Destiny RiBay

Destiny RiBay
Pertemuan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Aku pulang, Ayah." Ucap gadis itu.


Matanya menerawang jauh ke masa dulu. Dimana rumah ini adalah saksi bisu dari kebahagiaan dan kesakitan dia. Hari ini ia baru sempat berkunjung setelah mengurus rumahnya.


Iya. Gadis itu kini memilih tinggal seorang diri, demi kebebasan dan ketenangan hidupnya.


Rihanna menekan bel rumah.


Gadis itu mendengar sahutan dari dalam rumah, dan dia hafal betul siapa orangnya.


Pintu terbuka dan menampakan wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya.


"Maaf ... kamu siapa?" tanya wanita itu.


Hanna terdiam beberapa saat.


Netranya menemukan kebingungan di wajah wanita paruh baya itu.


"Apa kamu tidak mengingat siapa aku, Ibu?" sindirnya pelan.


Masayu tertegun mendengar suara gadis di hadapannya. Ia seperti tidak asing dengan suara gadis itu. Namun, mana mungkin...,


"Apa kita saling mengenal?" tanya wanita itu bingung.


Decak keluar dari bibir sang gadis.


"Long time no see, Ibu tiri." Tekan gadis itu dengan sengaja.


Masayu langsung mundur selangkah, saking kagetnya. Wanita itu menatap, menilai dengan seksama gadis di hadapannya.


"Jangan bilang, kamu adalah Rihanna?" tanya Masayu dengan tak percaya.


Seringai keluar dari bibir gadis cantik itu.


...-------...


"Apa yang sedang lo pikirkan?"


Gadis itu menoleh ke arah lelaki yang baru saja menempati kursi di sampingnya. Mereka kini sedang berada di cafe, untuk membicarakan pekerjaan.


"Kenapa kemarin lo nggak ngasih tau gue, kalau kita bakalan datang ke acara dia?" tanyanya tajam.


Ia kemarin sempat shock, saat tidak sengaja melihat lelaki itu berada di atas panggung. Ia teringat jelas, mata tajam lelaki itu menatapnya seakan sedang mengulitinya. Beruntung ia masih sempat memalingkan wajah, dan pergi ke tempat lain.


Untuk saat ini, ia belum mengatur strategi untuk balas dendam.


"Gue emang sengaja, supaya lo bisa ketemu sama malaikat lo itu." Sindir Zyan, sambil menyeruput kopinya siang ini.


"Tapi nggak harus dalam secepat itu dong, Yan. Gue masih belum siap. Kalau boleh tau, sejak kapan mereka berpacaran?"


"Kalau nggak salah waktu kelas 2. Gue juga nggak nyangka, kalau dia bakalan bertahan dengan Ririn sampai sekarang. Secara lo tahu sendiri, Ririn kaya gimana?" jawabnya.


Ia melihat ke arah gadis itu yang tiba-tiba terdiam melamun.


Zyan melambaikan tangan di depan wajah gadis itu.


"Hei ... kok, malah ngelamun, sih? Mikirin apa?"


Gadis itu melempar makanan yang ada di sampingnya ke arah Zyan.



Tawa gadis itu begitu menular, hingga membuat Zyan tak kuasa menahan senyumnya.

__ADS_1


"Hanna ... apa gue boleh nanya sesuatu sama lo?" tanya Zyan pelan.


Hanna yang sedang minum hanya mengangguk. Tak lupa ia juga makan kue yang tadi sudah di pesannya. Ia mengawasi Zyan yang tadi berniat bertanya padanya.


"Lo mau nanya apa sih? Kayaknya serius banget. Apaan?"


"Sebenarnya apa yang membuat Lo jadi berubah seperti ini?" tanya Zyan ragu.


Untuk beberapa saat gadis itu terdiam. Selama ini memang belum ada yang tahu tujuan dia berubah seperti ini. Bahkan Tante Irene pun, dia tidak tahu


"Nggak ada." Jawabnya dingin.


Zyan menatap raut wajah gadis itu yang tidak secerah tadi.


'Apa perkataan gue menyinggung dia yah?' batinnya.


Rihanna memilih diam dan kembali menekuri kertas di hadapannya.


Bohong, jika ia berkata ia baik-baik saja sekarang. Apalagi setelah ia di ingatkan akan masa sekolahnya dahulu.


Tangannya mengepal erat, hingga membuat kertas dalam genggaman gadis itu rusak. Zyan yang mendapati itu, langsung menggenggam tangan si gadis.


Sementara gadis itu terlonjak kaget, dan tanpa sadar langsung menarik tangannya.


"Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?"


"Aku baik-baik, Yan. Oh iya, Zyan. Lo kemarin udah di kasih tahu belum sama Pak Anwar, kalau nanti kita harus membuat lima design dengan tema musim panas?" elak Hanna.


"Baiklah, kalau lo emang nggak mau jelasin alasannya, gue juga nggak maksa. Namun, ingat satu hal! Gue akan selalu ada untuk lo, Hanna." Ucap Zyan tegas. "Dan buat design untuk tema musim panas, gue baru dapet tiga. Lo udah bikin berapa?" imbuhnya.


Bibir gadis itu memberengut. Tangannya tiba-tiba memukul si teman.


Zyan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melindungi tubuhnya yang di pukul oleh gadis itu. Tidak ada raut marah ataupun jengkel, di wajah Zyan. Kalaupun ada, justru raut bahagia yang tercetak jelas di sana.


"Kenapa lo nggak ngasih tau gue, kalau lo udah buat tiga. Seharusnya kan, lo kasih tau gue dulu biar gue bisa ngebut bikinnya." Ucap Hanna mendelik marah pada lelaki di depannya.


