Destiny RiBay

Destiny RiBay
Jepang


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Kediaman Irene dan suami, di Osaka Jepang.


Rihanna sedang membersihkan lantai keramik yang kotor. Ia dengan rajin membantu pekerjaan maid, di rumah ini. Kediaman Irene cukup besar, bahkan di banding dengan rumahnya yang di Indonesia, itu hanya seperempat saja.


"Hanna, tolong kesini, Nak!" Panggil seorang wanita cantik dari dalam kamar.


"Iya, Tante. Tunggu sebentar." Jawabnya. Hanna memang tidak di perbolehkan memanggil Irene, dengan sebutan Nyonya. Karena Irene sudah menganggap, ia sebagai keluarganya sendiri.


Hanna tentu sangat bahagia, padahal ia tidak pernah bermimpi akan di terima dengan tangan terbuka oleh keluarga Irene.


Ia kemudian berjalan menuju kamar sang tuan rumah dengan langkah lebar. Tidak lupa, ia mengetuk pintu dulu.


"Tante," panggilnya.


"Masuk, Nak!" Jawab sang pemilik rumah dari dalam kamar.


Setelah mendapat persetujuan, ia membuka pintu dengan pelan. Terlihat sepasang suami istri sudah berpakaian rapih, mungkin mereka akan menghadiri sebuah pesta. Karena pakaian yang di kenakan cukup formal jika hanya untuk acara biasa.


Kim Taehyung, suami dari Irene mendongak, melihat ke arah Hanna. Bibirnya tersenyum hangat.


"Masuk, Hanna. Kemarilah, bantu Tante kamu ini." Ucapnya. Wajahnya yang sungguh rupawan dan di tunjang dengan sifatnya yang baik, membuat Hanna merasa di terima di keluarga ini.


"Baik, Om. Permisi!"


"Hanna, sini! Bantu saya buat memilihkan tas, yang cocok dengan gaun yang saya kenakan."


"Baik, Tante." Jawabnya.


Hanna langsung membuka kabinet, berisi koleksi tas Branded yang memenuhi setiap rak. Hanna yang baru pertama kali melihat, tidak terkejut karena memang dia tidak tahu nilai harga dari 1 buah tas branded itu. Coba kalau dia tahu, bisa pingsan gadis itu.


Gadis itu mengambil tas, bertuliskan Chanel berwarna senada dengan gaun yang di kenakan oleh Irene. Ia berjalan menghampiri Irene, kemudian memberikannya langsung pada Irene.


"Ini Tante."


"Wah ... makasih yah, Nak."


"Iya sama-sama, Tante."


"Oh, iya, nanti sore anak saya mau kesini. Dia rencananya mau liburan disini. Nanti kamu jangan lupa suruh dia buat tidur di kamar lantai atas, yah." Ucap Taehyung.


Hanna mengangguk mengerti. "Baik, Om." Jawabnya.


"Kalau begitu kami pergi dulu, nanti kalau kamu mau pulang, pulang saja. Tidak perlu pamit pada kami. Lagian nanti ada Zyan yang ada di rumah."


Hanna mengernyit bingung. Ia seperti pernah mendengar nama anak dari sang pemilik rumah. Namun ia mencoba menghilangkan pikiran itu, lagian nama Zyan cukup banyak di dunia ini.


"Baik Om, Tante. Kalau begitu hati-hati di jalan."


"Makasih, yah, Hanna. Oh iya, kamu jangan lupa besok temenin, saya ke salon yah, nak! Sekalian, kamu perawatan di sana "

__ADS_1


"Tapi, Tante ...,"


"Kamu nggak perlu sungkan seperti itu. Kamu itu sudah saya anggap seperti keluarga di sini. Jadi jangan menolak pemberian saya, mengerti?"


Mata Hanna berlinang air mata. Dia langsung membungkuk, kepada sepasang suami istri itu dengan penuh terima kasih.


"Terima kasih buat kalian. Pasti anak Tante dan Om, merasa beruntung memiliki orang tua seperti kalian."


Irene dan Taehyung hanya bisa tersenyum kecil. "Kamu tidak tahu, betapa menyesalnya kami, saat harus memilih meninggalkan anak-anak kami demi bisa menjadi seperti ini." Batin Irene.


"Kami pergi dulu." Ujar sang kepala keluarga. Ia menggandeng tangan sang istri, yang tiba-tiba berubah muram.


Sang istri pasti murung karena teringat dengan kesalahan mereka dulu.


"Ayo, sayang. Kita sudah telat untuk ke acara Mr. Haruto." Ajak Taehyung kepada Irene.


Irene menatap sendu wajah sang suami. Iya mencoba tersenyum, tetapi yang keluar hanya ringisan.


Taehyung yang tahu perasaan sang istri, langsung merangkul pundak Irene.


"Mereka pasti mengerti, sayang. Lagipula nanti Zyan juga akan liburan di sini. kamu nggak boleh sedih seperti itu, nanti Hanna kira kalau saya sudah menyakiti kamu, lagi?" bujuk sang suami. Irene langsung merengkuh sang suami.


Ia menghirup tubuh suaminya yang begitu menenangkan hati.


"Terima kasih, Sayang. Dan, maaf, telah membuat kamu khawatir."


"Justru aku yang seharusnya, berterima kasih padamu. Kamu selalu menemaniku, di saat aku sedang membutuhkan kekuatan. I love you, sayang."


