Destiny RiBay

Destiny RiBay
Peringatan


__ADS_3

...~Happy reading~...


Ririn sengaja mendatangi kantor si gadis cupu itu, dengan amarah yang membakar di dad*. Dia ingin membuat perhitungan terhadap Hanna, karena gadis itu sudah membuat dia harus di rawat di rumah sakit selama tiga hari.


(Sebenarnya itu adalah senjata makan tuan)


"Permisi mba, apa ada karyawan di sini yang bernama Rihanna?" tanyanya angkuh.


Sang resepsionis yang bernama Tika, menyambut ramah Ririn. Walaupun dalam hati ingin menyumpal mulut wanita di depannya, tapi dia tahan. Dia sedang bekerja, dan di tuntut selalu profesional dalam menghadapi berbagai macam sifat dari tamu perusahaan.


"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawan Tika ramah, mengabaikan hatinya yang dongkol.


Ririn menatap resepsionis itu dengan tajam.


"Lo tadi nggak denger apa yang gue bilang, hah?" sentak gadis itu.


Masih menjujung tinggi rasa hormat, Tika tersenyum kembali, "Baik, akan saya sambungkan dengan Nona Rihanna. Silahkan tunggu di ruangan itu, Bu!" jawabnya ramah.


"Dan asal lo tahu, yah! Gue nggak suka lo manggil gue Bu-Bu, emang gue Ibu lo!" hardik Ririn sebelum duduk di kursi tunggu bagi para tamu.


Tika mengelus dad*, sabar.


Setelah mendapat telepon dari resepsionis, Rihanna turun ke lantai bawah. Kata Tika, ada tamu yang sedang menunggu dia di loby. Padahal, hari ini dia tidak ada janji dengan siapapun, jadi siapa kira-kira si tamu itu?


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" kata Hanna sopan.


Ririn kemudian membalikkan tubuhnya, dan kini mereka sedang saling menatap. Dia menyeringai, saat melihat ekspresi Hanna yang terkejut melihat kedatangannya. Kemudian berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu, hingga membuat gadis itu menegang.


"Lo nggak bisa lari lagi dari gue! karena apa? karena gue masih hidup, dan akan selalu mengganggu hidup Lo!"


"Kenapa?" tanya Hanna lirih


"Lo masih nanya kenapa?"


"Karena saya memang tidak tahu alasan di balik kalian merundung ku? Bisa tolong jelaskan!"


Decak Ririn, "Lo nggak usah muna, deh jadi cewek. Gue tahu kok, kalau Lo itu cinta, kan, sama tunangan gue?" desaknya.


Hanna tertawa, "Lebih baik, Anda pulang sekarang! Karena saya tidak ada waktu buat jawab pertanyaan tol*l, dari Anda!" sungutnya.


Setelah mengatakan itu, Hanna pergi meninggalkan loby dengan perasaan campur aduk. Dia menekan keras tombol lift, agar kotak besi itu bisa membawa dia ke ruangan dia Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa dia di cafe D&D kemarin.


Flashback


Setelah kedatangan Bayu dan yang lain, Ririn mulai sibuk dengan si tunangan. Sedangkan Hanna, dia memilih mengabaikan mereka semua. Dia duduk sambil menunggu kedatangan Zyan, sudah lebih dari dua puluh menit lelaki itu belum kembali dari toilet.


Sebenarnya sedang apa lelaki itu di sana?


Sempat terpikir untuk kembali ke Jepang dan menetap di sana. Namun dia masih memikirkan Ayahnya-Malik, beliau pasti sedih jika dia pergi terlalu lama, "Haah ...," desahnya.


"Maaf lama, yah, Na?" Zyan yang baru datang langsung duduk di samping gadis itu.


Hanna sendiri hanya tersenyum, "Santai aja, nggak bakalan gue tinggal juga, kok!" kelakarnya.

__ADS_1


"Lo mau ninggalin gue, silahkan!" tantang Zyan.


"Ampun Tuan, jangan tinggalkan aku di sini sendiri. Nanti saya tidak ada tebengan lagi, dong?" rajuk gadis itu, hingga membuat hati Zyan berdebar.


'Hanna, jangan bertingkah seperti itu? Aku nggak tahan melihatnya!' batin Zyan gemas.


