
"Kamu kenapa sayang?" Zyan bertanya khawatir, saat menemukan wajah sang kekasih yang memar di kantor.
"Oh, ini, kemarin tidak sengaja jatuh di kamar mandi?" dusta gadis itu.
Zyan tidak langsung percaya begitu saja, karena jelas dia melihat luka memar di pipi Hanna. Sementara itu, ada luka sobek juga di bibir gadis itu, "Kamu tidak sedang berbohong padaku, kan, Sayang?" desak pria itu pada sang kekasih.
Rihanna menggigit bibirnya, karena takut akan ketahuan jika dia sedang berbohong oleh Zyan.
"Katakan Hanna! Aku akan menjadi kekasih yang bodoh dan tidak berguna, karena tidak tahu apa yang menimpa kekasihnya,"
Rihanna semakin merasa bersalah, saat melihat Zyan yang menjambaknya seperti itu, "Zyan," lirihnya sambil menahan tangis.
"Sekali lagi aku bertanya, dan katakan dengan jujur! Kamu ini kenapa, dan siapa yang melakukannya?" Zyan menatap wajah Hanna memohon, "Jangan menyimpan masalah ini seorang diri! Kamu masih punya aku, yang siap menjadi pelindung kamu, Sayang," ujar pria itu lirih, sambil menitikkan air mata.
"Jangan seperti ini, Zyan?"
"Aku tidak akan tenang, sampai kamu ... mengatakan kejadian yang sesungguhnya,"
Hanna membuang muka, dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia paling tidak bisa jika harus melihat orang menangis. Karena dia akan ikut menangis juga.
"Bagaimana perusahaan kamu?" Rihanna mengalihkan perhatian Zyan. Namun siapa sangka, pria itu malah menangkup wajahnya.
"Kamu ingin aku mencium kamu disini, atau kamu katakan yang sejujurnya, sekarang juga!" Wajah pria itu mengintimidasi sang kekasih, hingga membuat Hanna ketakutan. Karena baru pertama kali ini, dia melihat Zyan yang seperti ini.
Gadis itu menunduk dan memainkan kancing bajunya dengan gugup, "Itu ... itu," Hanna gugup hingga membuat gadis itu tergagap.
"Kamu hanya perlu menceritakan kejadian yang sebenarnya, Sayang."
"Jadi waktu aku mau pulang, aku dicegat oleh beberapa preman dan mereka hendak melecehkan ku," Hanna menghentikan ucapannya, lalu kembali menceritakan kejadian yang menimpa dirinya tadi malam. Dari luka lebam di wajah dan tubuh gadis itu.
Zyan yang mendengar langsung marah, dan mengepalkan kedua tangannya, "Bagaimana bisa kamu tidak menghubungiku semalam? Kalau aku tahu pasti akan datang saat itu juga." geram pria itu.
Zyan menghela nafas lelah, "Kalau sudah seperti ini, aku merasa tidak berguna menjadi kekasihmu," ujarnya kemudian dengan sedih.
"Bukan seperti itu, Yan. Kondisi waktu itu tidak memungkinkan untukku meminta bantuan kepada siapapun. Kamu pikir saja, aku sedang dikepung oleh 5 orang preman, Yan!" jelas Hanna tersulut emosi.
__ADS_1
"Lagian aku juga tidak apa-apa, jadi kamu tidak perlu cemas. Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh, kok!"
"Tapi tetap saja, aku ... aku merasa kecewa dengan diriku sendiri." Zyan menunduk, "Karena suatu hal, aku jadi mengabaikanmu. Maafkan aku, Sayang," Pria itu menyesal, dan merasa bersalah.
Hanna langsung menangkup wajah sang kekasih, "Kamu tidak bersalah, jadi jangan pernah meminta maaf," ucap gadis itu menenangkan.
"Tapi-,"
"Shhh ...,"
Hanna menyentuh bibir Zyan dengan telunjuknya.
"It's Oke, Yan. I'm good. Jadi jangan merasa bersalah. Aku tidak mau melihatmu bersedih, Yan!"
Zyan mendesah lega, lalu membawa Hanna kedalam dekapannya, "Syukurlah kalau memang kamu baik-baik saja. Tapi kamu jangan menolak permintaan ku?"
"Apa itu?"
"Kerumah sakit?"
"Jelas nganterin kamu lah, Sayang! Mau ngapain lagi?"
"Tapi aku baik-baik saja, Yan!"
"Tidak menerima penolakan. Lebih baik kita berangkat sekarang, mumpung masih pagi."
"Tapi, aku belum ijin sama Bu Regina,"
"Urusan itu gampang."
"Zyan, kamu pikir ini perusahaan nenek moyang kamu apa?"
"Ah, aku jadi punya ide."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Aku akan membeli perusahaan ini untuk kamu, bagaimana?"
"Gila!" teriak Hanna keras.
Zyan terkekeh geli melihatnya, "Aku serius!" jawabnya.
"Tapi nggak segitunya juga ,Yan!" gumam gadis itu.
Zyan mengabaikan sang kekasih yang sedang menggerutu di belakangnya. Justru senyum penuh kemenangan yang pria itu perlihatkan sekarang.
Hanna yang melihat wajah bahagia sang kekasih, jadi mengurungkan niatnya untuk menceritakan tentang kedatangan Bayu ke apartemennya. Dia tidak ingin merusak suasana hati Zyan. Biarlah ini menjadi rahasianya saja.
"Tapi luka ini juga akan sembuh dengan sendirinya, Yan." kilah Hanna saat dia masuk kedalam mobil sang kekasih.
"Seharusnya kamu malah dirawat dirumah sakit loh, Na! Jadi jangan membantah, atau kamu mau aku mencium kamu, biar kamu diam!" Zyan menyeringai saat melihat Hanna memalingkan wajahnya, malu.
"Akan kubunuh kau, kalau sampai kamu menciumku!"
Zyan tertawa terbahak-bahak melihat Hanna yang sedang marah. Tangan pria itu mengusap dengan lembut rambut gadisnya, "Jangan terluka lagi, yah, Sayang!" ucap pria itu sambil menatap sang kekasih dengan tulus.
Hanna menatap wajah Zyan yang berada begitu dekat dengan dirinya. Dia mengehela nafas, "Iya, aku janji. Tidak akan terluka lagi. Puas!"
Zyan yang gemas dengan sang kekasih langsung mencium pipi Hanna. Kemudian kabur demi menghindari pukulan dari sang kekasih. Kecil-kecil begitu, tenaga Hanna cukup kuat hingga bisa membuat memar di tubuh lawannya.
Hanna yang yang melihat Zyan sudah duduk di kursi kemudi, langsung memukul bahu sang kekasih.
"Sekali lagi kamu mencuri kesempatan dariku, akan kubuang kamu kelaut, yah, Zyan!"
"Sebelum kamu membuang ku ke laut, aku akan membawamu ke pelaminan terlebih dahulu." Tawa Zyan membuat suasana mobil itu menjadi lebih hidup. Dengan sengaja,Zyan mencolek dagu Hanna, hingga Hanna mendelik marah. Dan membuat dia mendapatkan cubitan mesra dari sang kekasih.
'Teruslah tersenyum seperti itu, Sayang! Karena senyummu adalah semangat hidupku. I love you sayang.'
**TBC
Jangan lupa like dan komennya.😍😍🥰🥰🥰😘😘😘**
__ADS_1