
Lia dan Masayu kini sedang berada di salon kecantikan untuk perawatan. Mereka memang selalu menghambur-hamburkan uang Malik dengan seenaknya.
"Mah, aku masih tidak terima dengan perlakuan papah padaku." ujar Lia kepada masayu, "Apalagi sekarang Rio udah nggak mau lagi ketemu sama aku. Kan aku jadi sebel, Mah." rajuknya sambil memegang lengan si Ibu.
"Itukan salah kamu sendiri, ngapain nglakuin kayak gitu di rumah! Kalau Mama yang lihat juga nggak bakalan tinggal diam." jawab Masayu sambil menatap tajam anaknya.
Bibir Lia cemberut.
"Aku kan nggak sampai sejauh itu, Mah."
Masayu menghela nafas lelah, "Kamu nggak lihat saja kemarin, bapak tirimu itu dengan seenaknya melampiaskan kemarahan dia ke Mamah. Sudah hentikan pembahasan ini, mamah jadi stres dengernya!" gerutunya.
Pegawai salon yang sedang menangani mereka berdua hanya diam. Tak ingin ikut campur dengan perdebatan antara anak dan ibu itu. Cukup mereka dengarkan saja, dan anggap angin lalu.
"Pokoknya kau mau bikin si burik itu menyesal karena telah mengadukan ku ke Papah. Aku nggak terima, si*lan banget tuh Hantu." geram Lia mengingat wajah Hanna yang tersenyum mengejeknya kemarin.
Masayu hanya melirik anaknya sebentar, kemudian mengabaikannya, "Terserah kamu saja. Mamah lagi nggak mood buat ngurusin, tuh, anak burik!" ujarnya malas.
Sebuah ide melintas di pikirannya, dan seringai jahat keluar dari bibir berwarna merah itu. "Lo tunggu saja pembalasan dariku, Hantu. Kamu pasti menyesal telah mengusikku?" gumamnya.
...----------...
Rihanna kini sedang berada di kantor. Setelah semalam ditemani oleh sang kekasih, dan dimasakkan juga hingga nonton drama di ruang tengah. Membuat suasana hati Hanna cerah kembali.
Pekerjaannya hari ini tidak begitu banyak, dan nanti sore dia akan bertemu klien di Cafe dekat kantor. Jadi sekalian bisa makan sore di sana.
Sedangkan Zyan sekarang sedang ada urusan dengan Mario. Perusahaan mereka sedang ada masalah, jadi Zyan memutuskan untuk membantu sang kakak.
"Hanna, nanti kamu disuruh menghadap Bu Regina di ruangan!" ucap salah satu karyawati di kantor gadis itu.
Hanna kemudian tersenyum, "Makasih yah, Tin, informasinya." balas wanita itu.
"Kira-kira ada apa, yah, tumben Bu Regina manggil gue keruangan?" monolog Hanna sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya.
Suara ketukan high heels beradu dengan lantai keramik, membuat langkah gadis itu semakin terlihat menawan. Apalagi, hari ini Hanna mengenakan setelan kantor yang sangat memancarkan aura cantiknya. Membuat karyawan yang melihat, merasa iri dengannya.
Hanna mengetuk pintu kaca yang menghubungkan dengan ruangan sang Atasan, "Permisi Bu. Ini saya Hanna." ucap gadis itu dari luar.
__ADS_1
"Masuk Hanna." jawab suara dari dalam ruangan.
Hanna membuka pintu kaca itu dengan hati-hati, "Ibu memanggil saya?" tanya gadis itu memastikan.
Bu Regina mengangguk, lalu menyuruh Hanna untuk duduk di kursi.
"Terima kasih, Bu."
"Kamu sekarang sedang mengerjakan design milik siapa?" tanya Bu Regina to the point.
Hanna kemudian berpikir, "Milik nyonya Della, Kenapa, yah, Bu?" tanya gadis itu.
"Kurang berapa persen lagi?"
"Tinggal ngerapihin aja, Bu. Mungkin nanti sore sudah kelar."
"Bagus. Nanti ada klien yang ingin di design baju pernikahannya oleh kamu. Jadi besok siang kamu luangkan datang ke restoran Rainbow, untuk menemui mereka. Apa kamu bisa?"
