
"Hanna, apa kamu melihat di mana Lia berada?"
Perempuan itu mengernyit heran, saat ditanya oleh sang Ayah, "Maksud ayah apa? Aku tidak mengerti?" jawab Hanna bingung.
Dia kini sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. Karena ingin menepati janji untuk menemani Malik memancing di danau terdekat. Namun, saat Hanna sampai dia malah dikejutkan dengan wajah Masayu dan sang Ayah.
Kalau Masayu dia tidak peduli, tapi kalau ini menyangkut Malik. Hanna pasti khawatir. Dengan gerakan cepat, si anak mendekap tubuh sang Ayah.
"Ada apa ini Ayah? Coba ceritakan padaku,"
Masayu menatap tajam si anak tiri, "Katakan, sebenarnya kamu tau, kan, dimana keberadaan Lia?" tanya wanita tua itu dengan marah.
"Kenapa kamu jadi menuduh Hanna, Mah? Dan tolong, jangan kamu menatap anakku seperti itu!" timpal Malik ikut terpancing emosi.
Dia paling tidak suka jika ada orang yang menyudutkan anaknya.
"Tapi, Pah ... ini pasti semua ulah dia."
"Atas dasar apa kamu menuduh Hanna yang menyembunyikan Lia?"
"Jelas karena anak itu tidak suka dengan Lia! Sedari dulu dia, kan, tidak pernah menyukai kami. Jadi sudah jelas dia pasti pelakunya!" Masayu semakin menyudutkan Hanna, hingga membuat Malik menoleh ke arah anak gadisnya .
"Sayang, apa benar perkataan Mamah kamu?" tanya Malik memastikan.
Hanna kemudian menggeleng. Dia tidak menyangka, kalau si wanita bunglon itu dengan gampangnya memutar balikkan fakta. Lalu dia menatap Masayu yang kini sedang menatap dia berang.
"Mana buktinya jika aku yang menyembunyikan anakmu?" tanya Hanna dingin.
Masayu hendak menerjang si anak tiri, tetapi di gagalkan oleh Malik.
"Lepas, Pah! Aku ingin menjambak rambut anak itu. Berani sekali dia menatapku seperti itu!"
"Tolong kontrol emosi kamu! Dia juga anak kamu, Mah!"
__ADS_1
"Aku tidak sudi mempunyai anak seperti dia! Dalam mimpi pun aku tidak akan mau menerima dia sebagai anakku!" Masayu menjawab tegas. Bahkan mata wanita itu sampai memerah, marah.
Sedangkan Malik yang mendengar perkataan Masayu, lalu menamparnya.
"Apa kamu sudah gila, hah?" teriak pria itu dengan keras, "Jadi selama ini, kamu tidak pernah menganggap Hanna adalah anak kamu, begitu?" gumamnya.
Masayu memegang pipinya yang terasa panas. Bahkan berkat tamparan Malik, pipi wanita itu jadi memerah.
"Benar! Selama ini aku memang tidak pernah menganggap dia! Karena apa?" ujarnya berapi-api, "Dia adalah anak yang tidak berguna. Apa kamu tidak lihat, selama ini dia selalu membawa sial buat keluarga kita. Tetangga sering membicarakan dia yang sangat dekil itu!" berondong wanita itu tak berperasaan.
Hanna yang sudah tidak tahan lagi. Langsung meminta Malik untuk pergi ke kamar. Dia yang akan menyelesaikan masalah ini.
"Ayah lebih baik istirahat, dan masalah ini.Biar Hanna yang selesaikan!"
"Tapi dia sudah menghina kamu Sayang, Ayah tidak terima?" kilah Malik saat si anak mendorongnya ke kamar.
"Percaya padaku. Ayah cukup istirahat, dan jangan pikirkan perkataan ibu."
"Mungkin dia sedang panik Sayang. Makanya dia jadi begini. Tolong maafkan mamah kamu, yah,sayang. Dia pasti sedang kalut makanya dia seperti itu," Hanna tak menanggapi perkataan sang Ayah. Justru, gadis itu kembali ke ruang tengah dan menghadapi si ibu tiri.
Hanna tidak memperdulikan kemarahan yang ada di tubuh Masayu. Justru, dia malah dengan santai duduk dengan anggun di sofa single di depan wanita tua itu.
