
5 tahun lalu di Jepang
Rihanna yang masih terlihat cupu keluar dari Hollywood Fashion & Beauty College, tempat dia menimba ilmu. Ada beberapa orang Indonesia yang berkuliah di sini. Pertama kali datang, sempat dia mengalami culture shock, karena perbedaan yang cukup signifikan.
Tempat ini merupakan sekolah tinggi professional yang berfokus pada bidang mode dan kecantikan di Jepang. Sekolah ini berlokasi di 6-4-1 Roppongi, Minato-ku, Tokyo 106-8541. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kereta dan turun di satasiun Roppongi. Hingga saat ini, Hollywood Fashion & Beauty College telah berhasil menyebarkan mode mutakhir dan perawatan kecantikan, mulai dari rambut, kuku, hingga make up di Jepang.
Hanna senagaja mengambil 2 jurusan sekaligus, yaitu mode dan kecantikan. Tak dipungkiri kalau rasa percaya diri dia hampir hilang, jika saja Tante Irene tidak mendukungnya. Bahkan beliau rela menggelontorkan dana yang cukup fantastis, hanya untuk membantu dirinya.
"Hanna, tunggu aku!" ujar salah satu teman gadis itu menggunakan bahasa Jepang.
"Ada apa, Haruki?"
"Apa kamu sudah mengerjakan tugas dari Mr. Mamoto?"
"Belum, kurang sedikit lagi. Kamu bagaimana, apa sudah selesai?"
"Haah ... jangan pernah berharap itu padaku! Kepalaku terasa mau meledak jika harus mencari sampel ini itu!" Haruki berkata sambil menarik rambutnya yang pendek itu. Gadis itu adalah orang pertama yang mau mengajak dia berteman di sini. Dia sangat baik.
Rihanna terkekeh geli hingga membaut lesung pipi menyembul keluar, "Sabar, Haru, kamu pasti bisa!" ujar Hanna memberi semangat.
"Jangan kau lakukan itu! Karena itu sama saja kau menghinaku," Rajuk gadis itu.
Sementara itu, di depan pelataran kampus. Ada sosok lelaki tampan yang sedang menunggu anak angkat dari orang tuanya. Dia adalah Zyan, datang ke sini karena disuruh ibu untuk menjemput Hanna, "Woi ... buruan pulang! Lo nggak kasihan lihat gue berdiri kepanasan kaya gini apa?" hardiknya keras menggunakan bahasa Indonesia.
Hanna yang sedang bercengkrama dengan gadis tomboi itu, langsung menengok ke arah lelaki itu. Saat tahu siapa orangnya, Hanna lansgung pamit pergi ke Haruki, "Haru, saya pulang dulu, yah! Sampai jumpa." katanya.
"Oke, see you again, Hanna. Bye-bye."
Hanna masuk kedalam sebuah mobil sport yang terparkir di depan. Saat dia melihat ke arah si pengemudi, nyalinya menciut. Aura membunuh masih terlihat jelas dari lelaki itu.
__ADS_1
"Sekali lagi lo buat gue nunggu kaya gini lagi, nggak segan-segan gue tinggalin lo di sini!" gumam lelaki itu tajam.
Yap, Zyan di sini masih belum terlalu suka dengan kehadiran Hanna yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Walaupun seperti itu, dia tetap mau menemani kemanapun gadis itu pergi.
"Baik, Tuan. Maaf jika saya salah!" Hanna menunduk meminta maaf. Gadis itu tidak tahu, kalau anak dari Tante Irene akan menjemput. Seandainya dia tahu, mana mungkin dia mengabaikan kehadiran lelaki itu.
"Sudahlah, udah basi juga!" timpal lelaki itu, sambil mengendari mobilnya menjauhi tempat Hanna menimba ilmu.
...-------...
Sementara di negara lain, seorang lelaki tampan sedang duduk bersama dengan teman satu kampusnya. Mereka sedang membahas masalah kerja kelompok yang harus diselesaikan besok.
"Bay, lo udah ngerjain tugas yang kita bagi, kan?'
"Oke, gue bakalan kumpulin tugas lo pada untuk gue rangkum semua. Dan buat Mike, dan juga Miller ... gue tunggu Samapi nanti sore, yah!" Tekan Steve dalam bahasa Inggris.
Mike dan Miller hanya mengangguk.
"Oke, kalau begitu gue mau cabut dulu. Masih ada banyak kerjaan yang harus gue urus." ujar Steve.
Bayu dan yang lain hanya melambaikan tangan tanda perpisahan. Steve memang terkenal sangat tegas untuk masalah tugas kuliah, tapi sangat asyik jika diajak buat hang out. Itu sudah jelas terbukti, makanya mereka santuy saja saat mendapati Steve seperti itu.
"Pacar lo tumben nggak, nelfonin elo, Bay?"
"Biarin aja. Gue juga lagi males banget ngurusin tuh cewek."
__ADS_1
"Kalau gitu, kita cabut, yuk, ke tempat biasa? Gue bosen lihat meja-meja berjajar di sini!"
"Itu mah alasan lo aja yang nggak mau diteror sama si Steve!"
"Si*lan, kok lo tahu sih?" Tawa mereka semua memenuhi satu ruang kelas, hingga membuat murid lain melihat ke arah kumpulan Bayu berada.
"*Ya ampun, Bayu ganteng banget sih!"
"Iya, Mike apalagi. Walaupun kelakuan kaya kucing garong, tapi senyumnya bener-bener mengalihkan duniaku!"
"Miller lebih tampan,"
"Bayu, is the best and i love you*."
Murid perempuan yang ada di sana terpanah melihat segerombolan lelaki tampan yang sedang bersenda gurau di dalam kelas. Siapa lagi kalau bukan Bayu, Mike, Miller, dan Steve. Pesona Bayu memang tidak pernah luntur, walaupun di negeri orang.
Wajah tampannya selalu bisa menyedot perhatian wanita yang melihatnya. Namun sayang, lelaki itu sudah ada yang memiliki. Itu kata kabar burung yang melintas.
"Bagaimana kabar dia sekarang?" lirih lelaki itu.
**TBC
NB: Ini adalah cerita di mana Hanna, Zyan dan Bayu kuliah. jadi jangan bingung jika sikap Zyan yang masih belum sebucin itu dengan Hanna. Karena seiring berjalannya waktu, Zyan mulai bisa menerima kehadiran Hanna di hidupnya.
Sedangkan Bayu, berpisah dengan Radit dan Alam. Karena mereka berdua memutuskan untuk kuliah di tempat yang berbeda.
Hubungan Bayu, Zyan, Radit, Alam baik-baik saja. Mereka juga masih suka saling komunikasi, tapi Zyan tidak pernah memberitahukan kepada merek kalau dia di Jepang bersama dengan Hanna.
Hanna sendiri selama berada di Jepang sangat bekerja keras hingga bisa mendapatkan predikat terbaik dari sang dosen. Maka dari itu, penampilan Hanna setelah pulang ke Indonesia sangat berubah. Karena dia sudah mengerti fashion dan juga dia bekerja sebagai Designer di sebuah perusahaan ternama di Indonesia.
__ADS_1
Itu saja**.
Terimakasih atas dukungan kalian semua. jangan lupa like komen dan juga vote nya. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰♥️