Destiny RiBay

Destiny RiBay
Kenyataan


__ADS_3

"Maksud lo apa, Yan?"


Zyan mengambil tangan Rihanna, kemudian dikecup lembut, "Jujur, aku sudah lama mencintaimu. Mungkin pertemuan pertama kita kurang berkesan, tetapi seiring berjalannya waktu. Aku mulai merasa nyaman dengan kebersamaan kita." ungkap lelaki itu.


Hanna sendiri terperangah tak percaya. Bagaimana bisa lelaki yang dia anggap seperti kakak, bahkan saudara, ternyata memendam rasa cinta selama ini. Matanya bergerak gelisah melihat ke arah lain, selain lelaki itu.


"Yan ... jujur, aku juga masih bingung dengan perasaanku. If the problem is comfortable, of course, I'm comfortable with you. However ...," Ada jeda dari perkataan Hanna, hingga membuat lelaki itu cemas.


"Katakan saja, Na! Aku tidak akan marah."


Rihanna memandang Zyan sekali lagi. Dia tahu kalau lelaki itu tulus. Namun dari sudut hatinya yang paling dalam, masih ada perasaan yang mengganjal.


"Aku tahu, kalau kamu pernah mencintai lelaki lain dulu. Dan perubahan kamu ini juga karena lelaki itu, kan? Kamu ingin balas dendam kepada orang itu, lalu membuat dia menyesal karena telah menolak mu." ucap Zyan menggebu-gebu, "Aku juga tidak masalah jika kamu menggunakan ku sebagai alat, untuk membuat lelaki itu cemburu atau apapun itu, aku rela." imbuhnya memelas.


Rihanna mulai bergerak gelisah mendengar ucapan Zyan, hingga memainkan gelas di tangan.


"Apa orang itu tahu kalau kamu berubah hanya untuk dia?" Ada kegetiran dalam suara lelaki itu.


Hanna membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering, "Gu-e ... nggak ngerti dengan omongan Lo, Yan!" elak gadis itu.


"Kami tidak perlu mengelak lagi. Aku sudah tahu, Na, dari Ibu ku."


Tangan kiri Hanna mengepal di bawah meja. Entah kenapa hatinya terasa mencelos, saat di ingatkan dengan kejadian menyakitkan dulu. Bahkan air mulai menumpuk di pelupuk mata gadis itu. Siap meluncur kapan saja.

__ADS_1


Zyan mengecup tangan kanan gadis itu dengan lembut, setelah itu dibawa ke pipinya.


Hanna masih diam. Namun saat gadis itu mengedip, air mata jatuh membasahi pipinya. Sehingga membuat Zyan khawatir. Diusap lembut pipi perempuan itu yang basah, dengan ibu jarinya.


"Sshhh, jangan menangis! Ada aku, di sini. Aku janji akan membuat kamu bahagia, Na."


"Kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku, Yan, saat itu! Di buly satu sekolah, di rumah, bahkan orang yang aku cintai juga menghinaku dengan sangat kejam." Hanna tidak bisa lagi membendung perasaan dia, hingga menangis tersedu-sedu.


Zyan langsung meraup tubuh ringkih gadis itu dalam dekapan. Tak dipedulikan baju yang basah, terkena air mata. Karena yang gadis itu butuhkan saat ini adalah sandaran untuk menopang hatinya yang sedang rapuh.


"Aku sangat membenci dia, Yan! Aku sangat membenci, semua orang yang telah merisak ku dulu!" Wajah gadis itu memerah, menahan amarah dan kesedihan. Zyan yang mendengarnya ikut marah dan sedih.


Andaikan dia tahu, kalau akan begini jadinya. Zyan akan membawa Hanna pergi sedari dulu, "Maafkan aku yang dulu tidak pernah ada di sampingmu. Aku merasa tidak berguna karena telah menyia-nyiakan wanita seperti kamu. Maafkan aku!" ujarnya sambil mendekap erat gadis itu.


Entah jadi apa dia saat ini, mungkin dia masih jadi gadis gembel dan bau ketek yang selalu dikucilkan oleh orang lain. Dia merasa berhutang budi kepada keluarga Zyan. Kemudian Hanna melepaskan rengkuhan mereka.


Dipandangnya wajah lelaki itu dengan seksama, tak dia hiraukan bagaimana wajah dia yang sembab dan basah terkena air mata, "Apa kamu serius dengan ucapan mu?" tanya Hanna memastikan.


Zyan mengangguk yakin. Lalu mengusap bekas air mata di pipi gadis itu dengan lembut, "Aku sangat yakin, dan serius dengan perasaanku." jawabnya.


"Tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku?"


"Kita bisa menjalaninya dengan pelan-pelan, Hanna. Aku juga tidak akan memaksa perasaanmu padaku!"

__ADS_1


"Aku merasa sangat bersalah jika aku,"


Zyan memotong perkataan Hanna.


"Aku tidak peduli Hanna. Yang penting kamu mau menerimaku saat ini, aku sudah bahagia."


"Zyan ...," Hanna menatap lelaki di depannya dengan berlinang air mata.


Zyan yang melihat itu langsung membawa tubuh Hanna dalam dekapannya, lagi. Kemudian dia kecup rambut panjang gadis itu, "Berarti sekarang, kita pacaran, kan?" tanya lelaki itu memastikan.


Hanna yang berada dalam dekapan hangat sang kekasih, hanya mengangguk malu. Senyum terukir manis di bibir Zyan dan juga pacar barunya.


Saking bahagianya, tubuh Hanna diangkat oleh Zyan dan di ajak berputar-putar. Tawa bahagia tercurah dari kedua pasangan yang baru saja jadian itu. Semoga saja kebahagian selalu menyertai hubungan mereka.


TBC.


Yeah selamat 🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉, siapa yang udah nungguin pasangan baru kita ini.


Bagaimana apa kalian puas?


semoga saja kalian suka.


Dikarenakan hari ini saya sedang sibuk, mungkin saya up bab selanjutnya entah nanti sore atau besok. Semoga saja nanti bisa lah, yah ...,

__ADS_1


Ohya, jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya. biar makin semangat aku menulisnya. 🤭🤭🥰🥰🥰😘😘😘😘😘


__ADS_2