Destiny RiBay

Destiny RiBay
Tidak peduli


__ADS_3

"Akh, si*lan tuh preman. Bikin badan gue sakit semua." Hanna menggerutu, sambil mengoleskan obat di area bibir dan tubuhnya, yang terkena pukulan dari preman pasar itu, "Aduh, mana besok harus ketemu klien lagi. Ibu ... bagaimana ini? Masa ketemu klien mukanya amburadul begini," tangis gadis itu pilu.


Hanna mengernyit, saat luka yang dia obati tertekan oleh tangannya sendiri, "Susah memang hidup sendiri. Apa iya gue harus nikah dulu, baru bisa ngerasain diperhatiin sama orang lain?" ujarnya pada diri sendiri.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Hanna. Dia lalu melihatnya, dan nomor tak dikenal yang tertera, "Mengganggu saja," ujarnya malas.


Diabaikannya panggilan itu dan fokus mengobati luka di lengan serta kaki. Namun lama-kelamaan, dia juga jengah dengan panggilan itu. Dengan malas, Hanna mengangkat telepon itu.


["Hallo,"]


"Maaf siapa nih?"


["Gue Bayu,"]


Hanna menjauhkan ponselnya, dan melihat dengan kerutan di dahi.


"Ada apa?" Hanna bertanya ketus. Dia tidak tahu bagaimana pria itu mendapatkan nomor ponselnya. Karena selama ini , yang tahu nomor ponsel baru gadis itu hanya keluarga dan juga Zyan.


["Apa kamu baik-baik saja?"] Terdengar suara sarat akan khawatir dari seberang telepon nya. Membuat Hanna terdiam.


["Han-na, apa kamu masih disitu?"]


"Saya baik-baik saja. Ada apa kamu menelfon? Lalu bagaimana bisa Anda tahu nomor ponsel saya?" cecar Hanna.


Helaan nafas terdengar dari Bayu, ["Itu tidak penting. Saya hanya ingin tahu keadaan kamu sekarang? Apa perlu saya datang ke apartemen kamu?"]

__ADS_1


Hanna membuang kapas bekas ke tong sampah dengan kesal, "Nggak usah ngadi-ngadi, deh! Gue nggak mau ada kerusuhan di apartemen gue kalau sampai lo Dateng kesini!"


["Oke. Gue anggap itu sebagi bentuk persetujuan kamu. Aku berangkat sekarang!"]


Tanpa bisa dibantah, Bayu sudah memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Hanna menatap ponsel itu dengan pandangan horor. Dia tidak pernah berpikir kalau pria itu akan melakukan hal ini.


"Akh ... ngapain sih itu orang mau kesini! Mana apartemen masih berantakan lagi." Hanna langsung berdiri tanpa memperdulikan luka yang belum selesai diobati. Dengan cepat dia merapihkannya, dan menaruh barang-barang ketempat semula.


"Kalau sampai tuh orang cuma mau iseng doang, nggak segan-segan gue bakalan usir dia!"


"Apa dia nggak tahu kalau gue lagi apes apa? Apa jangan-jangan tuh orang malah mau ngerjain gue juga? Haah ... belum juga kelar masalah satu, kenapa udah dateng masalah baru lagi?" ujar Hanna sambil misuh-misuh sendiri.


Usai merapihkan apartemennya, Hanna berniat duduk di sofa. Namun suara bel terdengar dari arah depan, hingga membuat gadis itu mendesah kasar, "Baru juga mau duduk, kenapa ada saja yang menggangu, sih!" keluhnya.


Hanna melihat layar intercom , dan melihat wajah Bayu terpampang di sana. Bibirnya mencebik, kemudian membukakan pintu untuk tamu tak diundang itu.


"Assalamualaikum," sapa Bayu saat melihat Hanna yang menyilangkan tangan didepan dada.


Namun senyum pria itu langsung luntur, berubah menjadi cemas, "Ada apa ini? kenapa wajah dan tubuh kamu dipenuhi luka?" tanya Bayu khawatir.


Hanna yang baru menyadari kalau dia hanya mengenakan tank top dan celana pendek, langsung salah tingkah. Dengan cepat dia berlari masuk kedalam kamar, dan menguncinya, "Bego banget sih gue? Kenapa bisa lupa kalau gue nggak pake baju. Akh ...!" teriaknya.


Bayu yang berniat mengejar gadis itu, mengurungkan niatnya. Gadis itu pasti malu karena dia memergokinya dalam keadaan seperti itu. Hampir saja dia tersenyum, tapi dia batalkan.


"Siapa yang membuat Hanna seperti itu? Terus bagaimana bisa orang suruhan gue nggak ngelaporin masalah ini? Kayaknya perlu gue pecat tuh orang, nggak becus banget ngelindungin satu cewek doang!"

__ADS_1


Tangan Bayu terkepal erat. Hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Dia memikirkan baj*ngan mana yang telah melukai gadis-nya.


Dengan cepat ia menghubungi bawahannya, "Cari tahu siapa dalang di balik penganiyaan Hanna. Saya beri kalian waktu sampai malam ini juga! Jika kalian tidak bisa menanganinya, kalian akan saya pecat!" Bayu memutuskan panggilan secara sepihak, lagi.


Tak ada senyum di wajah tampan pria itu. Justru tatapan datar dan dingin yang dia perlihatkan. Emosinya masih bergejolak panas, sampai dia menyadari kehadiran Hanna di depannya.


Raut wajah Bayu sudah melunak dan tidak sekeras tadi. Netra pria itu masih menatap khawatir wajah si gadis yang membiru, bahkan luka di bibir gadis itu masih terlihat jelas.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku?"


Bibir gadis itu meringis enggan, "Ini tidak ada hubungannya dengan Anda, jadi buat apa saya menghubungi Anda!" Hanna mencibir pria didepannya.


Bayu berniat menggapai wajah Hanna, tapi langsung ditepis oleh gadis itu. Pria itu menurunkan tangannya, dengan sedih. Padahal dia ingin memastikan sendiri keadaan si gadis, tapi ...,


Hanna mendesah lelah.


"Lebih baik anda pulang sekarang! Karena saya ingin beristirahat."


"Baiklah, anggap saja saya tidak ada. Saya akan menjaga di sini, sampai kamu tertidur."


"Terserah!"


Hanna pergi meninggalkan lelaki itu di ruang tamu. Tak dia pedulikan keberadaan Bayu, lagian dia sendiri yang meminta. Jadi jangan salahkan dia yang mengacuhkan pria itu.


TBC

__ADS_1


Crazy up. semoga kalian belum tidur😘😘😘😘


Maaf juga kalau ada typo yang bertebaran.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2