
"Maaf, gue nggak bisa. Permisi!" Rihanna pergi meninggalkan dua orang lelaki itu menuju kendaraannya berada.
Mobil keluaran terbaru ini, adalah milih Hanna. Walaupun tidak semahal milik Zyan ataupun Bayu, tetapi ini adalah hasil keringat dia sendiri. Waktu itu, setelah tiba di Indonesia dia meminta anak Tante Irene untuk menemaninya membeli mobil secara cash.
Zyan sangat bangga saat itu.
Saat Rihanna akan membuka pintu, ada sebuah tangan yang menahan. Dia tolehkan wajahnya, dan decak kesal keluar dari bibir gadis itu, "Ada apa," ucap Hanna datar.
Bayu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Kenapa kamu menolak ajakan saya?" tanya lelaki itu bingung.
"Apa harus ada alasan untuk menolak ajakan seseorang?"
"Tentu! Dan beri saya alasan itu?"
Gadis itu berdiri, kemudian menyandar di depan pintu mobil sambil melihat angkuh lelaki di depannya, "Karena gue nggak minat makan bareng sama lo, Puas!" hardiknya keras.
"Kenapa?"
Zyan yang berniat ikut dalam pembicaraan mereka berdua, di tahan oleh gadis itu.
"Gue ada acara malam ini," Rihanna berkata jujur, karena dia dan keluarga akan pergi ke acara teman dari sang Ayah. Lagian dia juga malas jika harus lama berhadap-hadapan dengan si Bayu.
Luka di hatinya belum sembuh, bahkan masih menganga lebar. Jadi tak ada alasan buat dia untuk menerima ajakan dari si pemberi sakit.
"Dimana?"
__ADS_1
"Lebih baik kamu pulang, Bay! Karena Hanna memang tidak berniat untuk pergi dengan kamu, saat ini."
"Tapi, kenapa?" kekeh lelaki itu tidak terima.
Rihanna sudah malas meladeni tingkah Bayu, kemudian memilih membuka pintu mobilnya cepat. Beruntung Zyan bisa menahan lengan lelaki itu. Jadi Hanna bisa pergi meninggalkan tempat itu dengan leluasa.
"Hai jantung, berhenti berdetak seperti itu! Aku sakit, dan bisakah kau berdegup seperti biasa saja?" ucap gadis itu sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Rasa nyeri dan sesak, jika harus berdekatan dengan lelaki itu membuat dia merasa tidak nyaman. Di satu sisi, Hanna ingin memafkan lelaki itu, tetapi tidak bisa. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang ingin membalas semua perbuatan Bayu.
"Tarik nafas, Hanna! Keluarkan, pelan-pelan," Gadis itu menginstruksi dirinya sendiri agar lebih tenang, dengan cara menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan.
Berhasil.
Setelah bisa mengendalikan emosi, Hanna pergi menuju rumah dia yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor dia bekerja. Karena desakan dari sang kepala keluarga, dia akhirnya datang. Oleh sebab itu Hanna kini sedang menuju ke istana Buchori.
"Ciih, sok cantik banget, sih, lo Hantu!" sindir Lia saat Hanna melewatinya.
Gadis itu hanya diam dan masuk kedalam kamar, untuk mandi dan berganti baju. Dia sedang tidak nafsu makan. Biarlah nanti dia bisa icip-icip di acara pesta itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Keluarga Malik kini sudah berada di sebuah Ballroom hotel , yang cukup besar dan megah. Tatanan dekorasinya sangat memanjakan mata para tamu undangan, seperti Hanna sekarang. Dia tidak henti berdecak kagum saat disuguhi pemandangan seperi ini.
"Wow, aku selalu kagum dengan dekorasi pelaminan seperti ini. Apa aku bisa, yah, suatu saat nanti mengadakan acara pernikahanku seperti ini?" gumam Hanna pelan.
"Nggak usah mimpi! Karena nggak bakalan ada yang mau nikah sama gadis cupu dan bau ketek kaya Lo!" cemooh Lia terhadap gadis itu.
__ADS_1
Hanna memandang Lia dengan datar, "Apa itu masih berlaku? Dan ... apa kamu tidak melihatnya sekarang? Bagaimana ... para lelaki itu memandang kagum dengan penampilan saya hari ini?" goda gadis itu.
Yup, penampilan Hanna malam ini memang sangat mempesona. Berkat ajaran dari Tante Irene, dia kini sudah bisa menyesuaikan pakaian apa yang pantas di pakai saat datang ke acara seperti ini. Bahkan beliau juga mengajarkan cara memakai make-up yang natural.
Dia jadi merindukan Tante kesayangannya itu.
"Apa lo bilang?" sentak Lia tidak terima.
Masayu yang sedang menemani sang suami, mulai terusik dengan keributan dari dua gadis itu. Sedangkan Malik yang sedang sibuk bercengkrama dengan sang pemilik acara, tidak menyadarinya.
"Pah, aku mau ambil minum dulu, yah?" dusta wanita itu.
"Baiklah, hati-hati, yah Sayang!" kata Malik lembut.
Masayu hanya mengangguk, kemudian menundukkan kepala, pamit, kepada pemilik acara. Dia melangkah begitu anggun hingga membuat orang tak percaya, jika wanita itu sudah mempunyai anak gadis yang sudah dewasa. Dia menyeringai saat sebuah ide jahat melintas dipikirannya.
Dengan sengaja, Masayu menyenggol nampan si pelayan yang berisi minuman tepat di samping gadis itu.
Keributan pun terjadi.
Hanna berteriak keras, saat tiba-tiba ada air dingin yang menumpahi seluruh tubuhnya. Dress berwarna putih itu kini berubah menjadi merah. Si pelayan yang merasa bersalah, langsung meminta maaf kepada gadis itu
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja! Maaf! Tolong, maafkan saya!" racau si pelayan itu dengan gugup.
Hanna menatap orang di belakang si pelayan itu dengan pandangan tajam. Dia mengacuhkan orang di depannya, kemudian mendatangi wanita bunglon itu dengan emosi yang meluap-luap, "Senang, heh!" tekan gadis itu.
__ADS_1
TBC
Hari ini double up. jadi jangan lupa like, Vote dan komennya. kasih hadiah juga yah kak. 🥰🥰🥰♥️♥️