
Ririn POV
"Akh ... sakit sekali," erangku.
"Huft, sepertinya aku terlalu mabuk semalam, sampai pening sekali kepalaku." Aku memukul-mukul kepalaku yang sakit dengan cukup keras.
Aku membatu, saat merasakan ada pergerakan di sampingku.
Ku tolehkan kepalaku dengan pelan, dan saat itu juga, "Aakh," teriakku reflek menendang lelaki yang tidak memakai baju itu dengan keras.
"Yakh, apa kau gila hah? Ini sakit, anj*Ng!" pria itu bangun sambil berkacak pinggang ke arahku. Netranya menatap tajam, lalu berkata, "Enggak usah sok suci, deh, Lo!" ucap pria itu sinis.
"Maksud lo apa hah?" geramku.
Pria itu berdecih lalu menunjuk kearah tubuhku, "Gue tahu kalau tubuh lo itu, udah biasa di jamah oleh banyak pria, kan? Dasar jal*Ng!" ucapnya kasar.
Aku yang masih belum sadar dengan keadaan tubuhku yang polos ini, memandang tajam pria sial*n itu.
"Denger, yah! Sejalang-jalangnya gue, nggak bakalan tidur sama lo. Dasar sampah!"
Pria itu menyeringai, "Lalu, siapa semalam yang mendes*h di bawahku, hah, kalau bukan elo?" ejeknya. "Lihat ... lo aja nggak malu telanja*ng sedlperti itu depan gue. Apa lo nggak sadar, cih!"
Aku langsung melihat tubuhku, dan langsung terperangah. Ku ambil selimut yang terjatuh di lantai, lalu menutupi tubuhku yang polos, "Dasar Bajing*n! Apa yang telah lo lakukan ke tubuh gue?" teriakku kalap.
"Kalau gue bajing*n, lalu lo apa? lont* atau apa? Lagian bukannya lo yang semalam ngajak gue ke sini?" seringai pria itu sangat membuat ku muak.
Dengan memegang kuat selimut, aku menghampiri pria itu, lalu menamparnya keras, "Jangan pernah memanggilku seperti itu! Karena orang seperti lo itu nggak pantas buat menilaiku. Ah, dan ingat satu hal lagi! Lebih baik lo bungkam mulut lo yang kotor itu, dan jangan pernah tampakkan wajahmu dihadapan ku lagi." ancamku penuh peringatan.
"Tanpa Lo minta pun, gue juga sudi buat bertemu per*k kaya lo." Setelah mengatakan itu, si pria memakai baju dan celana dengan asal. Lalu pergi meninggalkanku seorang diri.
__ADS_1
Usai mendengar bunyi pintu tertutup, Aku langsung melepaskan cengkraman ku pada selimut, dan membiarkan selimut itu jatuh ke lantai. Aku melangkah menuju kamar mandi dengan emosi yang meluap-luap.
Teringat dengan kejadian semalam, Aku menjambak rambutku dengan keras. Bayangan wajah Bayu terlintas di benakku, "Gue harap Bayu nggak lihat gue semalam. Karena kalau sampai itu terjadi, bisa berakibat fatal dengan hubungan gue sama dia," rancauku ketakutan.
Aku melihat tubuh ku yang dipenuhi bercak merah dan kebiruan disana, "Lo bego banget sih, Rin. Kenapa lo bisa lepas kontrol kaya gini semalam?" Aku terus menggerutu di dalam kamar mandi, sambil menggosok tubuhku dengan sabun.
Selesai mandi dan memakai baju, aku bergegas meninggalkan hotel. Aku akan minta penjelasan dengan Bella, siapa tahu dia tahu kejadiannya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama aku tidur dengan seorang pria. Dan yang tahu hanya Bella, Mei, dan Ratih, karena Meraka tidak jauh berbeda denganku.
Salahkan saja Bayu yang tidak mau membelaiku. Jadi ku lampiaskan dengan mencari kepuasan dengan orang lain.
Ini bukan salah aku dong, salahkan saja jiwa bar-bar ku yang butuh pelampiasan.
"Halo, Bel. Tolong jemput gue di hotel sekarang juga!" ucapku saat panggilan telepon ku tersambung dengan Bella.
"Gue nggak mau tahu. Gue tunggu dalam lima menit kalau sampai lo nggak dateng. Jangan salahkan gue, kalau video lo sama Panji bakalan gue sebar luaskan!" Aku mematikan panggilan itu secara sepihak, tanpa mau mendengar balasan dari Bella.
Mungkin sekarang Bella sedang mengumpati Ririn, karena dengan seenak udelnya menyuruh dia datang dalam lima menit. Padahal jarak rumah Bella ke hotel cukup jauh.
Aku berdiri di samping lobby dengan pikiran yang semrawut. Namun aku tetap diam dan berdiri dengan anggun. Karena tidak mungkin juga aku memperlihatkan kemarahanku, di tempat umum seperti ini.
Mau ditaruh mana muka gue?
Setelah menunggu hampir lima belas menit. Akhirnya Bella datang dalam keadaan yang cukup kacau. Aku menertawakannya, yang datang ke sini tanpa memakai make atau baju yang biasa dia kenakan.
"Lo udah kaya gembel yang sedang minta-minta, Bel." ujarku mencemooh.
Bella langsung menggeram marah, dan menepuk punggung ku keras, "Salah siapa ini, hah? Lo yang minta gue buat dateng dalam waktu lima menit. Padahal jarak rumah gue kesini itu jauh, Nona!" Aku menangkap nada marah dari perkataannya.
__ADS_1
"Dan itu bukan urusan gue! Lebih baik lo bawa gue pulang, karena gue lagi nggak mood buat ngasih penjelasan apapun sama lo!"
"Cih, emang gue peduli! Lagian tanpa Lo kasih tahu, gue juga udah ngerti, kok!"
"Sebahagia lo aja, Bel!"
Aku berdecak kesal. Lalu menyandarkan tubuhku ke jok mobil Bella, dan menutup mata. Entah kenapa aku merasa lelah dengan hidup ini.
Bayu yang selalu acuh tak acuh padaku.
Orangtuaku yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Dan hidupku yang kerjaannya hanya shopping ke Mall, dan hangout ini membuatku jenuh.
"Haahhh," desahku panjang.
"Lo kenapa sih, Rin? Biasanya lo juga happy terus, kenapa lo sekarang udah kaya orang depresi begitu? Apa cowok yang semalam nggak memuaskan lo, sampai lo uring-uringan kayak gini?" tanya Bella.
Aku mengabaikan ucapan Bella dan berpura-pura tidur. Jujur aku sedang ingin menangis, dan butuh Bayu di sampingku. Namun, itu tidak mungkin.
Bayu saja selalu menghindar saat aku mendatanginya. Terus, aku harus mengeluh pada siapa?
TBC
Bab ini khusus buat Ririn seorang. Jangan hujat aku.🙏🙏🙏
Jangan lupa, like dan komen.
komentar terbaik akan mendapatkan hadiah dariku.
__ADS_1