
...~Happy Reading~...
6 tahun kemudian
Rintik hujan membasahi bumi.
Membuat seorang lelaki tampan bangun dari singgasananya, untuk melihat ke arah luar jendela. Lelaki itu memandang kosong setiap bulir air hujan yang jatuh membasahi bumi ini. Seolah sedang saling berlomba, siapa yang tercepat jatuh ke bumi.
Dia adalah sang pemilik perusahaan Paradise. Perusahaan yang menaungi segala kebutuhan rumah tangga di seluruh negeri. Namanya Bayu Atmaja.
Di usianya yang masih muda, dua puluh empat tahun. Pria itu sudah di percaya oleh Ayah, dan para pemegang saham, untuk menjadi seorang CEO, di perusahaan.
Bayu baru saja lulus dari kuliahnya di Harvard University, kemudian di tarik sang Ayah untuk memimpin perusahaan mereka. Namun sang Ayah juga tidak langsung lepas tangan, ia selalu membantu si anak untuk lebih mengenal tentang perusahaan mereka
Bayu dan Ardi, ayahnya. Bekerja sama untuk melebarkan bisnis mereka, agar semakin berkembang.
"Permisi, Tuan. Ada yang ingin bertemu?"
"Siapa?"
"Itu ... emm ...," ucap sang sekertaris terbata, membaut Bayu menoleh ke arahnya.
"Jawab saja! Tidak perlu ragu seperti itu!" Tegasnya.
"Itu, ada Nona Ririn di luar." Beritahu sang sekertaris. Ia berlaku seperti ini, karena sang bos sudah mewanti-wanti dia, agar tidak mempersilahkan tamu bernama Ririn.
Namun bagaimana lagi, kalau sang gadis memaksa dan mengancam akan memecat dirinya nanti.
Gadis yang di blacklist oleh sang CEO, adalah kekasih lelaki itu.
Sekertaris bernama Fani, itu menghadap sang CEO untuk meminta persetujuan.
"Bilang padanya, aku sedang tidak ingin di ganggu."
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
Bayu memandang kosong suasana kota dari balik jendela, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa ragu.
Pertunangan dia dan sang kekasih sudah di depan mata, tetapi semakin kesini ia menjadi bimbang. Haruskah ia melanjutkan kepalsuan ini?
Kepalsuan?
Maksudnya, hubungan dia dengan Ririn. Mereka menjadi sepasang kekasih karena ia terpaksa, menerima cinta dari gadis itu. Ia ingin membuat seorang gadis menyerah akan dirinya, dahulu.
__ADS_1
Setelah melihat gadis itu pergi dari hidupnya saat itu, ia justru merasa ada yang hilang. Kedekatan mereka dulu hanya sebentar, tapi sangat berkesan di hatinya. Sifat gadis itu yang selalu tegar saat di rundung oleh murid lain, dan juga senyum gadis itu yang cukup unik, membuat ia merindukan gadis itu.
"Maaf," gumamnya entah pada siapa.
Sementara itu di Bandara Soekarno-Hatta.
Ada dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang menyeret koper. Pesawat mereka baru saja landing, dan kini mereka sedang menunju pintu keluar.
Gadis itu mengenakan pakaian kasual, sedangkan si lelaki mengenakan setelah santai juga. Mereka sudah seperti selebritis yang baru saja turun dari pesawat, tampang mereka yang rupawan cukup menarik perhatian orang di sekitarnya.
"Lo mau langsung pulang, atau mau mampir dulu?" tanya si lelaki.
Gadis itu membuka kaca mata hitamnya dan memandang lembut lelaki di samping dia.
"Gue mau langsung pulang aja. Gue mau istirahat, sekalian mau beres-beres rumah dulu." Jawab gadis itu.
Lelaki itu mengangguk.
"Tapi Lo besok jangan sampai lupa buat nemenin gue buat ke acara temen gue yah?"
"Iya. Gue nggak lupa, kok. Lagian maksa banget, sih! Emang sepenting itu temen lo?"
Seringai kecil terlihat dari bibirnya.
Decak gadis itu. " Terserah lo aja, deh! Pokoknya hari ini gue mau istirahat, kalau sampai lo ganggu, gue nggak bakalan mau nemenin lo kondangan!" Ancamnya.
Lelaki itu tertawa. "Iya Hanna, sayang."
Hanna, atau Rihana menatap tajam lelaki di sampingnya, Zyan namanya.
Mereka yang sudah sampai di luar bandara, memilih berpisah. Hanna memilih pulang ke rumah yang di belinya sendiri. Dari hasil kerja kerasnya selama bekerja sebagai Desainer.
