
Rihanna pulang ke apartemen dengan perasaan puas. Dia merasa senang sudah bisa melihat wajah Lia yang pucat pasi. Apalagi setelah di marahi oleh Malik habis-habisan tadi.
Namun, langkah Hanna terhenti dan juga senyum gadis itupun luntur. Saat melihat kejadian bejat di depan matanya, "Apa yang sedang mereka lakukan di sini?" gumam perempuan itu.
Tubuh gadis itu tiba-tiba begetar ketakutan, kilasan saat dirinya di bully melintas di pikirannya. Hanna menggelengkan kepala supaya dia sadar, bahwa kejadian itu sudah lama berlalu.
"Gue harus tolongin tuh, orang! Gue nggak bisa diam saja seperti ini!" ujar gadis itu sambil mendatangi segerombolan orang yang sedang berusaha melepaskan baju seorang gadis belia.
"Yakh, jangan beraninya keroyokan kaya gitu! kalau berani sini lawan gue, satu satu!" tantang gadis itu berani.
Bersyukur Hanna sudah belajar beladiri di Jepang bersama dengan Zyan. Jadi sekarang dia sudah bisa melawan jika ada seseorang yang jahat padanya.
"Hai cantik? Dari pada kita berantem, mending kamu temenin kita-kita, iya nggak guys?" ucap salah satu pria bertubuh kekar kepada Hanna.
Sahutan menggoda dari teman lelaki itupun terdengar saling menyahut, hingga membuat lorong apartemen yang sepi menjadi mengerikan. Gadis yang tadi hampir saja dilecehkan, lansgung memeluk dirinya sendiri di pojokan.
"Cih, jangan mimpi! Karena kalian itu hanyalah sampah masyarakat, yang tidak berguna bagi orang lain." hardik Hanna tajam.
Lelaki berbaju hitam itu langsung marah, dan tanpa aba-aba menendang tubuh Hanna tetapi langsung dielak oleh gadis itu dengan cepat, "Cuma segitu doang? Cih!" Setelah itu Hanna langsung menendang punggung lelaki itu dengan keras.
Melihat temannya jatuh terkulai lemah di lantai, membaut merek saling melirik dan menyerang secara bersamaan. Tiga lawan satu, pertarungan yang sangat tidak imbang. Namun Hanna bisa mengatasinya.
Akhirnya sabuk hitam gadis itu berguna juga di saat seperti ini. Walaupun mengalami memar di punggung dan lengan, karena terkena pukulan kayu oleh salah satu pria itu. Hanna tetap berdiri tegak.
Gadis itu meludah dan darah yang keluar, "Apa kalian belum puas juga? Atau kalian ingin saya panggilkan polisi, juga?" gertak Hanna keras.
Para pria jahat itu yang sudah babak belur, mulai lari tunggang langgang. Meninggalkan Hanna dan juga korban tadi di lorong apartemen.
__ADS_1
"Dasar Cemen! Beraninya sama cewek doang! Huuhhh,"
Hanna mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi dan bersorak bahagia. Saking semangatnya, dia sampai meringis. Sadar luka dipunggung dan lengan perlu diobati, gadis cantik itu melihat ke arah korban tadi.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hanna lembut.
"Te-ri-ma ka-sih ka-kak, su-dah mau me-nolong a-ku," ucao gadis itu bergetar.
Hanna kemudian merengkuh tubuh gadis itu yang bergetar kedalam pelukannya, "Does not matter. I'm glad I could help you. So, you are safe now. Dimana kamar kamu, biar saya antar?" tawarnya lembut.
Gadis itu menggeleng, "Tidak usah. Sebaiknya, obati saja dulu luka kakak. Saya jadi merasa bersalah, karena saya kakak jadi terluka seperti ini!" ujarnya.
"Ohya, nama kakak siapa? Aku Tiara."
"Panggil saja, Hanna."
"Baiklah, kak Hanna. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pertolongan kakak tadi. Kalau saja kakak tadi tidak datang, mungkin aku sudah," Tiara tidak sanggup melanjutkan ucapannya, karena gadis itu sudah menangis duluan.
Tiara kemudian mengangguk, lalu pergi meninggalkan Hanna ke apartemen nya berada.
Hanna memandang punggung Tiara dengan awas, dia ingin melihat kalau gadis itu sampai di depan rumah dengan selamat.
"Lebih baik aku pulang, dan mengobati lukaku dahulu. Si*lan tuh bedebah, udah buang-buang tenaga aku saja!" gerutu gadis itu sambil berjalan ke arah pintu apartemennya.
...-----------...
Hari ini adalah peringatan hari jadi perusahaan dimana tempat Hanna bekerja. Banyak tamu undangan yang datang ke acara ini, termasuk Bayu dan Ririn. Mereka berdua diundang langsung oleh pemilik perusahaan, yang ternyata adalah adik dari Rani. Ibu dari Bayu Atmaja.
__ADS_1
Hanna yang datang bersama dengan Zyan malam ini, sangat terlihat mencolok. Wajah tampan dan cantik dari kedua pasangan itu, mampu menyedot perhatian banyak orang,
"Sayang, kita kesana dulu, yuk! Ada seseorang yang harus aku temui di sana," Zyan menggiring Hanna ke teman relasi kerja mereka. Zyan memandang kagum wanita di sampingnya yang sangat cantik malam ini. Tak pernah bosan, dia memandang wajah sang kekasih.
"Kamu cantik sekali hari ini, Sayang." puji Zyan jujur.
Pipi Hanna merona malu saat dipuji oleh sang kekasih. Walaupun belum bisa menerima pria itu seutuhnya, tetapi tetap saja. Namanya perempuan kalau dibilang cantik pasti langsung salah tingkah.
"Gombal," ucap Hanna sambil memukul lengan sang kekasih.
Zyan terkekeh geli, saking gemasnya pria itu sampai memeluk gadis itu erat. Hingga membuat Hanna meringis dibuatnya, "Akh," rintihnya.
Zyan yang kahwatir langsung melepaskan rengkuhan gadis itu itu, dan menatap Hanna khawatir.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa aku menyakitimu?"
Hanna menggeleng.
"Nggak, Yan! Tadi cuma kaget aja," dusta gadis itu.
Zyan bernafas lega, dia pikir kekasihnya sakit. Ternyata hanya kaget saja.
Sementara itu, Bayu yang sedang bersama Ririn dan juga relasi bisnisnya, memandang tangan Zyan tajam yang bertengger manis dipundak Hanna.
'*Kamu itu milikku, dan akan tetap menjadi milikku, sampai kapanpun!'
Tbc*
__ADS_1
Ya ampun akhirnya bisa crazy up juga.
Jangan lupa like komen dan hadiahnya yah. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