Destiny RiBay

Destiny RiBay
Kasih sayang


__ADS_3

Setelah lelah menangis, Hanna langsung pulang ke apartemen. Dia tidak ada keinginan untuk pulang ke rumah sang Ayah. Karena jelas, di jam segini Malik belum pulang dari kantor. Tubuhnya dia jatuhkan ke atas ranjang.


Dia menatap langit-langit kamar, sambil menerawang jauh. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan, karena sedari tadi hanya diam saja. Yang jelas, Hanna belum makan apapun sejak tadi pagi.


Mungkin dia lupa caranya untuk makan, hingga melupakan itu.


"Haahhhh," desahnya lelah.


Sementara itu, di luar apartemen tepatnya di dalam sebuah mobil. Duduk seorang lelaki tampan sambil melihat ke arah gedung dimana terdapat wanita cantik yang dia ikuti sedari tadi. Dia adalah Bayu Atmaja.


Sudah sedari pagi, ia berada di sini. Niat hati ingin mengantar Hanna, tetapi tidak jadi. Karena melihat gaya berpakaian gadis itu yang cukup santai untuk pergi ke kantor. Sedangkan dia sudah rapih dengan jas warna navy yang melekat pas di tubuh gagahnya.


"Ada apa sebenarnya dengan hatiku ini? Kenapa aku ikut sedih melihat dia menangis seperti tadi? Inget Bay, lo itu udah punya tunangan! Jangan seperti ini!"


Pikiran dan hati tidak pernah sinkron dengan kenyataan.


Jujur lelaki itu tidak mencintai si tunangan, karena sedari dulu dia hanya mengikuti apa kata orangtua. Namun, setelah melihat perubahan di diri gadis itu entah kenapa timbul rasa ingin memiliki.


Katakan saja dia bodoh atau tol*l, karena pernah menyia-nyiakan gadis itu dulu.


Tapi ...,


Sudahlah, itu tidak penting, yang harus dia lakukan sekarang adalah pulang. Kalau dia tidak pulang dan ketahuan tidak berangkat ke kantor oleh Tony-Ayahnya, bisa di pecat dia jadi CEO.


Akhirnya Bayu pergi meninggalkan apartemen Hanna, setelah dia melihat kembali bahwa tidak ada siluet gadis itu keluar dari gedung. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota sore ini yang cukup lengang. Karena belum waktu pulang kerja, jadi masih sepi.


"Semoga saja, Bunda sama Ayah belum pulang dari rumah Kakek. Kalau tidak, bisa tamat gue!" gumamnya.


...-------...


Hari berlalu begitu cepat. Seminggu setelah dia mengunjungi makam ibunya, Hanna kini sedang berada di cafe bersama dengan Zyan untuk makan siang. Lelaki itu juga baru terlihat setelah mengunjungi orangtua mereka di Jepang bersama Mario dan Intan.


Tante Irene juga menitipkan sebuah gaun dan juga sepatu serta tas buat gadis itu. Hanna sendiri merasa tidak enak karena mereka selalu memperlakukan dia begitu spesial. Sementara dirinya saja belum bisa membalas Budi mereka.


"Gue tuh, jadi nggak enak sama keluarga Lo, Yan. Masa gue yang bukan siapa-siapa, selalu mendapatkan perlakuan yang spesial seperti ini?" Rihanna berkata sungkan setelah menerima titipan dari orang tua lelaki di depannya.


Zyan sendiri tidak mempermasalahkan itu. Dia justru sangat senang, akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan gadis yang dirindukan seminggu ini. Dia bersama Mario dan Intan terbang ke Jepang saat itu juga, karena mendengar sang Ayah jatuh sakit.


Makanya dia tidak sempat pamit kepada Hanna dan menghubunginya setelah sampai di Jepang.

__ADS_1


"Terus bagaimana keadaan Om, sekarang? Apa sudah baikan?"


"Alhamdulillah udha baik, Na. Dia juga titip pesan buat lo, katanya kalau ada waktu di suruh nengokin mereka di sana."


"Syukurlah kalau begitu. Nanti, deh, kalau kerjaan gue udah agak longgar, gue kesana."


"Oke. Nanti kabarin aja kalau Lo mau kesana, gue temenin!"


Senyum manis terulas dari bibir gadis itu.


Dia hanya mengangguk saja. Toh dia juga belum tahu kapan akan pergi.


