
POV Rihanna
"Apa tidak sebaiknya, kita di luar saja Bu?".
"No-no-no-no-no, kalian harus ikut Saya!"
"Tapi ...."
"Sudah ikuti saja apa kata Rumi. Lagian, ini kesempatan buat kita untuk memperkenalkan fashion kita pada orang nomor satu di perusahaan ini." ucap Bu Regina menggebu-gebu, hingga diangguki oleh Bu Rumi.
Bibirku langsung memberengut kesal, kalau sudah begini mana bisa dia kabur. Bahkan saking takutnya, tanganku sampai diseret dengan paksa oleh si Atasan untuk masuk ke ruangan si CEO. Aku sudah pasrah jika harus berhadapan dengan pria itu lagi.
"Silahkan masuk." ucap sang Sekretaris cantik bernama Vina.
"Ayok, ayok, masuk!" ujar Bu Rumi pada kami.
Aku hanya memutar dua bola mataku, saat sudah berhadapan dengan pria itu. Tanpa mau ditutupi, aku justru melirik sinis si CEO dan ditanggapi seringai kecil dari sang pemilik perusahaan.
"Wah, ada apa ini? Bukankah saya tadi hanya memanggil Manajer, kenapa ini yang datang ada tiga orang? Dan sepertinya saya mengenal salah satu di antara dua orang tamu asing ini?"" sindir Bayu dengan sengaja.
Ini kalau bukan di luar, udah aku tendang tuh manusia sombong satu ini.
"Iya , Pak Bayu. Sebenarnya saya tadi sedang ada urusan dengan mereka. Nah, waktu bapak panggil, saya jadi teringat akan acara ulang tahun perusahaan yang sebentar lagi akan diadakan. Kalau boleh kasih saran, Tuan bisa memakai jasa mereka untuk membuat jas serta gaun untuk keluarga Anda nanti. Bagaimana?" ucap Bu Rumi panjang lebar.
Aku hanya diam dan memilih memerhatikan ruangan si CEO sombong ini dari pada ikut nimbrung dengan omongan mereka. Toh, nanti Bu Regina juga akan memberitahuku, jika memang dibutuhkan. Namun, aku cukup heran dengan desain interior dari ruangan ini, yang tidak mencerminkan dari sifat si pemilik.
Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, aku merasakan bahuku di tepuk oleh orang di sebelah. "Iya ada apa, Bu?" tanyaku saat melihat Bu Regina si pelaku penepukan.
"Kamu siap tidak?" tanyanya membuatku bingung.
__ADS_1
"Siap, Bu." Aku hanya mengiyakan saja, daripada nanti aku ditinggal sama si Atasan. Namun, sepertinya jawaban yang aku berikan adalah kesalahan fatal, yang akan mendorongku untuk lebih dekat dengan manusia menyebalkan itu. Karena apa?
"Kalau begitu sekarang saja!" ujar pria itu sambil berjalan mendekat.
Aku menatap bingung Bu Regina, yang langsung tersenyum sumringah padaku. "Kenapa ibu tersenyum seperti itu?" tanyaku.
"Selamat, yah! Kamu akan jadi Desainer pertama yang akan mempunyai klien seorang CEO, di perusahaan kita," ujarnya membuatku bingung.
"Iya, Hanna. Kamu bisa berkesempatan untuk membuat baju untuk seorang sekelas Bayu Atmaja, itu sudah jadi pencapaian yang sangat luar biasa untuk desainer pemula seperti kamu, loh!" timpal Bu Rumi yang membuat otakku langsung konek.
Dengan cepat aku menoleh pada pria yang berdiri menjulang di hadapanku, "Kamu ngapain di sini?" tanyaku sinis.
Tiba-tiba kau merasakan pahaku di cubit oleh Bu Regina, "Loh, kok, ibu malah cubit saya?" gumamku kesakitan.
"Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada klien, Hanna!"
"Baik, Bu. Saya minta maaf."