Zyan mencoba menghentikan tawanya. "Kkkk, maaf, maafin gue," ucapnya lembut.


"Enggak mau gue maafin lo!"


"Kok, gitu sih?"


"Lo udah jahat sama gue? Lo udah bohongin gue, dan gue nggak suka?"


"Sorry, Hanna! Gue nggak bermaksud buat bohongin lo. Gue kemarin bener-bener lupa kasih tau lo. Karena waktu Pak Anwar kasih tahu, lo nggak ada di kantor. Jadi, please Hanna maafin gue yah?" ungkap Zyan serius.


Si lelaki menatap wajah gadis itu memelas, sedangkan si gadis masih diam dan mengabaikan laki-laki itu.


Tiba-tiba, gadis itu menadahkan tangan pada si lelaki.


Zyan bingung.


"Mana?" todong sang gadis.


Zyan menggaruk belakang kepalanya. "Apanya?"


Decak si gadis. "Ckckck. Desain lo mana? Gue mau lihat!" Jawabnya galak.


Zyan yang baru sadar, langsung mengambil buku desain nya.



"Ini, Nyonya Hanna," ucap Zyan sambil menyodorkan sketchbook ke arah gadis itu.


Bibir Hanna melengkung indah.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan Zyan yang terhormat." Jawab Hanna sengaja.


Zyan yang melihat wajah Hanna berubah cerah seperti itu, ikut tersenyum.


Tanpa mereka sadari, di sudut cafe ada seorang lelaki sedang duduk menikmati makan siang bersama rekan bisnisnya.


Netra lelaki itu mengedar, keningnya berkerut samar. Dia menemukan sang sahabat sedang duduk berdua dengan perempuan yang cukup cantik.


"Bukankah, itu gadis yang Zyan bawa semalam? Tapi kenapa gue nggak asing, yah, dengan perempuan itu?" monolog lelaki itu.


"Gue samper aja, deh."


"Saya permisi sebentar yah, Pak. Saya mau ke teman saya dulu sebentar." Ujar lelaki itu kepada rekan bisnisnya.


Sebelum beranjak, lelaki itu sudah memberitahu sang sekertaris kalau dia akan pergi sebentar. Dengan langkah percaya diri, lelaki itu berjalan mendekati meja sang sahabat yang terletak di sudut lain.


Ia bisa mendengar percakapan sang sahabat yang sedang menjelaskan entah tentang apa, ia pun tidak tahu. Saat lelaki itu sudah berdiri tepat di belakang gadis itu, si lelaki menepuk bahu sang sahabat.


"Hai Bro. Lagi makan siang juga?" sapa lelaki itu, membuat tubuh gadis di depannya terdiam kaku.


Sementara Zyan, ia tidak menyadari perubahan pada gadis itu.


Zyan kemudian berdiri dan memeluk sang sahabat.


"Wah, bisa banget yah, kita bisa ketemu di sini. Lo lagi ngapain di sini? Dan sama siapa?" cecar Zyan. "Tapi di lihat dari jas yang lo pakai, Lo pasti lagi ada urusan kantor yah?" imbuhnya kemudian.


Lelaki itu tersenyum.


"Duduk dulu, Bro!" Ujar Zyan.


Saking senengnya bisa bertemu dengan sang sahabat, ia Samapi lupa ada gadis yang sedang terdiam di kursinya.


"Makasih." Jawab lelaki itu. "Iya gue emang lagi ada meeting tadi sama investor perusahaan gue. Lo nggak mau ngenalin cewek lo sama gue, Bro?" imbuhnya sambil melirik gadis di depannya.


Zyan yang baru sadar langsung menatap Hanna ragu.


Hanna kemudian merubah ekspresi wajahnya, menjadi datar. Ia menatap Zyan kemudian ke arah lelaki itu.


Tiba-tiba kilasan kejadian penolakan itu terlintas di pikiran gadis itu, membuat tangannya gemetar.


Zyan menatap sang sahabat yang masih setia menunggu, kemudian ke arah gadis itu.


"Bay ... kenalkan ini, Hanna."


Tubuh Hanna meremang, hingga bulu kuduknya berdiri semua.


Sedangkan Bayu, mengernyit heran. Ia seperti pernah mendengar nama Hanna dalam hidupnya, tetapi ... tidak seperti gadis di depannya sekarang.


Hanna yang ia kenal, wajahnya di penuhi dengan jerawat, kaca mata tebal menutupi matanya, rambut ikal yang tidak terurus, dan jangan lupakan bau badan yang cukup menyengat di tubuh si teman.


Sedangkan gadis yang ini, wajahnya begitu mulus, rambutnya tertata rapi, matanya juga begitu indah, serta ia bisa menghirup bau wangi di tubuh gadis itu.


'Tidak mungkin.' Batin laki-laki itu.


Rihanna atau biasa di panggil Hanna, masih terdiam di tempat. Membuat Zyan menatap dua orang di depannya, dengan heran.


"Hanna, lo nggak mungkin lupa, kan, sama Bayu. Dia dulu pernah nolongin lo waktu sekolah, lo masih inget, kan?" tanya Zyan.


Bayu yang mendengar ucapan sang sang sahabat langsung di buat terkejut.


'Jadi ... dia ... benar Hanna yang itu?'


'Gue harus gimana sekarang? Tangan gue masih gemetar seperti ini. Please siapapun, tolong gue!'


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa masukin favorit, like, komen, dan hadiah juga kalau perlu. Terimakasih 😉


__ADS_2