"Baik, Bu. Apa ada lagi?" tanya Hanna.
"Kalau begitu, saya pamit keruangan saya lagi. Permisi."
"Hmm,"
Rihanna kembali keruangan, lalu menyelesaikan design dari kliennya.
Waktu cepat berlalu.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor dan bertemu klien baru tadi sore. Hanna berniat membeli keperluan rumahnya di Supermarket terdekat.
Namun ...,
"Apa kamu yang bernama Rihanna?" tanya lelaki berbadan kekar dari arah belakangnya.
Hanna menatap pria itu dengan kernyitan di dahi, "Iya benar. Anda siapa?" jawabnya.
Seringai dari para pria itu membuat, tubuh gadis itu meremang.
__ADS_1
'Siapa sebenarnya mereka?'
"Ternyata nih cewek cantik juga, Bon." goda salah satu pria berbaju hitam.
Mereka ada 5 orang, dan badan mereka semua besar dan kekar. Hanna menepis tangan lelaki yang berniat menyentuh wajahnya, "Singkirkan tangan kotor kalian dari wajahku!" peringat Hanna tegas.
"Selain cantik, dia juga sok jual mahal, Tur. Wah, jadi nggak sabar kita buat garap nih cewek. Ayo, bawa gadis ini ke tempat kita!" Lelaki bertato itu meminta anak buahnya, untuk membawa Hanna pergi.
Namun Hanna langsung mengelak, dan menghajar pria berkumis itu, "Jangan pernah bermimpi untuk bisa membawaku pergi. Karena kalian bukanlah lawan yang pantas untuk ku!" gertak gadis itu sambil memasang kuda-kuda, bersiap untuk menghajar lawannya.
Melihat temannya yang tumbang, membuat mereka tersulut emosi. Dengan membabi buta, mereka menyerang Hanna dari segala arah. Hanna cukup kewalahan, tetapi dia tidak mungkin merelakan tubuhnya di jamah oleh lelaki tak beradab seperti mereka.
Satu persatu pria itu mulai tumbang, dan menyisakan pemimpin mereka. Tubuh Hanna sudah banjir dengan keringat, dan bahkan ada luka sobek disekitar bibir gadis itu. Baju yang dikenakan Hanna juga dibagikan lengan sobek, ditarik oleh salah satu dari pria itu.
"Gue nggak nyangka di balik tubuh lo yang seksi itu. Ternyata menyimpan kekuatan yang besar," Pria itu berucap sambil tersenyum mesum, melihat kearah targetnya yang sedang mengatur nafasnya yang memburu. Dan itu sangat menggoda bagi pria cabul itu.
Hanna menyeringai, "Jangan banyak omong! Lebih baik kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Karena kalian sudah membuang-buang waktuku terlalu banyak!" sahut Hanna mencemooh.
"Baiklah, kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Karena gue udah nggak sabar buat nyicipin tubuh Lo itu."
"Mimpi saja kalau begitu!" Hanna langsung menendang tepat ke benda pusaka milik pria itu, hingga membuat pria itu jatuh terduduk dan mengerang kesakitan.
"B*tch," maki pria itu marah, lalu berteriak kesakitan.
Hanna kemudian menyugar rambutnya yang tergerai, karena ikat rambutnya yang lepas. Dia menyilangkan tangannya, dan menatap pria itu dengan tajam.
"Bilang sama orang yang nyuruh lo, buat hadapin gue langsung. Ciih ... dasar lemah!"
Usai mengambil tasnya yang tergeletak di aspal. Hanna tanpa rasa bersalah menginjak tangan si ketua preman itu. Tak dia hiraukan teriakan kesakitan dari pria itu, yang dia pikirkan adalah siapa dalang di balik semua ini?
'Gue nggak akan tinggal diam, dan membiarkan mereka lolos dari tangan gue!'
**TBC
Semoga suka yah dengan ini. Sehari jatahnya 2 bab yah. 🤭🤭
Jangan lupa like komen dan vote dan hadiahnya.♥️♥️♥️♥️**
__ADS_1