"Terus kabar kak Mario sama intan gimana?"


"Mereka baik. Si intan katanya pengin ketemu sama lo, udah nggak sabar dia. Tuh bocah desak gue mulu, buat bawa lo kerumah!"


Tawa Hanna keluarga saat membayangkan intan yang merajuk kepada Zyan, "Oke deh, lusa lo ajak dia buat ke sini. Nanti gue datang!" jawab gadis itu.


Zyan ikut tersenyum, "Nanti gue sampein, pesen dari lo, ke Intan," timpalnya.


Hanna melihat jam di tangan, waktu sudah sore menjelang maghrib. Dia lalu bergegas bangun, dan membuat Zyan heran, "Mau kemana?" tanyanya penasaran.


Zyan memandang punggung gadis itu dengan perasaan campur aduk. Antara penasaran dan ingin tahu, siapa lelaki itu? Jangan bilang ...,


...------...


Di rumah Keluarga Malik


Masayu yang sedang menyiram tanaman di depan rumah, memandang jijik kedatangan si anak tiri, "Ngapain kamu kesini? Udah bener lo pergi jauh dan nggak balik lagi, ngapain sekarang muncul lagi?" sindir wanita tua itu.


Hanna tersenyum menyeringai. Lalu dia melihat ke arah sekitar, "Hai ibu tiriku tersayong? Apa kamu merindukan saya?" Gadis itu sengaja menginjak selang air itu hingga membuat air tidak keluar lagi.


Masayu berkacak pinggang sambil tetap memegang selang itu di tangan, "Iya, saya sangat merindukan kamu! Tepatnya ... jerit tangismu!" Tawa jahat wanita itu membuat Hanna mengepalkan kedua tangannya.


Lalu, wajahnya berubah datar kembali. Setelah puas melihat wajah wanita tua itu, Hanna pergi dari hadapan Masayu, dan senyumnya mengembang saat mendengar jeritan dari belakang, "Ups, sorry ... sengaja!" ucapnya .


Setelah meninggalkan ibu tirinya yang sedang berteriak marah pada dia, Hanna pergi ke kamar sang Ayah. Karena tadi Malik berpesan untuk mendatanginya di kamar. Hanna mengetuk pintu itu dengan pelan.


"Masuk!"

__ADS_1


Hanna membuka pintu itu, dan menyembulkan kepalanya. Senyum itu kembali terukir saat melihat Malik yang sedang membaca buku di atas ranjang, "Assalamualaikum, Ayah."


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Sini masuk!"


"Ada apa, Ayah? Tumben nyuruh Hanna kesini?"


"Emang nggak boleh, seorang ayahenyurih anaknya untuk nengokin orang tuanya sendiri?"


"Boleh dong. Tapi kan, tumben aja?"


"Ayah cuma kangen aja sama kamu sayang?"


"Hanna juga kangen sama, Ayah?"


"Kamu tau kan, kalau Ayah sangat mencintai kamu dan Lia?"


"Iya, Hanna tahu kok."


"Besok kamu kalau libur temenin Ayah, ya, mancing?"


"Mancing? Sejak kapan ayah jadi suka mancing?"


"Sejak di tinggal kamu pergi, ayah jadi suka mancing setiap libur."


"Kenapa tidak minta Lia buat nemenin ayah?"


"Haah ... dia selalu menolak jika di ajak mancing sama Ayah. Katanya, dia kan, bukan cowok, masa di suruh mancing?" rajuk Malik kepada si anak gadis.


Hanna yang mendengarnya jadi sebal kepada Lia. Lalu dia menganguk menerima ajakan si Ayah. Lagian dia juga sudah lama tidak berduaan dengan Malik. Dia juga akan menggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin.


"Ayah, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalin aku, karena hanya kau yang ku miliki sekarang! Aku juga berharap kamu bisa mendampingiku hingga aku mendapatkan lelaki yang tepat untuk ku." Tangis Hanna pecah saat memeluk sang ayah.


Kasih sayang antara dua orang itu begitu besar, hingga membuat mereka saling menjaga satu sama lain. Kehangatan itu akan selalu dirindukan oleh Hanna dan juga Sang kepala rumah tangga itu.


"Tetaplah tersenyum sayang"


TBC


Jangan lupa vote, komen, like , dan hadiahnya yah. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Maaf juga kalau masih ada typo bertebaran dimana-mana 🙏🙏🙏


__ADS_2