanda meminta penjelasan lebih detail.
"Yang namanya laki laki itu ganteng kakak,kalau laki laki itu cantik beda cerita,huh lemot banget sih"
Lusi memiringkan badannya takut si kakak bertanya lagi.
"Bagi dong sosisnya,gitu aja marah,kakak kan cuma nanya orangnya ganteng atau tidak,gitu doang"
"seribu persen ganteng,"Lupi menoleh dengan mulutnya masih menggigit sosis.
"kamu,,,,"
\=\=\=\=\=\=\=
**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris
~jangan lupa Like dan komen ya,
Biar author lebih semangat lagi
~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...
~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**
__ADS_1
Mohon maaf 🙏jika ada tulisan dan bahasa yang tidak berkenan,
Jika ada nama tokoh dan kejadian yang sama author juga minta🙏 maaf cerita ini hanyalah fiktif belaka.