Sedangkan Zyan memilih pulang ke rumahnya yang dahulu.
"Bye, Hanna. Nanti lo Sherlock alamat rumah lo, biar gue gampang besok jemputnya. Oke!" ucap Zyan sebelum pergi.
"Iya-iya. Udah sana lo pergi, gue udah empet lihat muka lo!" usir gadis itu.
Zyan berdecak melihat kelakuan Hanna. Ia kemudian naik ke Taxi yang sudah dia pesan, sedangkan Taxi yang membawa gadis itu sudah pergi menjauh.
__ADS_1
Keesokan harinya
Ballroom hotel yang sudah di sulap sedemikian rupa, kini sudah di penuhi oleh para tamu undangan, yang akan menyaksikan anak dari pebisnis terkaya bersanding dengan pemilik tambang batu baru di Indonesia.
Bayu yang kini sedang berbincang dengan orang tuanya, menoleh ke arah sang calon tunangan yang baru saja datang. Bayu menatap datar sang calon tunangan.
Ririn sendiri kini di temani oleh ketiga temannya berjalan mendekati Bayu. Senyumnya tidak pernah luntur dari bibir gadis itu, karena sebentar lagi dia akan menyandang sebagi nyonya Atmaja.
"Sumpah Bayu ganteng banget hari ini. Gue boleh oleng bentar nggak sih, Rin?" bisik Bella pelan di telinga Ririn.
Ririn yang mendengarnya langsung menyorot tajam sang sahabat.
"Enak aja, nggak boleh! Bayu itu milik gue, nggak boleh ada yang bayangin tunangan gue!" lirih Ririn tegas.
Bella ,Ratih, Mei hanya cemberut.
Padahal mereka hanya bercanda, tetapi sang sahabat malah menganggapnya serius.
"Calon tunangan kali," cibir Bella pelan.
Setelah Ririn sampai di hadapan Bayu, Bella cs kembali ke kursi mereka. Meninggalkan sang sahabat dengan calon tunangannya.
"Tes, tes, tes. Halo selamat malam, semuanya. Saya adalah Ridho Atmaja dan istri, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran kalian di acara pertunangan anak kami ini. Saya juga akan mengumumkan bahwa hari ini, anak saya, Bayu Atmaja. Akan menjadi penerus saya di perusahaan."
Tepuk tangan meriah di berikan para tamu undangan, untuk calon penerus Paradise selanjutnya.
"Dan malam ini, kita akan menyaksikan pertunangan anak kami, Bayu Atmaja dengan Ririn, anak dari sahabat saya, Farhan fahrudi."
Bayu hanya diam saat sang Ayah memberitahukan tentang acara malam ini. Bagi dia, melihat orang tuanya bahagia itu sudah cukup. Walaupun ia tidak mencintai gadis yang sedang bergelayut manja di lengannya, ia tetap mengikuti kemauan mereka.
Ririn yang memang sudah cinta mati terhadap Bayu, tidak memperdulikan apakah laki-laki itu mencintainya atau tidak, yang terpenting bagi dia, Bayu sudah mau menerima dia di sisinya itu sudah lebih dari cukup. Biarlah orang lain menganggap dia gila atau apa? yang penting ia bahagia.
Tiba-tiba dari pintu, masuk seorang gadis bersama pasangannya. Gadis itu adalah Rihanna, datang bersama Zyan sebagi tamu undangan. Gadis itu tidak tahu akan datang ke acara siapa? karena Zyan tidak memberitahunya sama sekali.
Gadis itu tersenyum saat Zyan mengatakan hal yang lucu padanya. Ia bahkan tidak tahu bahwa ia menjadi sorotan semua tamu undangan malam ini.
Bayu menatap Zyan yang datang bersama seorang gadis di sampingnya, dengan datar. Sudah lama ia tidak melihat sang sahabat, karena dia harus berpisah saat mereka memilih kuliah di tempat yang berbeda.
Bayu memandang gadis itu dengan teliti, seakan ia pernah melihatnya, entah dimana. Wajahnya cukup familiar, bahkan cara tersenyum gadis itu mengingatkan ia kepada seseorang yang dia rindukan.
"Tidak mungkin dia adalah gadis itu." guman Bayu, tidak memperdulikan sang calon tunangannya yang sedang cemberut di sampingnya.
__ADS_1
"Siapa gadis itu? Kenapa bisa membuat Bayu jadi terdiam seperti ini?" tanya Ririn pada dirinya sendiri.
Tbc