"Tadi gue lihat si Bayu udah dateng sama yang lain, kamu mau ikut gabung nggak? Soalnya gue juga ada urusan sama mereka, lo nggak masalah, kan?" tanya Zyan tidak enak.


Rihanna terdiam beberapa saat, kemudian dia mengangguk.


Zyan lalu mengajak gadis itu untuk bergabung dengan Bayu, Radit, Alam, serta Ririn. Entah di mana teman Riri yang lain, mungkin mereka sedang merencanakan hal yang buruk kepada Rihanna.


"Hai, Bro! Sini-sini duduk di samping Abang Radit"


"Jangan mau neng, mendingan sama Mas Alam aja, lebih kalem loh?" godanya kepada Rihanna.


Sementara Zyan dan Bayu hanya memutarkan ke dua matanya. Mereka sudah hafal betul dengan tabiat dari para sahabatnya. Nggak bisa diem kalau lihat cewek bening, modelan Hanna.


"Najis banget sih lo pada!" sembur Bayu.


Sementara itu, Ririn yang merasa di abaikan, memilih mengepalkan kedua tangan di bawah meja, "Awas aja, bakalan gue bales Lo, Hantu!" gumamnya lirih.


"Sini duduk sama gue aja , Han!" seru Ririn.


Membuat keadaan di meja itu langsung sunyi. Bukan karena mereka tidak tahu kalau Ririn tidak pernah suka dengan gadis di depan mereka saat ini. Jelas Ririn paling pro terhadap Rihanna.


"Tidak perlu, saya bisa duduk di sini," tolak Hanna tegas.


Oleh sebab itu, Hanna kini duduk di kursi paling pinggir bersama dengan Zyan. Meskipun lelaki itu menyuruh dia untuk pindah posisi, tetapi dia menolak karena malas jika harus berdekatan dengan cowok sok kecakepan itu. Bayu sendiri tidak mempermasalahkan, karena dengan begini, dia justru bisa dengan leluasa menatap wajah gadis itu.


Acara malam ini resmi di mulai. Di pandu oleh MC yang ciamik, reuni dadakan ini berhasil dengan meriah. Dengan diisi oleh salah satu Penyanyi kenamaan di Indonesia. Selain itu juga ada sambutan dari sang pengada acara, tidak lain tidak bukan adalah Ririn sendiri.


...๐ŸŽถTerimalah lagu ini dari orang biasa๐ŸŽถ...


...Tapi cintaku padamu luar biasa...


...Aku tak punya bunga, aku tak punya harta...


...Yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus ๐ŸŽถpadamu๐ŸŽถ...


Bibir gadis itu ikut bersenandung kecil, mengikuti sang Penyanyi yang sedang bernyanyi di depan panggung.


"Kamu suka dengan lagu itu?" tanya lelaki di sampingnya.


Hanna mengangguk, kemudian memusatkan kembali perhatian dia ke depan lagi.


"Atau kamu mau ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara malam ini, dengan menyumbang suara emas kamu, mungkin?"


"Zyan~ berhenti menggantungku!" rengek gadis itu.


Zyan yang mendengarnya langsung mengusap rambut Hanna. Sedangkan Bayu yang melihatnya, langsung membuang muka. Ekspresi jengkel jelas terlihat dari raut wajah lelaki itu. Zyan tidak peduli.


Sementara itu, Bella yang menyukai Zyan merasa marah dan tidak terima. Kalau lelaki yang dia cintai, bermesraan dengan wanita lain. Apalagi wanita itu adalah Rihanna, yang jelas-jelas bukan selevel dengan dia.

__ADS_1


"Mei, kita lakukan sekarang saja! Gue udah empet banget, lihat kelakuan si Hantu itu. Udah pengin gue bejek-bejek tuh cewek kegatelan itu!" berang Bella.


"Tapi bukannya kita harus nunggu instruksi dari Ririn, yah?"


"Kelamaan nunggu dia! Lo nggak lihat dia lagi ngebucinin si Bayu itu, bisa lupa dia sama rencana ini nanti."


"Ya udah, gue sih ngikut aja. Gue juga udah gatel banget pengin ngerjain, tuh, cewek bau kety itu!" timpal Mei bersemangat.