"Kapan, yah, aku punya lelaki seperti Om Taehyung. Udah ganteng, baik, penyayang lagi." Batin Hanna.


 


Sore hari


Hanna keluar dari ruang baca yang ada di lantai atas , saat mendengar bunyi bel pintu. Ia berjalan cepat , supaya sang tamu tidak menunggu terllau lama. Tidak lupa juga ia merapihkan rambutnya yang lurus, setelah di make over oleh sang tuan rumah.


Pintu ia buka, dan menampakan punggung tegap seorang laki-laki di depannya. Hanna menebak, bahwa laki-laki itu adalah anak dari pemilik rumah yang tadi mereka bicarakan.


"Silahkan, masuk Tuan." Ujar Hanna sambil membuka pintu lebar-lebar. Ia menunduk tidak nyaman, saat laki-laki melihatnya intens.


Zyan melihat gadis di depannya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Sejak kapan Mama sama Papah punya pembantu, seperti ini?" tanya laki-laki itu dalam hati.


"Kamu siapa?" tanya laki-laki langsung.


Hanna meringis saat mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari si tamu.


"Saya hanya diamanatkan untuk menyambut tuan Zyan. Mari tuan, ikut saya." Ujar Hanna sopan. Ia tidak memperdulikan pandangan laki-laki itu pada dia.


"Ckckck." Decak Zyan. "Terus kemana orang tuaku?" tanya Zyan pada akhirnya.

__ADS_1


Ia yang merasa lelah hanya bisa mengikuti kemana gadis itu membawanya. Ia menghubungi ibunya, dan memberitahukan bahwa ia sudah sampai di rumah.


"Ini tuan, kamar Anda. Saya permisi dulu, nanti kalau tuan butuh sesuatu bisa panggil saya." Ucap Hanna lalu pergi meninggalkan sang anak pemilik rumah.


Zyan masih memandang tubuh gadis itu dengan kerutan di dahi. Ia seperti pernah melihat wajah gadis tadi.


"Tapi, tidak mungkin gadis itu ada di sini. Lagian ...," lirih Zyan.


"Sudahlah tidak penting. Yang penting sekarang gue mau istirahat dulu. Badan gue terasa remuk, padahal di pesawat hanya duduk. Namun tetap saja lelah."


Ia lalu membuka pintu kamar berwarna coklat itu, kemudian lidahnya berdecak. Ia sudah menduga kalau ini pasti kerjaan dari sang ibu. Mana mungkin sang Ayah yang melakukannya.


"Ckckck. Apa Mamah kira, gue masih anak kecil ,apa?" Decak Zyan saat menemukan Bonek Batman yang ada di atas kasurnya.


Ia memang suka dengan salah satu karakter itu, tetapi sekarang ia hanya mengoleksi miniaturnya saja. Tidak dengan boneka, yang sekarang minta di buang.


"Cih. Terus mana mungkin juga gue buang tuh boneka, bisa di bantai gue sama Mamah." Gerutunya sendiri.


"Haah ... lebih baik gue istirahat dulu sebentar. Biar nanti gue beres-beresnya."


Akhirnya Zyan lebih memilih tidur dari pada harus berbenah koper serta barang yang dia bawa dari Indonesia. Ia di sini juga berniat hanya dua Minggu, habis itu dia akan pulang lagi.


Ia kesini hanya karena bujukan sang mamah, yang memberitahukan bahwa ia sangat merindukan sang anak. Intan serta Mario tidak bisa ikut karena ada urusan sendiri, jadilah ia yang berangkat ke Jepang sendiri.


******


Keesokan paginya


Hanna sudah berada di rumah Irene. Ia sudah janjian dengan sang tuan rumah untuk menemani ke salon. Ia juga sudah berpakaian rapih.


Ia kini sudah mengenakan dress berwarna putih, pemberian dari Irene. Wajahnya juga sudah mendingan sekarang. Jerawat di wajah sudah mulai berangsur sembuh, bahkan masalah bau ketiaknya juga sudah beres.


Kali ini Irene akan membawa Hanna ke salon untuk perawatan, lagi. Karena sejak pertemuan ke dua, Irene sudah langsung membawa Hanna ke salon. Ia juga sudah meminta seorang dokter spesialis, untuk menangani masalah bau ketiak Hanna.


Dan hasilnya sekarang Hanna sudah tidak baik ketiak lagi. Irene juga membelikan beberapa baju, gaun serta sepatu yang bisa di gunakan Hanna nanti, ketika mereka akan pergi keluar.


Kenapa Irene bisa sebaik itu kepada Hanna?


Karena Irene pikir, ia ingin menebus kesalahan ia pada anaknya. Jadi ia melakukan dengan membantu Hanna untuk merubah penampilan gadis itu. Lagian sang suami juga mendukung, jadi kenapa tidak.


"Morning, sayang." Sapa Irene, saat melihat Zyan yang baru bangun tidur.


"Sayang, sini, deh! Kamu udah kenalan sama Hanna belum?" imbuhnya.


Zyan langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis di sebelah sang mamah dengan kaget.


"Gue nggak salah denger, kan? Kenapa Mamah manggil gadis itu, dengan nama Hanna? Lagian ada berapa nama Hanna di dunia ini, tolong kasih tahu gue!" Batin Zyan.


Ia langsung berjalan cepat dan berdiri di depan gadis itu.


"Kamu, Rihanna, kan?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2