Destiny RiBay

Destiny RiBay
Luka dan obatnya


__ADS_3

Kediaman Malik


"Ayah, Hanna pulang."


"Di belakang, Nak!"


Suara teriakan dari arah belakang terdengar, membuat Hanna bergegas ke sana. "Tumben, sepi? Biasanya ada Mak Tere," ujarnya sambil lalu.


Saat sudah sampai di taman belakang, Hanna melihat sang Ayah sedang duduk sambil membaca buku. Senyum manis terulas dari bibir si anak. Kemudian dengan berjalan mengendap-endap, dia merengkuh tubuh Malik dari belakang. "Kangen~ ...," ucapnya manja


Malik yang menyadari kehadiran sang anak, langsung melengkungkan bibirnya. "Ayah juga kangen sama kamu, Nak. Bagaimana kabar kamu?" timpal si ayah.


Hanna beralih duduk di kursi samping sang ayah, lalu bersandar di bahu Malik. "Gimana kabar, Mama?" Terdengar helaan nafas berat dari sang kepala keluarga. Dia sudah mendengar, kalau Masayu sudah tidak tinggal di sini.


"Mama kamu masih suka berhalusinasi tentang Lia, dan juga sering mengamuk. A-pa ... Ayah tidak keterlaluan, Nak?"


Hanna mengambil telapak tangan Malik, yang sudah mulai berkerut termakan usia. Dia jadi ikut sedih melihat keadaan sang Ayah. "Apa yang dilakukan Ayah itu sudah benar. Kalau semisal Mama berada di sini, ini juga bisa membahayakan buat kita. Jadi, tidak perlu merasa bersalah seperti itu," jawab sang anak.


"Aku hanya merasa, kasihan pada Mamamu. Dia pasti terpukul sekali,"


"Ayah, dengerin!" Hanna meminta Malik untuk menatap wajahnya. "Apa ayah tidak ingat, saat dia menghina, dan merisakku dulu? Tolong, Yah! Biarkan dia pergi, dan aku juga ingin hidup bersama denganmu di sini," pinta si anak memohon.


"Tapi ...."


"Ayah ingin aku bahagia?" sela Hanna.


"Tentu. Ayah mana yang tidak ingin anaknya bahagia, kamu jangan suka ngada-ngada, deh, sayang."

__ADS_1


"Maka dari itu, lupakan dia! Lalu kita buka lembaran baru, aku janji akan membuat hidup kita seperti saat kita hidup berdua dulu."


"Tepatnya, kita bertiga." Tiba-tiba dari arah pintu, terdengar suara orang menyahut membuat mereka serempak menoleh.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Hanna memandang tiga orang itu dengan pandangan bingung. Bukankah mereka sedang ...


"Ada apa ini, Ton? Kenapa kalian ke sini?" ujar Malik sambil berjalan mendekat ke arah sahabat baiknya, lalu mereka pun berpelukan.


"Lebih baik kita bicarakan ini di depan, bagaimana?" timpal Toni.


Malik lalu membawa si tamu ke depan, lalu meminta Hanna untuk membuatkan minuman untuk mereka. Hanna, hanya mengangguk saja, dan pergi ke dapur. Namun, ternyata Bayu mengikuti wanita itu dari belakang. Tentu saja setelah meminta persetujuan dari si calon mertua.


"Apa kamu terkejut?" Bayu bertanya tepat dibelakang wanita itu, hingga membuat Hanna berjingat kaget. Lalu memukul lengan pria itu kesal.


"Sekali lagi kamu ngagetin, aku bakalan tendang kamu dari sini!" hardik Hanna.


"Ngapain, sih, kamu ngikutin aku terus?" Hanna berucap ketus saat lagi-lagi, Bayu mengikuti dia yang sedang membuka kulkas.


Bayu menghedikan bahu tak peduli, tapi tetap tidak mau menyerah. Dia justru makin semangat, menggoda Hanna. Seperti mengganggu Hanna yang sedang membuat kopi atau teh, dan itu benar-benar membaut wanita itu geram.


Dengan sekali sentak, tangan pria itu kini sudah berada dibelakang punggungnya. "Sekali lagi kamu rese lagi, bakalan aku nggak segan-segan buat banting tubuh kamu di sini!" ancam Hanna serius.


Namun, bukannya takut. Bayu malah tersenyum, dan dalam sekali gerak. Kini, tubuh Hanna yang dihimpit oleh pria itu. "Ternyata, tenaga kamu oke juga, Sayang. Bagaimana kalau kita gunain buat hal yang lebih bermanfaat?" ujarnya berbisik.


Hanna meronta. Namun, kekuatan Bayu ternyata juga tidak bisa diabaikan oleh wanita itu. "Maksud kamu, apa?" geramnya.


"Kamu akan tahu, tapi ... setelah kamu menerima lamaran ku," bisiknya lembut hingga membuat buku kuduk Hanna meremang.

__ADS_1


"Bisa, tolong lepaskan aku?" pinta Hanna.


"Tidak, sebelum kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi!"


"Hanna, apa sudah jadi minumannya?" teriak Malik dari arah ruang tamu.


Hanna yang merasa cengkraman Bayu melemah, langsung melarikan diri. Wanita itu menyuruh pria itu untuk pergi dari dapur. Namun, ditolak langsung.


"Mau kamu apa, sih, Bay?" rutuk wanita itu kesal.


"Mau aku adalah ... kamu jadi istriku!" Bayu memegang telapak tangan Hanna, kemudian menciumnya. "Apa kamu bersedia menikah denganku, Hanna?" lanjutnya serius.


Hanna menggigit bibirnya, menahan debaran jantung yang seolah-olah habis berlari maraton. Bahkan kedua pipi gadis itu sudah merona.


"Rihanna, ijinkan aku untuk mengobati luka yang pernah aku torehkan padamu dulu? Dengan cara menjadi teman hidupmu, hingga kakek nenek. Apa kamu bersedia?"


Hanna merasakan kepalanya diusap oleh seseorang, dan ternyata Malik pelakunya. Pria tua itu lalu mencoba menyakinkan keraguan sang anak. "Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Mungkin, dulu nak Bayu pernah melukaimu hingga ke dasar hatimu. Namun, percayalah, kalau obat luka itu justru ada di orang itu juga." Nasehat sang ayah pada si anak.


Mendengar nasehat Malik, Hanna kemudian menoleh ke arah Bayu. Di mana pria itu masih di posisi semula berdiri sambil menunggu kepastian. "A-pa, aku bisa memegang janji kamu itu?" tanyanya ragu.


Bayu tersenyum manis. Lalu mengangguk yakin. "Kamu bisa bunuh aku, jika aku mengingkarinya, Hanna!" ujarnya serius.


"Benar, Nak, Hanna. Mamah pastikan, kalau sampai Bayu menyakiti kamu lagi, akan dicoret dari Kartu keluarga!" timpal Rina, hingga membuat gelak tawa itu terdengar jelas sampai luar.


Hanna menatap sekali lagi pria itu, kemudian menggigit bibirnya. "Em ... a-ku ... ma- ... Akhhhhhh!" Wanita itu berteriak keras, saat melihat tubuh Bayu jatuh menimpa dirinya. Namun, yang membuat dia shock adalah keberadaan pria lain yang sedang mengacungkan senjata tajam yang sudah berlumuran darah.


"Apa kamu gila, hah!" teriak Hanna keras.

__ADS_1


TBC


__ADS_2