
Bayu, Zyan, Radit, Alam, dan juga Rihanna, kini sedang menikmati waktu kebersamaan mereka di apartemen si perempuan. Bahkan kekacauan yang dibuat oleh empat pria itu, membuat sang pemilik hanya mengusap dad*. Ruangan yang biasa sepi, kini berubah ramai.
"Kalian ini sebenarnya datang kerumah saya itu mau ngapain, sih?" ucap si pemilik dengan kesal.
Bayu yang melihat wajah Hanna yang berubah bete, menjadi tidak enak. Dia melihat ke arah temannya yang lain, yang masih sibuk dengan guyonan mereka. Lalu beralih ke lantai, dimana banyak bungkus Snack yang bercecer.
"Mau ngerusuh lah!" Radit menyahut enteng, sambil memakan kacang dan kemudian membuang kulitnya ke lantai.
"Udah biasa mereka seperti ini, Sayang," timpal Zyan sambil sibuk main PS.
Loh, sejak kapan Rihanna mempunyai Play Stasion? Lalu jawabannya adalah tidak pernah punya. Karena PS itu milik Alam yang dia bawa ke sini. Mereka bener-bener sudah mempersiapkan ini semua.
Rihanna lalu memberengut kesal. "Pokoknya, aku nggak mau tahu! Nanti, sebelum kalian pulang, harus rapihkan ini semua! Kalau tidak ...," jeda Hanna sambil menatap tajam para pria, "Aku akan menendang kalian satu-persatu, sampai kalian memohon ampun padaku!" imbuh si pemilik rumah mengancam.
Zyan, Radit, Alam memandang ngeri, wanita yang sedang berkacak pinggang dihadapan mereka. Sedangkan si Bayu memilih diam saja, sambil sibuk bermain game di ponsel. Mereka semua kompak, mengabaikan si pemilik rumah yang sedang kesal.
"Oke, kalau kalian maunya seperti itu." Hanna menyeringai, kemudian menarik colokan kabel yang menghubungkannya dengan Play Stasion itu.
"Yakh!" teriak Zyan, Radit dan Alam kompak.
Sementara itu, Bayu yang mendengar si teman berteriak, sampai melemparkan ponselnya. "Anjr*t, kalian tuh, bikin kaget gue aja!" ucap pria itu s
"Noh, si Hanna, tuh!" jawab Alam, sambil menunjuk Hanna kesal.
"Sayang, kok dicabut sih?" tanya Zyan protes.
"Pokoknya, aku nggak mau tahu. Kalian harus bereskan semua kekacauan ini, sekarang juga!" ucap si pemilik apartemen, "Saya kasih waktu lima belas menit, dari sekarang!" sambungnya tajam.
Usai mengatakan itu, Hanna masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.
"Astaga, ternyata tuh cewek kalau marah, menyeramkan sekali," ujar Radit sambil berpangku tangan.
"Elo, sih, Dit!"
__ADS_1
"Kok, gue ,sih?"
"Kan, lo yang ngusulin buat bawa PS ini!"
"Teroooos, salahkan saja gue!"
Bayu dan Zyan, memutar bola mata mereka jengah. Apalagi, melihat Radit serta Alam yang saling menyalahkan dan tidak mau mengalah. Jika, seperti ini terus Hanna akan mengamuk pada mereka semua.
"Yan, sebaiknya kita harus menarik telinga mereka satu-satu! Kalau nunggu mereka selesai berdebat, akan lama!"
"Oke. Gue tarik si Radit, lo Alam, yah?"
Bayu pun langsung beraksi, ditariknya telinga Alam hingga membuat si empunya berteriak kesakitan.
"Yakh, sakit! Bay-bay Lo jangan main-main sama gue, yah! Lepasin, Yuyu kangkang!" teriaknya sambil memukul tangan Bayu.
"Makanya, jangan ribut Mulu!"
"Tapi janji dulu!"
"Apaan ,Bangs*t!" umpat Alam keras, saat Bayu semakin memelintir telinganya.
Sumpah sadis banget emang nih orang. Masa temen sendiri di aniaya!
"Mulutnya, yah."
"Makanya, lepasin!"
"Ogah!"
"Yakh! Kenapa jadi kalian yang bertengkar?" lerai Zyan dan Radit.
Bayu melirik ke arah mereka, lalu ke tangannya yang masih berada di telinga Alam. "Maaf, sengaja!" ujarnya sambil cengengesan.
__ADS_1
Alam langsung memukul kepala Bayu dengan keras. "Rasain, tuh! Ini pembalasan dari gue, gara-gara lo udah bikin telinga gue sakit!" timpalnya balas dendam.
"Kok, lo mukul kepala gue?"
"Bodo a- ...," ucapan alam terjeda saat mendengar suara bantingan pintu.
Mereka semua kompak menoleh ke arah dimana suara itu berasal, dan mereka langsung menelan ludah gugup. Saat, melihat sang pemilik rumah berkacak pinggang sambil menatap tajam. Bibir mereka otomatis terkunci sendiri.
"Kalian itu, saya suruh buat membereskan kekacauan ini, bukan malah ribut!" teriaknya keras.
Zyan yang baru kali ini melihat sang kekasih marah besar, jadi ciut. "Saya-," ujarnya terpotong saat sang kekasih justru menatap dingin dia.
"Nggak ada sayang-sayangan! Zyan ...," ujarnya terjeda, "Lebih baik, bawa semua teman kamu pergi dari apartemenku, se-ka-rang ju-ga!" tekan Hanna.
"Tapi,"
""Zyan, aku sedang tidak ingin berdebat dengan kamu ataupun kalian semua. Jadi , lebih baik kalian pergi, atau harus saya panggilkan satpam di bawah dahulu? Baru kalian mau angkat kaki dari sini!"
Zyan menghela nafas kecewa. Padahal dia pikir, akan bisa berkencan hari ini dengan sang kekasih. Namun, karena sifat kekanakannya bersama dengan teman-teman. Kencan pertama mereka harus batal.
"Kalau begitu kami pergi, Na. Sekali lagi, maaf!" ucap Zyan sedih.
Maaf, Zyan.
Sementara itu, Bayu yang melihat itu, langsung tersenyum penuh kemenangan. Bahkan pria itu sampai meninju udara, saking bahagianya. Akhirnya, misi untuk menggagalkan kencan Zyan dan Hanna, berhasil.
TBC
Yuhhuuuuuuu
jangan lupa vote, like, komen dan hadiahnya semua.
Saranghaeyeo 😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1