
"Sayang, pulang bareng, yuk?"
"Oke. tapi aku ke toilet dulu, yah!"
"Siap. Apa perlu di antar?"
"Apaan sih, nggak jelas banget, deh, kamu Yan!"
Rihanna pergi ke toilet untuk buang air kecil. Setelah selesai, dia mematut dirinya di kaca yang ada di dalam. Sambil mencuci tangan.
"Loh, ngapain kamu di sini?" tanya Hanna, sambil mengambil tas yang Zyan pegang, "Lagian kamu nggak perlu bawain tasku Yan," kekehnya geli.
Zyan menarik lengan Hanna, hingga membuat si pacar berhenti melangkah, "Sayang, maafkan aku, yah?" ucapnya tulus.
"Maaf? Untuk apa?"
"Karena telah membuat kamu marah?"
"Tunggu sebentar ...." Wanita itu melepaskan cengkraman tangan sang kekasih. Lalu bersandar di tembok, sambil berpikir, "Perasaan biasa saja, deh, Yan. Lagian, aku marah sama kamu itu, hal yang mustahil," imbuhnya.
Zyan tersenyum sumringah, "Jadi kamu beneran udah nggak marah lagi sama aku?" tanya pria itu antusias.
Hanna mengangguk yakin, "Emm," jawabnya berdehem.
"Terus, kenapa tadi siang kamu tinggalin aku, di kantin?"
"Oh, itu. Sebenarnya aku ingin menghirup udara segar saja, makanya aku ke atap gedung."
"Terus, HP kamu kenapa nggak aktif?"
"Tidak ada. Mungkin baterai ponselku lowbat," elak wanita itu.
"Yaudah, lebih baik kita pulang sekarang! Atau, kamu mau mampir dulu?"
"langsung pulang aja!" jawab Hanna.
Zyan kemudian membawa tangan sang kekasih, untuk digenggam. Mereka berjalan bersisian, sambil bercengkrama sepanjang koridor. Saat sampai di parkiran, Zyan membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.
"Maksih, Beb," ucap Hanna sambil cengengesan.
"Anything for you, Honey." timpal Zyan, sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rihanna terkikik geli, melihat tingkah Zyan yang super super manis hari ini. Namun bukannya merasa tersanjung, dia malah merasa ini aneh. Hati wanita itu memang patut dipertanyakan.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen. Hanna mengajak sang kekasih untuk singgah sebentar untuk minum teh. Namun dengan menyesal, Zyan menolaknya. Tadi saat diperjalanan, si kakak(Mario) menghubungi dia pulang cepat.
Jadi, Zyan mau tidak mau harus merelakan waktu bersama dengan sang kekasih, "Aku langsung pulang, yah, Beb!" ucapnya.
Hanna mengangguk, "Iya, makasih udah nganterin aku pulang. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut!" nasehatnya.
Pria itu lalu meminta sang kekasih untuk menghampirinya. Si pacar pun menurut. Wanita itu menunduk, lalu dikecup keningnya.
"I love you, Sayang."
Wanita itu terdiam sebentar. Lalu tersenyum kecil, "Ehm, aku tahu. Kamu hati-hati, yah!" ucap Hanna menjauh dari mobil sang kekasih.
Zyan mendesah kecewa. Ditatapnya punggung si pacar, yang mulai tak terlihat, "Kenapa susah sekali membuatmu berpaling padaku, sayang?" gumamnya sedih.
"Kamu nggak boleh menyerah, Zyan! Masih banyak waktu, buat meluluhkan hati Hanna. Ayo, semangat, kamu pasti bisa!" Zyan berucap, sambil menyemangati dirinya sendiri. Karena kalau buka dia, lalu siapa lagi?
...--------...
Rihanna memandang sendu mobil Zyan yang berlalu. Dia mendesah panjang, "Maafkan aku, Zyan!" ujar wanita itu.
Sebelum menaiki lift, ponsel wanita itu bergetar. Tertera nama si pemanggil, yang membuat wajahnya berubah kesal. Dengan malas diangkat panggilan itu, "Apa?" ujar Hanna langsung.
Terdengar suara tawa dari seberang telepon, yang membuat Hanna menghela nafas.
"Ada apa? Kalau tidak ada yang penting, lebih baik aku matikan!"
["Eits, tunggu dulu dong! Baru juga diangkat udah, main matiin, aja."]
"Enggak jelas banget, sih!"
["Makan, yuk?"]
Rihanna memandang ngeri kearah ponsel. Lalu ditempelkan kembali ke telinga, "Situ waras?" tanyanya sarkastik.
Lagi dan lagi. Orang diseberang sana malah tertawa.
'Apa dia sudah gila?' batin Hanna ngeri.
["Anak gadis dilarang berkata kasar, yah!"]
"Sebenarnya mau kamu apa?" Hanna berujar mengalah. Karena tiba-tiba dia merasa lelah, setiap berbicara dengan pria diseberang sana.
["Temani aku makan!"]
__ADS_1
"Tapi aku udah pulang!"
["Makanya, ayok!"]
"Ayo kemana, sih? Sumpah, yah, aku matiin nih!"
["Tambah cantik, deh, kalau lagi marah-marah kaya gitu?"]
Hanna yang merasa kalau pria itu ada di dekatnya langsung menoleh kebelakang.
["Kamu lagi cari apa?"]
Ucapan pria itu membaut hanna makin yakin. Kalau orang yang sedang menelfon dia, ada di sini, "Kamu dimana?" tanyanya *to the point.
["Coba cari aku? Kalau kamu bisa menemukannya, aku akan menuruti semua permintaanmu*!"]
"Oke, kalau begitu aku akan mencarimu. Kita lihat siapa yang akan menang!" seringai wanita itu lebar.
["Buktikan, istriku."]
Hanna langsung mengumpati pria itu. Dengan segera, wanita itu menaruh ponselnya ke dalam tas. Lalu, menjelajahi setiap Lobby apartemen dan berakhir di luar.
"Aku yakin, tuh, cowok kesini naik mobil. Tapi nggak mungkin di Basement juga. Secara itu orang bisa lihat, apa yang aku lakukan." ujar Hanna sendiri.
Wanita itu menyipitkan netranya. Saat melihat mobil yang tidak asing, berada di pelataran apartemen, "Aku yakin itu pasti mobil dia!" gumam Hanna yakin.
Rihanna berjalan mendekat ke arah mobil itu berada. Lalu ditekannya nomor si penelepon tadi. Terdengar bunyi nada dering dari dalam mobil, membuat wanita itu menyeringai.
["Seringai itu, membuat hatiku bergetar, istri!"]
Rihanna makin melebarkan seringainya. Lalu dengan tidak bersalah, langsung menendang pintu mobil pria itu dengan keras, "Upps, Sorry, sengaja!" ujar Hanna datar.
TBC
Hello, I'm comeback.
Maaf sudah membuat kalian menunggu terlalu lama. Karena ada urusan, jadi aku baru bisa up sekarang.
Semoga kalian masih stay bersamaku.
Dan biasa, jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.
Salam sayang dari Radit.😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1