
Malam ini adalah malam yang spesial bagi Zyan. Karena dia sudah menyiapkan sebuah Dinner yang indah di sebuah Rooftop cafe ternama untuk wanita tercinta.
"Kenapa jam segini dia belum datang, yah?"" Zyan berkali-kali melihat ke arah jam tangan Swiss terbarunya. Sudah lebih dari 30 menit, orang yang dia tunggu belum muncul juga.
Ada perasaan cemas jika seseorang itu membatalkan niatnya untuk datang.
Sementara itu Rihanna yang baru saja sampai di sebuah cafe, mengerutkan dahinya bingung, "Apa aku salah kostum yah?" Kata Hanna sambil melihat penampilan dia hari ini.
"Tau, ah, bodo amat. Suruh siapa Zyan nyuruh-nya buru-buru. Dia kira jarak dari apartemen ke cafe itu dekat apa?" gerutu gadis itu sebal.
Bagaimana tidak sebel? Lagi asyik-asyiknya gambar design terbaru milik pelanggan, malah di suruh datang kesini. Mana alasan yang Zyan buat sangat tidak jelas lagi, kan, membagongkan.
Coba kalian pikir, mana ada alasan seperti ini, "Na, lo bisa dateng nggak, ke cafe Adventure? Soalnya gue lupa nggak bawa dompet." Coba kalian lihat, mana ada seorang Zyan, lupa nggak bawa dompet?
Logikanya aja deh,
Itu orang kan duitnya banyak. Bahkan Hanna yakin tuh HP cowok itu pasti ada dompet elektronik, semacam DINA, atau Gipay.
Namun begonya lagi, kenapa dia mau-mau aja datengin tuh cowok?
Jadi yang bodoh itu siapa?
Taulah, urusan itu bisa nanti dia pikirkan lagi.
__ADS_1
Saking sibuknya menggerutu, Hanna sampai tidak sadar telah sampai di tempat janjian. Dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Bahkan bola mata indah itu ikut melebar, menatap pemandangan indah di depan.
"Apa-apaan ini, Zyan?" Rihanna langsung menatap Lelaki di depan sana yang sedang tersenyum manis menyambut dirinya.
"Kemarilah," ajak lelaki tampan itu.
"Apa ini Zyan?" Hanna mengulang kembali pertanyaan yang sama. Sebab lelaki itu belum juga mau menjawab nya.
Zyan membantu gadis cantik itu untuk duduk di kursi yang berada di tengah-tengah lilin berbentuk love, "Terima kasih." ucap gadis itu, "Sebenarnya ada apa ini? Bisa tolong jelaskan?" imbuhnya penasaran.
Gadis itu sungguh tidak mengerti dengan kelakuan lelaki itu, "Atau, lo lagi nungguin seseorang? Kalau gitu gue ...," belum sempat gadis itu berucap, tangannya sudah di tahan oleh Zyan.
"Kita makan dulu, yah!"
"Ya udah, tetapi nanti lo janji harus jelasin semua ini. Mengerti?"
"Of course, Na! Believe me!"
"Oke. Kalau gitu mana makanannya? Gue udah laper ini?"
Zyan kemudian memanggil salah satu pelayan yang sedang berjaga di luar pintu. Dia memang sengaja menempatkan di sana, supaya lebih leluasa jika ingin meminta sesuatu, "Tolong kalian siapkan semua makanan yang sudah saya pesan tadi!" ujar lelaki itu.
__ADS_1
Sedangkan pelayan yang bernama Uni itu tersenyum manis, "Baik, Tuan. Pesanan anda akan sampai dalam lima menit lagi. Permisi!" jawabnya sopan.
Setelah mengatakan itu, Hanna mengalihkan pandangannya ke arah hamparan luas yang terlihat dari atas sini, sungguh menakjubkan, "Sepertinya gue salah kostum deh, Yan?" tanya gadis itu tiba-tiba.
Zyan menatap penampilan Hanna malam ini, "Lo cantik." celetuknya jujur, hingga membuat pipi gadis itu merona malu.
Decak Hanna untuk menutupi salah tingkahnya, saat mendengar gombalan dari Zyan. Jujur, sejak dia merubah penampilan, banyak laki-laki yang mendekati. Namun, tak pernah di tanggapi oleh gadis itu.
Sudah cukup, rasa sakit hati yang dulu pernah ditoreh oleh seseorang yang menjadi masa lalunya, "Bisa banget lo muji gue. Habis ini pasti lo mau minta gue buat nraktir lo, kan, ayo ngaku!" tuduh Hanna kepada Zyan.
Saat Zyan akan berbicara, para pelayan datang dan membuat dia mengurungkan niatnya.
"Waah ... banyak sekali makanannya, Yan! Lo yakin kita bakalan bisa menghabiskan ini semua?"
"Kalau nggak habis, kita bisa bawa pulang, terus kasih ke orang yang membutuhkan, Na!"
"Oke, kalau begitu kita langsung makan sekarang. Karena jujur, gue udah laper banget." kelakar gadis itu meringis.
"Makan, Na, yang banyak! Biar tubuh lo nggak kaya angka satu," ledek lelaki itu hingga membuat si empunya mendelik, sebal.
"Lo ngatain gue lagi, gue nggak segan-segan buat buang koleksi sepatu lo itu dirumah gue!" ancamnya.
Zyan tertawa saat melihat wajah Hanna yang sudah kembali bersinar cerah lagi. Masih teringat jelas wajah gadis itu yang berubah kaku, saat bertemu dengan Bayu, Ririn, dan ke dua orang tua si teman. Apalagi dia jelas melihat ada sebuah ketertarikan dari mata si sahabat kepada Hanna.
Maka dari itu, dia sengaja mengajak Hanna untuk dinner berdua, di sini.
__ADS_1
"Hanna, apa kamu mau jadi kekasihku?"
Tbc