Destiny RiBay

Destiny RiBay
Kotu


__ADS_3

Rihanna melirik ke arah kursi bagian penumpang. Bagaimana bisa pria itu jadi ikut ke acara kencannya bersama sang kekasih. Kalau sekedar intan, sih, masih wajar. Lah, ini ...,


"Lo nggak apa-apa kalau libur Bay?"


"Santai aja. Bos mah, bebas!" sahut pria itu, membuat penumpang lain melirik aneh terhadapnya.


Sedangkan yang dilirik malah biasa aja.


Zyan memandang sang kekasih yang sedang menatap luar jendela. Pria itu tak tinggal diam, dia menggenggam tangan Hanna dan dikecupnya. Membuat si pacar salah tingkah.


Bayu mendengus mendengus jijik, melihat tingkah Zyan yang membuat dia terbakar api cemburu.


"Bisa tidak kalian jangan bertingkah lebay dihadapan kami? Lagian di sini juga ada orang, jadi jangan berbuat sesuatu hal yang bisa memicu timbulnya ketidaknyamanan."


"Iri bilang Bos!" Zyan sengaja melirik Bayu lewat kaca spion, sambil menertawakannya. Sedangkan pria itu, menatap datar perempuan yang duduk di depan dia.


"Iya-iya, maaf! Lupa kalau ada orang di sini." sambungnya lagi.


"Dunia terasa milik berdua yah, kak! Sedangkan yang lain ngontrak," timpal intan menyindir sang kakak, "Kita mau kemana sih kak?" sambungnya.


"Lah kamu pikir kita mau kemana?"


"Dari arahnya sih kita mau ke Kotu, ya, kak?"


"Printer."


"Pinter kali, kak! Suka ngelawak juga kamu, yah ,kak?"


"Kan, biar nggak kaya kuburan nih, mobil, dik. Kamu nggak lihat? Ini ... kita di sini itu berempat loh, tapi kenapa yang sedari tadi ngomong itu cuma kita aja. Terus kemana dua orang itu?" Zyan sengaja menggoda Hanna yang sedang terkekeh, saat di sindir.


Tidak lama kemudian Hanna menimpali, "Aku masih marah, yah, sama kamu ,Yan! Jadi jangan dipikir setelah aku menerima ajakan kamu buat ke sini. Marahku hilang!" ujar gadis itu.


Zyan membulatkan matanya, "Tadi kamu, kan, udah maafin aku, sayang. Kenapa sekarang jadi berubah lagi?" rengek pria itu.


Sementara itu, intan dan Hanna langsung tertawa terbahak-bahak.


"Bisa diam tidak kalian! Berisik banget, sih!"


Intan dan Hanna saling melirik, lalu terdiam. Sedangkan Zyan makin cemberut.


"Dasar temen nggak ada akhlak. Gue tuh lagi bujuk pacar gue, Yuyu si*aln!" umpatnya.


Bayu tidak menanggapi ucapan Zyan, justru ke dua perempuan yang ada di sana, yang malah cekikikan mendengar panggilan pria itu ke Bayu.


...-------...


Di Kotu (Kota Tua)

__ADS_1


"Mau makan dulu, atau langsung jalan-jalan?"


"Langsung jalan aja kak. Perkara makan gampang, kita bisa sambil lihat-lihat entar."


"Kalau kamu gimana, Sayang?"


"Hah, aku?"


Zyan menatap punggung Hanna yang berada di depannya persis.


Bayu sendiri hanya diam, mengikuti kemana mereka akan pergi. Yang penting dia bisa mengawasi Hanna. Biarlah, masalah pekerjaan ditangani oleh sekretarisnya.


Saat memasuki area yang ramai, tubuh mereka jadi ikut berdesak-desakan dengan para pengunjung lain. Hanna memegang erat tangan Intan, supaya tidak terpisah dengan mereka.


"Kenapa semakin siang, malah semakin rame sih?" gerutu Intan.


"Namanya juga tempat rekreasi, Tan, sudah pasti rame."


"Tapi, kan, nggak harus sampai berdesak-desakan juga, kak?" rengek intan sambil memeluk lengan Hanna.


Hanna menepuk lengan Intan dengan lembut, "Ya sudah, lebih baik kita cari tempat duduk aja. Kalau nggak kita ke Museum? Mungkin kita bisa sekalian lihat-lihat?" tawar Hanna.