"Loh, ibu mau kemana, kok, saya di tinggal sendiri?" Aku mencegah tangan Bu regina yang akan pergi meninggalkanku sendiri. Namun, aku harus kecewa, karena si Atasan malah pergi begitu saja.
"Bagaimana, kapan kamu mengukur tubuhku?" Aku langsung mundur, saat seorang pria berbisik di samping telingaku persis. Ku tolehkan wajahku, hingga menemukan wajah menyebalkan tapi ganteng ini. Ku dorong langsung wajahnya yang begitu dekat, "Lebih baik anda menjauh, sebelum ku tonjok wajah si*lanmu itu!" peringatku.
Rihanna POV end
...-------...
Bayu memandang wanita di depannya dengan pandangan memuja. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi dia seakan tidak bosan menatap wajah Hanna yang semakin hari semakin cantik. "Kamu cantik," ujar pria itu.
Hanna mendesah sebal, dia sedang tidak mood untuk meladeni gombalan dari pria manapun. Wanita itu masih kesal setengah mampus pada Zyan, yang sudah mengecewakan kepercayaan dirinya. Jadi, sebelum emosi menguasai tubuh, lalu diambil meteran yang selalu tersedia di tas.
__ADS_1
"Wajah kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat harimu jelek?" Bayu membiarkan Hanna yang sedang mengukur bahu, tangan, serta kaki. Namun, saat wanita itu mengukur lingkar dad*nya, tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Dalam sekejap, ruangan berubah menjadi hening.
Setelah beberapa saat, Hanna yang sadar dari jerat ketampanan Bayu. Dia mendorong menjauh tubuh mereka. Lalu, menulis hasil pengukuran tubuh pria itu di buku agendanya.
"Aku habis mergokin temen lo yang lagi ciuman di lift, sama cewe lain." jujur Hanna sambil menatap dingin Bayu.
"Apa maksud kamu?" ujar pria itu tak mengerti.
"Emang temen lo siapa lagi yang satu kerjaan sama gue?" ujarnya.
"Zyan?" tebak Bayu tak percaya.
Hanna mengangguk, dan hendak pergi dari ruangan pria itu. Namun, dicegah langsung oleh si pemilik ruangan dengan cara memeluk belakang tubuh si wanita dengan erat. Dihirup wangi rambut wanita itu dengan penuh kasih.
"Lupakan Zyan, dan kembalilah padaku?" ujar Bayu sambil mendekap erat tubuh Hanna.
Hanna yang dalam kondisi lelah hanya diam, dan membiarkan pria itu memeluk dirinya. Dia juga butuh seseorang, yang bisa jadi sandaran di saat seperti ini. "Kenapa kalian para lelaki hanya bisa menyakiti hati kami, para perempuan?" tanya wanita itu sedih.
Bayu yang melihat itu langsung membalikkan tubuh si wanita, dan kini wajah mereka saling berhadapan satu sama lain. "Aku janji akan menyembuhkan luka yang pernah kutorehkan padamu, Hanna. Aku tahu aku dulu memang masih labil, yang tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak. Aku dibutakan oleh egoku yang setinggi langit itu. Jujur, aku begitu nyaman denganmu, Na. Apakah kamu bersedia membuka hatimu lagi untuk pria ini?" ucapnya serius.
Hanna menatap pria itu dengan datar, walau dalam hati dia begitu tersentuh dengan kata-kata pria itu. Jujur, dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Bayu. Namun, hati ini masih belum sembuh juga dari rasa sakit itu.
"Maaf, saya harus pergi!"
Bayu memandang nanar punggung wanita itu, yang mulai menjauh darinya. Bahkan sampai tubuh Hanna tidak terlihat lagi, pria itu masih menatap ruang kosong itu. "Apakah aku sudah tidak punya kesempatan lagi, di hatimu Na?"
TBC
Saya datang lagi, bawa Hanna dan Bayu. bagaimana tanggapan kalian dengan cerita ini? tolong kasih tahu pendapat kalian? Karena aku juga penasaran dengan tanggapan kalian, jadi tolong beritahu aku, yah!
__ADS_1
Salam sayang dari akoh😘😘😘😘😘