
Bayu Atmaja baru saja pulang dari kantor, dan kini sedang menuju cafe tempat dimana sang sahabat berkumpul. Dari yang Zyan katakan, bahwa ada sesuatu hal yang ingin dikatakan kepada mereka semua. Termasuk Radit dan Alam.
"Apa ada baju saya di mobil ini?" tanya Bayu kepada supir sekaligus asistennya.
"Ada, Tuan, di Paperbag." Asisten-Agung adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Tony sendiri. Dia sudah menjadi orang kepercayaan dari Ayahnya, selama bertahun-tahun pria itu mengabdi di perusahaan. Jadi tidak ada alasan untuk Bayu menolak.
Bayu kemudian mengambil Paperbag itu, lalu mengambil baju yang ada di dalam. Dia melihat sebuah kaos polos berwarna hitam serta celana jeans yang masih baru, "Kamu beli dimana ini?" tanya Bayu sambil mengganti jas serta kemejanya dengan kaos itu.
"Beli di Boutique langganan, Tuan Bayu. Apa ada yang salah?"
"Tidak. Lain kali kalau beli jangan hanya satu, paling tidak tiga supaya aku bisa memilih warnanya!"
"Baik, Tuan. Saya akan catat itu!"
Bayu mengangguk, kemudian melihat ke arah jendela mobil. Dimana banyak pengendara motor yang berseliweran memadati jalanan sore ini. Dia jadi teringat akan motor sport nya yang menganggur lama di garasi.
Dering ponsel pria tampan itu berbunyi, hingga membuat Bayu mau tidak mau melihat siapa si penelpon. Decak kesal keluar dari bibirnya, "Hmm," sahut lelaki itu malas.
Agung yang sudah hafal betul siapa si penelpon yang membuat raut wajah si BOS, hanya bisa prihatin. Dia sangat tahu betapa Agresifnya tunangan Bayu.
Yap, si penelepon adalah Ririn. Tunangan dari Bayu Atmaja. Bosnya di kantor.
"Gue nggak bisa, ada perlu sama Radit dan yang lainnya." ujar pria itu datar.
Mata pria itu langsung terbuka lebar saat mendengar si penelpon akan datang ke tempat mereka akan kumpul. Tangannya langsung mengepal kuat, menahan amarah, "Gue udah bilang kalau di sana itu cuma cowok semua, nggak ada perempuan! Lo nggak usah bikin bertingkah, deh!" hardiknya keras.
Bayu langsung mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa sakit, "Terserah, apa kata lo!" Pria itu langsung mematikan sambungan telfon dari si tunangan dengan kesal.
"Kenapa sebenarnya dengan wanita itu? Apa dia tidak punya kerjaan lain selalu mengintiliku terus?" gerutu Bayu kesal.
Hilang sudah mood dia hari ini.
Agung melirik si Bos dari kaca depan, lalu menghentikan mobilnya, "Sudah sampai, Tuan." ucapnya.
Bayu menghela nafas kasar, lalu menyugar rambutnya ke belakang, "Kamu lansgung pulang saja, biar nanti saya pulang dengan yang lain!" ujar Bayu sambil turun dari mobil.
"Baik, Tuan." timpal Agung.
__ADS_1
Bayu memasuki cafe yang biasa dia sambangi dengan teman-temannya. Saat membuka pintu, Dia sudah disuguhi senyum ramah dari pelayan cafe, tapi tak diindahkan oleh pria itu. Terlalu malas, mood pria itu sudah hancur gara-gara si tunangan yang berniat menyusul ke sini.
"Woi, sini!" Radit yang melihat sohibnya datang lansgung memanggil pria itu.
Bayu hanya diam tak menanggapi, tetapi tetap melangkahkan kaki ke arah meja mereka. Saat sudah berada dekat, kening pria itu berkerut samar. Senyum kecil terulas dari bibirnya, entah kenapa dia menjadi bersemangat lagi.
"Lama banget, Bro? Semedi lo di kantor?"
"Kayak lo nggak tahu temen kita satu ini? Dia, kan , udah jadi Bos besar. Nggak kaya kita, yang masih rakyat jelata ini,"
"Kalau lo rakyat jelata, apa kabar mobil lo yang berjajar di garasi rumah lo itu?"
Tawa lebar dari Radit membuat suasana meja itu berubah menjadi ramai. Yah, walaupun sudah sedari tadi berisiknya. Namun para pengunjung lain tidak merasa terganggu, justru mereka sangat menikmati tontonan gratis itu.
