
Suara tamparan keras, begitu menggema di ruangan besar itu. Sehingga membuat orang yang berada di sana ikut terkesiap. Bahkan, si pelaku penamparan tidak merasa bersalah atau tergugah menatap si anak yang berlutut di bawah kakinya.
Sementara itu, Toni dan Rani menatap tidak percaya kelakuan calon mantu mereka. Ada rasa lega dan tidak terima secara bersamaan. Pertama, lega karena mereka jadi tahu kelakuan Ririn lebih awal, kemudian yang kedua tidak terima karena keluarga si perempuan sudah mempermalukan keluarga mereka.
"Maaf, Tuan Angga. Sepertinya tanpa perlu saya katakan, anda dan keluarga sudah mengerti bagaimana kelanjutan dari hubungan ini," ujar Toni dingin.
"Tidak-tidak, ini tidak benar!" elaknya sambil menangis. "Ini bukan saya, Bayu pasti salah mengira. Sayang, bisa tolong kamu jelasin pada mereka? Ini ... bukan aku," rancau gadis itu.
"Apa perlu saya perlihatkan video kamu juga, hah? Sudahlah, akui saja semua ini."
"Hentikan, Ririn!" teriak Angga.
"Pah ... Pa-pah. Please dengerin Ririn dulu. Ini semua salah pa- ...."
"Diam!" bentak sang Angga. "Kamu sudah mempermalukan kami di hadapan calon besan. Kau benar-benar ... arghhhhh!" teriaknya.
Angga sudah kadung malu, untuk berada dirumah ini. Kemudian menyeret Ririn serta sang istri keluar dari kediaman Atmaja. Anak yang dipikir bisa mengangkat derajat mereka, justru melemparkan kotoran ke wajahnya.
Bayu menatap datar Ririn yang diseret paksa oleh Angga. Tak ada keinginan untuk menolong atau menghadang mereka. Justru, setelah pertunangan ini dibatalkan dia jadi merasa lega.
Seperti teringat akan sesuatu, Bayu langsung menghadap Toni dan Ririn yang sedang mengurut kening. Mungkin mereka masih tidak percaya, bahwa kelakuan calon mantunya sangat menjijikan.
__ADS_1
"Mah, Pah ... ada yang mau Bayu bicarakan?"
Toni dan Rani langsung melihat putra mereka, kemudian mempersilahkan. "Ada apa , Nak?" tanya Rani.
"Begini, Mah. Apa kalian masih inget dengan Hanna?"
Toni dan Rani saling melirik, kemudian berpikir tentang nama Hanna yang si anak sebut. Mereka seperti tidak asing dengan nama itu. "Han-na ... anak dari Malik ... atau bukan?" Toni bertanya balik pada Bayu.
Bayu mengangguk. " Iya, Pah," jawabnya.
"Lalu apa hubungannya, Bay?"
"Begini, sebenarnya dulu aku udah nyaman dengan Hanna. Cuma, karena suatu hal yang membuatku melukai perasaan dia. Sehingga membuat dia pergi dari Indonesia." Bayu menjeda sambil menarik nafas.
Toni membiarkan si anak menceritakan kisahnya. Sebagai seorang ayah, dia tahu kalau Bayu tidak suka dengan si mantan tunangan yang tidak tahu diri itu. Karena sempat beberapa kali, melihat wajah putranya yang terkesan terganggu dengan tingkah Ririn.
"Terus, mau kamu apa sekarang?" tanya Toni akhirnya.
Bayu menghela nafas panjang. Setelah mengumpulkan keberanian, dia lalu berkata, "Aku ingin menikahi Hanna, Mah, Pah!" ucapnya tegas.
Rani membekap mulutnya terkejut. Baru kali ini, dia melihat si anak yang terkesan dingin pada wanita, meminta restu untuk melamar seorang perempuan. Dengan cepat, tangan si ibu mengusap kepala sang anak. "Jika, dia memang pantas dan baik untuk kamu. Ibu akan merestui kalian, Nak," ujarnya lembut.
__ADS_1
Bayu langsung meraup tubuh sang ibu tercinta dalam dekapannya. "Terima kasih, Mah. Bayu janji, tidak akan mengecewakan kalian lagi!" ucap sang anak sungguh-sungguh.
Toni hanya bisa tersenyum kecil, sambil menepuk bahu si anak lanang. "Kalau dia memang jodoh kamu, kejar dia. Karena kami , tidak akan memaksa kamu lagi dalam memilih pasangan, Nak." Sang Ayah ikut bergabung dengan anak dan ibu itu. Mereka saling tertawa bersama, dan juga merencanakan hal apa yang akan mereka bawa ketika melamar si calon mantu.
Mereka jadi tidak sabar, akan seperti apa nanti jika Bayu dan Rihanna mempunyai anak. Sungguh pikiran orang tua, jika sudah menginginkan seorang mantu, yah, begitu. Larinya tidak jauh-jauh dari cucu.
"Kalau begitu, lebih baik kita pergi sekarang juga, Bay! Karena Mamah dan Papah, sudah tidak sabar lagi bertemu dengan calon mantu." Bayu tertawa melihat antusias dari orang tuanya.
"Pah, ayok kita ganti baju! Biar nanti kita suruh pak Tarjo buat beli bingkisan untuk dibawa ke rumah Hanna." Rani yang sangat antusias sampai menyeret sang suami, hingga membuat Toni menggeleng tapi tetap mengikuti.
"Kenapa jadi kalian yang semangat, sih, Mah, Pah?" Bayu berdiri dari duduk, sambil menatap Toni dan Rani yang sedang menuju kamar mereka.
"Biarin, yang penting kami akan segera dapet mantu."
"Sudah, Mah. Lebih baik kita bergegas berdandan, dan abaikan saja si anak lanang!"
"Kenapa kalian jadi seperti itu padaku?" Rajuk si anak.
"Hanna sayang, tunggu mertuamu datang, yah!"
TBC
__ADS_1
Akhirnya, Ririn dan Bayu udah clear.
Jangan lupa vote, like, dan komen yah. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