Oleh karena itu, Bella dan Mei mulai menjalankan rencana yang sudah di susun oleh mereka. Lalu dia memanggil seorang pelayan, untuk memberikan obat alergi kepada cewek itu.


Pelayan itu yang hanya seorang biasa, tergiur dengan penawaran dari Bella yang akan memberikan uang senilai lima juta, pada saat itu juga. Dengan semangat dia memasukan obat itu ke dalam minuman, yang akan dia berikan kepada targetnya.


"Udah sana buruan, dan inget, yah! Lo kasih sama cewe yang pake baju garis-garis, yang itu, mengerti!" tunjuk Bella ke arah Hanna.


Namun karena sang pelayan yang ternyata miliki masalah dengan penglihatan, justru mengira kalau target mereka adalah Ririn. Karena baju yang di kenakan Ririn dan Rihanna ternyata hampir sama, bedanya Hanna mengenakan atasan dan celana, sedangkan Ririn dress.


Pelayan yang bernama Maman itu langsung melancarkan aksinya. Setelah menyimpan Yanga yang dia dapat di kantong celana, dia berjalan ke arah meja target berada. Dia sengaja membawa minuman banyak, supaya tidak ada yang curiga.


Maman meletakkan gelas itu satu persatu di meja mereka masing-masing, dan terakhir kepada si target.


"Silahkan di minum Mba dan Mas-nya!" ucapnya kemudian pergi kebelakang lagi.


Sedangkan Ririn yang tidak tahu kalau di minuman dia ada obat alerginya, langsung diminum karena dia cukup haus juga. Tegukan demi tegukan mulai membasahi tenggorokan gadis itu, hingga isi dalam gelas itu habis tak bersisa.


"Minum tuh racun, biar muka jelek lo makin jelek! ha-ha-ha," tawa Bella dan Mei secara bersamaan.


Pada saat itu juga, memang Hanna sedang meminum minuman yang tadi si pelayan beri. Tapi setelah di tunggu beberapa saat tapi tak ada perubahan di tubuh gadis itu, hingga membuat Mei dan Bella heran.


Di saat bersamaan, Ririn yang menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Mulai menggaruk-garuk area tubuh yang menurut dia terasa gatal dan panas. Bayu yang melihat tingkah aneh dari Ririn, hanya menatap bingung.


"Kenapa, lo? Udah kaya cacing kepanasan, uget-uget mulu?" tanya lelaki itu.


"Kok, badan gue pada gatal-gatal gini, yah, sayang. Aduh ... aduh ... Baby, garukin dong! Ini gatel banget, nih, please!" pinta Ririn memelas.


Sedangkan Bella dan Mei yang menyadari bahwa target mereka salah langsung mengumpat, "Si*l! Kenapa jadi Ririn yang kena, sih? Lagian tuh pelayan beg* banget sih, apa dia nggak bisa bedain cewek yang pake baju garis-garis sama baju-," ucapan Bella terhenti.


"Kenapa berhenti, Bel?"


"Mampus! Ternyata baju yang dipakai Ririn sama si Hantu itu coraknya sama. Pasti si pelayan tadi ngira targetnya adalah si ririn. Aduh, bagaimana ini, Mei?" rutuk Bella ketakutan.


Ririn pasti akan membantai mereka nanti, kalau sampai dia tahu ini adalah ulah mereka.


"Gue juga nggak tahu, Bel? Tapi lo bawa obat penawarnya nggak?" tanya Mei.


Bella menggeleng, wajahnya sudah berubah pucat pasi membayangkan kemurkaan Ririn.


"Akh, ini gatel sekali! Bella ... Mei ... tolongin gue!" teriak Ririn keras.


Hanna yang melihatnya menyeringai sambil menatap sang penyanyi yang masih tetap menyanyikan lagunya.


"Senjata makan tuan, heh!"


TBC

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih setia dengan ceritaku. jangan lupa like komen, vote dan kasih hadia supaya saya makin semangat buat melanjutkan karya ini.


Dan mohon dukungannya karena novel ini sedang mengikuti event 'Mengubah Takdir - Kategori Wanita'. Jadi jangan lupa kasih semangat yah๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜*


__ADS_2