
"Senang, heh!"
Masayu menyeringai, "Tentu! Karena bagi saya, penderitaan lo itu adalah kebahagiaan bagi saya!" bisiknya tajam.
Tawa jahat keluar dari bibir mereka berdua, saat melihat betapa mengenaskan penampilan Rihanna sekarang. Akan tetapi, senyum itu tidak bertahan lama, karena Masayu menyadari kedatangan sang suami. Wanita itu menyenggol lengan sang anak, dan memberitahukan keberadaan si Ayah tiri, "Sayang, ada Papah kamu. Tolong jaga sikapnya!" Wanita itu berpesan.
"Ada apa ini?" Malik bertanya, "Lalu kenapa kamu jadi seperti ini , Sayang?" Lelaki tua itu menatap khawatir kepada putri kesayangan dia.
Lia menoleh sebentar ke arah si Ayah tiri, lalu merubah raut wajahnya menjadi khawatir. "Ya ampun, Kak Hanna. Kakak kenapa bisa begini?" Akting gadis itu sungguh patuh di acungi jempol. Bagaimana tidak, sepasang ibu dan anak itu pandai sekali merubah raut wajah mereka begitu cepat.
Mungkin, kalau ada sutradara yang lewat lalu melihat bakat akting mereka berdua. Masayu dan Lia akan di tawari menjadi Artis, dan cocok memerankan menjadi antagonis di film itu.
Rihanna mengibas gaunnya ke arah Lia dengan sengaja, lalu berkata, "Ups, sorry!" Setelah itu, Hanna menghadap sang Ayah, "Aku nggak apa-apa, kok, Yah! Tadi si pelayan ini tidak sengaja menumpahkan nampan berisi minuman ini ke baju saya. O**ver all, i'ts okay!" ujar gadis itu menenangkan sang Ayah
Malik menatap Hanna dengan sorot mata bersalah, tak bisa di tampik kalau dia sangat khawatir dan kecewa terhadap pelayan itu. Andai waktu bisa diputar kembali, lelaki itu ingin kejadian ini tidak menimpa Anaknya, "Lebih baik kita pulang sekarang! Saya tidak mau kalau sampai kamu kedinginan dan berujung sakit," Malik berkata.
Kemudian Hanna mengangguk, karena dia pun sudah kadung malu berada di sini. Semua ini tentu saja ulah dari wanita licik itu. Andai dia bisa membalas rasa sakit dan malu ini kepada ibu tiri dan adik tirinya saat itu juga.
"Lia dan ibu, ayok kita pulang! Kasihan Rihanna kalau di biarin kaya gini terus, nanti kalau kelamaan keburu masuk angin dia!"
__ADS_1
"Iya, Pah. Aku juga kasihan kepada Hanna, lagian itu si pelayan nggak becus banget kerjanya. Ayo Hanna kita pulang?" Masayu berkata lembut, hingga membuat Hanna mendengus sebal.
Mereka berempat kini sudah keluar dari Ballroom hotel, menuju mobil mereka berada. Saat malik sedang mengambil mobil di parkiran, Rihanna sengaja menahan Masayu serta Lia di sampingnya.
"Kalian bisa bernafas lega sekarang, karena aku tidak akan membalas saat ini juga. Namun nanti, akan ada saatnya kalian menangis dan merangkak meminta ampun kepada saya!" Rihanna berbisik di telinga Masayu serta Lia.
Sementara mereka berdua hanya menyeringai, "Saya akan tunggu, hari itu! Namun sebelum itu terjadi ... mungkin saya sudah menendang kamu dan Ayah kamu ke luar dari rumah!" ejek wanita tua itu dengan kejam.
Rihanna menatap tajam Wanita bunglon itu, lalu membuang wajah ke arah lain. Tangannya mengepal erat, saat mendengar si Ibu tiri berniat menguasai harta mereka. Lalu ketika dia melihat punggung tegap sang Ayah, entah kenapa air mata tidak bisa di bendung.
'Ayah, Hanna janji akan menjaga milik kita dari wanita ular itu!' batin gadis itu.
Rihanna hari ini senagaja meminta cuti, untuk ke makam orang terkasih. Dia ingin bercerita tentang kesehariannya dan juga melepaskan rasa rindu yang sudah lama mendekam di hati, "Assalamualaikum, Bu," ucapnya.
Gadis itu tersenyum manis, sambil mengusap nisan sang ibu tercinta. Setelah kepulangan dia dari Jepang, untuk kedua kali Hanna mengunjungi makam sang ibu. Kerinduan jelas terpancar dari wajah si anak, yang kehilangan karena di tinggal pergi untuk selamanya.
"Bagaimana di surga sana? Apa ibu bahagia?"
Senyum sarat luka mengembang di bibir gadis itu, "Apa ibu senang dengan perubahan ku sekarang? Semua ini berkat dari Tante Irene dan suaminya, loh Bu. Mereka yang membantu Hanna menjadi seperti ini, ibu harus berterimakasih kepada mereka. Jangan lupa katakan kepada Allah, buat memberikan pahala yang setimpal buat Tante Irene dan keluarga!" kelakar Hanna.
__ADS_1
Ada jeda yang cukup lama setelah itu.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Hanna yang tergerai indah. Membuat kecantikannya makin terlihat. Namun tidak berselang lama, suara isakan mulai keluar dari bibir berwarna merah itu.
Setetes demi setetes air mata pun ikut jatuh membasahi pipi gadis itu, "Bu ... Han-na nggak ku-at jika ha-rus se-per-ti ini? A-ku ... a-ku ...," Hanna tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa sesak di dada membuat dia sulit untuk mengutarakan isi hatinya.
Sebenarnya tanpa Hanna berkata apapun, Allah sudah tahu betapa tersiksanya gadis itu.
Hari itu Hanna menangis di atas pusaran sang ibu, hingga cukup lama. Dia tidak tahu, kalau sedari tadi ada seseorang yang menatapnya khawatir dari jauh.
Siapakah orang itu?
TBC
Yuhuuu aku datang lagi. Makasih buat kalian yang sudah suport karya saya. Aku terharu dengan jadinya,ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Aku akan rajin up, mungkin 2 kali sehari. Jadi kalian juga bisa memberikan sesuatu, seperti hadiah atau vote kalian untuk saya mungkin? 🤣🤣🤣🤣
Itu jelas membuat hati saya senang.
__ADS_1