Destiny RiBay

Destiny RiBay
Rihanna dan Bayu


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Sstt, kamu sudah aman. Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini," ujar lelaki itu menenangkan."


Bayu meraup tubuh Hanna ke dalam rengkuhannya. Ia mengusap pelan tubuh gadis itu yang bergetar. Dia jadi teringat kalau mereka pernah di posisi seperti ini juga, dulu.


"Lebih baik kita duduk dulu, kamu mau kan?" tanya Bayu lembut.


Gadis dalam rengkuhannya mengangguk. Kemudian Rihanna di bawa ke sebuah meja dimana para anak berpengaruh di sekolahnya berkumpul. Dalam hati Hanna berkecamuk, antara ingin kabur atau tetap mengikuti langkah lelaki itu.



"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Bayu khawatir.


Hanna menoleh, kemudian menggeleng, "I'm Ok." jawabnya.


Bayu tersenyum kecil, sambil mengusap pelan rambut gadis di sampingnya.


Sementara itu, Zyan yang masih ribut dengan Lia tidak menyadari kalau Hanna sudah di bawa pergi oleh sang sahabat.


Alam dan Radit tidak bisa melepaskan pandangan dari pemandangan di depan merekA. Dimana Bayu sedang memperlakukan seorang gadis dengan begitu lembut. Padahal mereka tahu, kalau selama ini Bayu tidak pernah begitu kepada perempuan.


"Siapa dia, Bay?" tanya Radit.


Bayu hanya diam saja, tak mau menanggapi pertanyaan dari radit. Dia lebih memilih memberikan air minum kepada gadis itu, "Pelan-pelan saja," ucapnya.


Hanna menjauhkan gelas berisi air putih dari bibirnya, "Sudah, terima kasih." lirihnya.


Bayu meletakkan kembali gelas itu di atas meja dan duduk di samping gadis itu. Radit dan Alam yang merasa diabaikan, hanya bisa mendesah.


"Sebenarnya siapa gadis itu? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Alam kepada Radit. Alam menggedikan bahu, tak tahu.


Mereka kembali melihat ke arah gadis itu yang kini sudah lebih baik, dari pada tadi pertama kali lihat.


Zyan yang sudah lelah bertengkar dengan Adik tiri Hanna, langsung mencari keberadaan gadis itu. Hatinya mencelos, saat melihat Bayu yang sedang duduk di samping gadis-nya.


Tangannya mengepal erat. Ada rasa tidak rela saat melihat kedekatan Hanna dan Bayu. Dia mengabaikan perasaanya, dan memilih mendekat ke arah dimana mereka berkumpul.


"Long time no see, Mas Bro! Gila ... makin kinclong aja tuh muka. Ha-ha-ha," Radit menyambut kedatangan Zyan, kemudian mereka saling berpelukan.


Zyan sesekali melirik ke arah tangan Bayu yang berada di bahu gadis itu. Rahangnya mengetat tidak suka, ingin rasanya dia menjauhkan Hanna dari si teman.


"Gimana kabar, lo? Gue denger-denger, lo sekarang lagi sibuk sama dunia fashion design? Bisalah, nanti design baju buat gue, iya nggak, Dit?"


"Nanti lo chat gue aja, pengin yang kaya apa. nanti gue bikinin." jawabnya.


Bayu yang menyadari keberadaan Zyan, langsung berdiri menyambut kedatangan sang. sahabat.


"Apa kabar, bro?"


"Baik. Kenapa dia ... ada di sini?”


"Gue tadi cuma bawa menepi kesini. Lagian dia juga nggak nyaman berada di tempat seperti,"


"Oh, begitu. Makasih, yah, Bay. Udah bawa dia kesini."

__ADS_1


"Kayak sama siapa saja."


"Gue boleh nanya sesuatu sama Lo, nggak?"


"Tanya saja!"


"Gadis itu ... Rihanna, kan?" tanya Bayu to the point.


Zyan memandang Hanna yang duduk terdiam.


"Kalau menurut, lo?"


"Tinggal jawab saja, apa susahnya, sih!" desak Bayu tidak sabar.


Zyan kembali mengabaikan Bayu, dan menghampiri gadis itu.


Hanna mendongak saat melihat ada yang mendekatinya. Senyum kecil keluar dari bibir gadis itu, membuat Zyan ikut menyunggingkan senyum.


"Lebih baik kita pulang sekarang!" ujar Zyan lembut.


Hanna hanya mengangguk mengerti.


Saat langkah mereka melewati Bayu, tangan laki-laki itu menarik lengan sang gadis. Sehingga membuat langkah Hanna tertahan.


"Lepas!" sentak Zyan.


"Tidak akan! Sebelum kamu menjelaskan siapa gadis itu, sebenarnya!"


"Ciih, itu nggak penting! Lebih baik lo urusin tunangan lo aja, dari pada ngurusin orang lain."


"Woi ... woi ... sabar-sabar! Lebih baik kalian jangan ribut di sini. Kita bisa bicara baik-baik di sana, Ayok!" lerai Radit.


Dia kini sudah berada di tengah-tengah kedua Sang sahabat. Lagian, apa mereka tidak berfikir di mana mereka berada sekarang.


Hello ... bisa hancur reputasi pangeran pada diri mereka nanti.


"Nggak usah! Gue udah mau pulang, nanti kita bisa kumpul-kumpul lagi." pamit Zyan kepada kedua sahabat, kecuali Bayu.


Bayu mengepalkan kedua tangannya penuh emosi. Dia jelas melihat bagaimana gadis itu terdiam tak menanggapi pertikaian antara dia dan juga Zyan.


"Hanna ...," gumamnya pelan, sambil melihat punggung gadis itu yang mulai tak terlihat lagi.


Beruntung Ririn CS tidak hadir malam ini, mungkin jika mereka tahu wanita di depannya adalah gadis yang selalu di rundung. Mereka semua tidak akan percaya.


 


"Bay, nanti kamu pulang kantor langsung pulang, yah?"


"Memang kenapa, Bu?"


"Ini nanti ada teman ayah yang mau makan malam di rumah. Jadi usahakan kamu pulang cepat, yah, sayang."


"Nanti aku usahain, yah, Bu. Soalnya kerjaan lagi banyak banget."


"Pokoknya ibu nggak mau tahu, kalau kamu harus pulang cepat hari ini, Titik!"

__ADS_1


Bayu pun menggeleng pasrah, dengan sifat ibunya yang begitu memaksa. Namun dia tidak bisa jika harus membantah perkataan sang Ibu. Dia begitu menyayangi wanita yang terlah melahirkan dia.


"Iya ... nanti aku pulang cepat. Udah, kan, itu saja? Soalnya aku mau berangkat sekarang Bu."


"Makasih sayang. Ya udah, kamu hati-hati di jalan yah sayang. Emuach,"


"Iya Bu."


Setelah mencium pipi sang ibu, Bayu pergi meninggalkan istananya menuju kantor.


Biarlah hari ini dia tidak lembur, karena biasanya dia selalu pulang di atas jam 7 malam. Entah apa yang Bayu kerjakan hingga membuatnya selalu pulang telat.


Tidak pernah absen sang tunangan-Ririn, yang selalu mendatangi kantor setiap saat. Kadang dia juga bosan, dan ingin bernafas sejenak dari hubungan mereka. Ririn selalu menyetir hubungan mereka hingga membaut dia kelimpungan sendiri.


Waktu berjalan begitu cepat hari ini. Kini Bayu sudah berada di rumah, menunggu tamu dari orangtuanya. Dia berharap kalau yang datang bukanlah sang tunangan, karena sampai itu terjadi Bayu akan pergi saat itu juga.


"Nah, itu dia!" seru sang Ibu.


Membuat Bayu ikut melihat ke arah pintu. Dimana kini sudah berdiri empat orang yang berbeda-beda.


Bayu merasa Dejavu. Dia pernah mengalami ini sebelumnya.


Netranya menemukan gadis yang sempat membuatnya uring-uringan. Namun bagaimana bisa, dia berada di antara keluarga itu? Apa dugaan dia selama ini benar, kalau gadis itu adalah orang yang sama dengan perempuan yang pernah dia tolak.



Sementara itu, Hanna yang mengenakan dress malam ini begitu menyilaukan mata dari keluarga Bayu.


"Ya ampun, Mal. Ini siapa? Cantik sekali. Nama kamu siapa, Nak?" puji Ibu dari Bayu.


Membuat Masayu dan juga Lia yang mendengarnya, mengumpat dalam hati. Mereka sangat geram saat perhatian dari ibu Bayu, tertuju pada gadis bau ketek itu.


"Rihanna, Tante." jawabnya sambil tersenyum sopan.


Bayu langsung menyeringai. Dia langsung berjalan mendekat ke arah orangtuanya, yang sedang memuji kecantikan dari gadis itu. Bukan hanya itu saja, bahkan ibunya menyuruh Hanna untuk mengikuti wanita itu ke ruang tamu. Dan memintanya untuk duduk.


Malik sendiri tidak terlalu mempermasalahkan keadaan sekitar, dia justru kini sibuk membahas masalah hobi dengan sahabat karibnya.


"Nyonya, makanan sudah siap di meja makan."


" Baiklah, Bu. Makasih, yah."


"Ayo Hanna, kita ke ruang makan! Nanti kita bisa melanjutkan pembicaraannya di sana, bagaimana?"


"Baik Tante."


"Ayo jeng, Lia, kita ke ruang makan."


Lia menahan emosi saat lagi-lagi diabaikan oleh keluarga Bayu.


"Jangan seneng dulu, gue bakalan buat perhitungan sama lo, gadis udik!"


TBC


jangan lupa like komen dan vote yah teman-teman. makasih sudah mampir 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2