Wajah rupawan dari para lelaki dan wajah cantik gadis yang duduk paling pojok. Membuat mereka menjadi santapan lapar para pengunjung Cafe. Apalagi di tambah Bayu, yang baru saja datang. Tambah mimisan mereka semua.
"Sorry, tadi gue masih ada rapat kecil. Jadi telat datangnya." timpal Bayu sambil sesekali melirik ke arah gadis cantik di samping temannya.
Rihanna yang merasa risih, hanya bisa berpura-pura tidak tahu.
"Ohya, Bro. Si Zyan mau ngasih kita kabar bahagia. Gue udah coba korek-korek sedari tadi, tapi katanya harus nunggu kita kumpul semua baru dia kasih tahu. Nyebelin banget nggak, tuh!" sindir Radit sambil melempar kentang goreng di piringnya ke arah si pelaku.
Sementara alam dan Bayu hanya menimpali dengan seadanya. Gadis itu malah hanya diam sambil menyeruput minuman yang dia pesan.
"Oke, karena kita udah kumpul semua. Gue bakalan kasih tahu kalian kabar bahagia itu."
"Nggak usah berbelit-belit, deh! Udah nggak sabar, nih, kita. Kalau sampai berita itu nggak bikin gue bahagia atau seneng, bakal gue bakar tuh mobil lo yang ada di depan!" ujar Alam berapi-api.
"Gue setuju!"
"Gue juga setuju!
Timpal Radit dan Bayu berbarengan.
Hanna yang mendengarnya jadi bergidik ngeri.
'Persahabatan yang mengerikan.'
__ADS_1
Saat Zyan akan membuka mulutnya, tiba-tiba datang perempuan cantik yang langsung duduk di pangkuan Bayu. Hingga membuat semua orang terperangah. Termasuk orang yang satu meja dengan pria itu.
"Maaf semuanya, gue telat! Tadi di jalan macet jadi lama deh." gerutu gadis itu alias Ririn sambil bergelayut manja di pangkuan si tunangan, "Hai sayang!" sapanya sambil mencium bibir pria itu.
Hanna yang melihatnya langsung melengos.
Sementara Bayu lansgung mendorong tubuh perempuan itu hingga membuatnya menjauh dari dia, "Apa-apa, sih!" geramnya.
Ririn yang baru saja menyadari keberadaan Hanna langsung menyeringai. Tak ditanggapinya kekesalan sang tunangan. Dia justru mengambil kursi lain, dan duduk kembali di samping Bayu.
"Kenapa ada si Hantu di sini?" tanyanya sinis.
Zyan yang mendengarnya berniat membela Hanna ,langsung di tahan oleh wanita itu, "Abaikan saja dia!" ujarnya kemudian.
"Lo diem aja deh, Rin! Lagian siapa, sih, yang ngundang lo kesini?"
"Hei dengernya Diedit! Gue itu kesini karena undangan dari tunangan gue, jadi lo nggak usah belagu, yah, sama gue!"
"Si*lan, maksud lo apaan manggil gue kaya gitu? Atas dasar apa lo ngubah nama gue kaya gitu, hah!"
Ririn lansgung diam seribu bahasa, saat di tatap tajam oleh Bayu. Bibirnya lansgung dia majukan, seperti orang cemberut. Dia memang paling tidak bisa jika si tunangan sudah begini. Bisa diusir dia nanti sama pra itu.
"Iya-iya gue diem."
"Sudah-sudah, abaikan saja dia. Zyan apa kabar baik lo itu? Udah nggak sabar gue dengernya!" Alam menengahi keributan yang terjadi di meja mereka.
Zyan lalu menarik tangan Hanna dan menggenggamnya, "Gue udah jadian sama Hanna!" ucapnya sambil tersenyum lebar kepada semua temannya.
Radit dan Alam langsung tertawa bahagia dan memberikan selamat kepada kedua pasangan baru itu.
Sedangkan Ririn menyeringai, 'Akhirnya, gue bisa bernafas lega juga!' batinnya bersorak bahagia.
Sementara itu, Bayu yang mendengar kabar itu langsung terdiam kaku. Tak ada raut bahagia terpancar dari wajah pria itu. Justru rahang lelaki itu mengeras, dengan tangan terkepal kuat.
TBC
yuhuu, datang lagi.
__ADS_1
maaf yah kemarin nggak sempet up lagi. soalnya lagi sibuk.
Terima kasih juga buat hadiah dari kalian semua. love love love sekebon buat semuanya.😘😘😘😘😘😘