"Seharusnya saya yang berbicara seperti itu dengan Anda. Setelah perbuatan anak kamu yang hampir saja melecehkan saya. Dengan menyuruh preman pasar itu, menghadang saya. Tapi sayang," Hanna berjalan mendekat ke arah Masayu. Lalu berbisik di telinga si ibu tiri, "Mereka bukanlah lawan yang pas buat saya. Seorang pemegang sabuk hitam." ujarnya angkuh.
Masayu lalu mendorong tubuh Hanna menjauh.
"Lalu dimana sekarang anak saya, hah?" teriaknya murka sambil membanting vas bunga ke arah Hanna.
Darah mengalir dari tangan gadis itu. Hanna menatap berang wanita itu. Dengan berani, dia mengambil pecahan vas itu dan di genggamnya kuat.
Tetes demi tetes, darah mulai mengucur dari sela jari tangan Hanna. Namun dia tidak peduli. Justru, dia ingin membuktikan pada si ibu tiri bahwa dia tidak lagi dengannya.
Sementara Malik yang mendengar suara bising itu, lalu keluar. Betapa terkejutnya dia saat menemukan sang anak yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Masayu ... apa yang sedang kamu lakukan pada anak saya, hah?" Teriak Malik murka.
Malik mencoba melepaskan rengkuhan tangan Hanna yang menggenggam pecahan vas bunga itu, agar terlepas.
"Ada apa ini? Kenapa tangan kamu sampai berdarah seperti ini?"
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku masih bisa mengatasinya." Hanna memang sengaja memilih melukai tangan kirinya. Supaya dia masih bisa bekerja, dan ini juga sebuah peringatan untuk si ibu tiri. Kalau dia sudah bukan Hanna yang dulu lagi.
Kini, yang ada adalah Hanna yang sudah terlahir kembali. Dengan kecantikan dan kekuatan yang bisa melawan mereka, yang sudah menindaknya dulu.
"Dan untuk anda, nyonya Masayu!" Ada jeda beberapa detik, saat Hanna melanjutkan, "Saya tidak seperti anak anda yang bin*l itu. Jadi saya tidak berniat menculik dia, apalagi mengotori tangan saya. Cih!" Setelah mengatakan itu, Hanna pergi dari rumah Malik.
Diabaikannya panggilan dari si Ayah. Lalu memilih meninggalkan pelataran rumah mereka, menuju makam sang ibu.
Sesampainya di pemakaman, Hanna membalut luka di tangan dengan sapu tangan seadanya.
"Bu, apa Hanna salah hidup di Indonesia? Apa aku harus pergi jauh dari sini, dan kembali menata hidup di negeri orang lagi? Lihat Bu ..., ini adalah luka yang baru aku dapatkan hari ini. Entah sudah berapa banyak luka yang aku dapatkan selama aku kembali ke sini."
Angin mulai berhembus di sekitar Hanna. Hingga membuat gadis itu merasakan seperti sang ibu yang datang menghampiri dan mengusap tangannya yang terluka.
Tiba-tiba, tangis gadis itu pecah. Hanna menangis sambil memeluk makam sang ibu. Tak dipedulikan baju dia yang kotor terkena tanah.
"Ibu tolong bawa aku pergi bersama ibu. Aku tidak mau hidup lagi. Bahkan, a-yah juga tidak terlalu peduli denganku. Yang dia pedulikan sekarang hanyalah istri dan anak Lia. Aku lelah Bu, jika harus menjalani ini sendirian."
"Sshhh, kenapa kamu berbicara seperti itu. Ada aku di sini! Jangan pernah merasa sendiri, jika kamu membutuhkan bantuan atau apapun. Aku akan dengan senang hati akan membantu kamu. Jadi stop, mengatakan ingin pergi dari sini!"
Pria itu lalu meraup tubuh Hanna ke dalam pelukannya.
Sedangkan sang gadis, semakin menenggelamkan wajahnya di tubuh pria berkemeja putih itu.
TBC
hayooo siapa kira-kira pria itu?
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote. hadiahnya juga jangan lupa.
Besok hari Minggu? kira-kira ada yang nungguin nggak yah? Kalau ada, aku up tapi kalau nggak ada, ya aku liburan juga. 🤭🤭🤭🤭