"Gue setuju sama Hanna. Lagian di sini panas dan sumpek juga." timpal Bayu.


"Oke, gue ikut kata ayang beb aja deh." jawab Zyan sambil merangkul bahu sang pacar.


"Hah, sejuknya," ujar intan pada dirinya sendiri.


"Iya sejuk banget. De' kamu jangan jauh-jauh dari kakak, yah! Soalnya, aku nggak mau kamu sampai hilang. Nanti yang ada bisa diomelin sama kak Mario." timpal Zyan sambil berjalan di samping sang adik.


Sedangkan Hanna yang sedang fokus melihat wayang kulit yang di panjang di sana, malah tidak tahu kalau sang kekasih dan intan sudah berlalu meninggalkan dia.


"Apa kamu suka dengan wayang kulit?"


"Di bilang suka, tapi nggak terlalu sih. Aku cuma pernah di ajak sama Ayah dulu, buat nonton pertunjukan wayang di balai desa. Dan itu cukup menyenangkan." Hanna tidak sadar siapa yang sedang berada di belakang gadis itu. Sedangkan Bayu malah tersenyum, bisa berbicara lagi dengannya.


"Lebih baik kita lihatnya sambil jalan saja! Kan, siapa tahu di sana lebih banyak lagi, yang bis kita lihat!"


"Ayok,"


Bayu dan Hanna saling berjalan bersama, dan melihat-lihat banyak sekali koleksi wayang kulit yang ada di Museum itu. Saat akan berbelok, tidak sengaja ada anak kecil yang sedang berlari dan menubruk tubuh perempuan itu.


Bayu yang melihatnya, refleks memeluk tubuh Hanna supaya tidak jatuh.


Hanna mengira dia akan jatuh, lalu menutup matanya. Namun, kenapa dia tidak merasakan sakit?


Netra Hanna terbuka pelan-pelan, dan menemukan bahwa ada wajah Bayu di dekatnya. Sedangkan Bayu diam saja, sambil menikmati wajah cantik dari gadis itu.

__ADS_1


Hanna yang tersadar langsung mendorong tubuh Bayu.


"Terima kasih." ujar Hanna salah tingkah.


Bayu sendiri tidak mengatakan Apapun. Tapi meminta Hanna untuk berjalan kembali, supaya Zyan dan Intan tidak mencari mereka.


'*Kenapa aku jadi deg-degan begini, sih? Hei jantung, diamlah!'


'Kenapa aku merasa nyaman bersama dia?" Ini pasti tidak benar. Dia itu udah pernah nyakitin kamu, jadi buang jauh-jauh pikiran itu*!'


...--------...


"Lah pacar aku di mana, De?"


"Gimana, sih, kakak? Masa pacar sendiri bisa ilang, tapi malah nggak sadar? Sumpah kakak tuh bener-bener."


"Kakak lupa, soalnya tadi fokus sama kamu doang."


"Cih, alasan macam apa itu! Kalau aku jadi kak Hanna, udah aku pecat kamu jadi pacar!"


"Sembarangan! Hanna nggak kaya gitu, yah."


"Lagian siapa suruh lupa sama pacar sendiri!"


"Ya udah kita balik masuk ke dalam deh, mungkin mereka masih di sana!"


"Nggak usah, kak! Tuh, orangnya udah keluar." tunjuk intan pada dua orang yang baru saja keluar dari Museum.


Sedangkan Zyan yang melihat Hanna dan Bayu keluar secara bersamaan langsung menyusul mereka.


"Sayang, maaf yah! Aku tadi fokus sama intan, jadi malah ninggalin kamu. Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" Zyan menatap Hanna dengan memelas, dia merasa bersalah karena telah meninggalkan sang kekasih sendirian.


Nggak sendirian juga sih.


Tapi, kan?


Hanna tersenyum, lalu berjalan memeluk tubuh sang kekasih. Dia tidak memperdulikan, di mana mereka berada. Gadis itu, hanya ingin memeluk pacarnya saja.


Zyan sendiri, mengira kalau sang kekasih ketakutan karena berpisah dengannya. lalu mengusap punggung Hanna dengan lembut, "Maaf, yah, Na!" ujarnya pelan.


"Hmm," gumam Hanna.


Bayu memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Lalu pergi meninggalkan ke dua pasangan itu, dengan beribu perasaan yang berkecamuk di dad*.


TBC


Jangan lupa like dan komen di setiap babnya.

__ADS_1


__ADS_2