Destiny RiBay

Destiny RiBay
Dingin


__ADS_3

Bayu POV


Aku kini berada di sebuah apartemen milik seorang gadis bernama Rihanna. Dia adalah wanita yang pernah menjadi temanku waktu aku bersekolah di SMA. Namun karena aku yang masih dan egoku yang tinggi, dengan teganya menolak cinta dari gadis ini.


Sebenarnya waktu itu Hanna tidak tahu apa-apa, dan aku main tolak saja. Bahkan aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari mulut gadis itu. Otakku sudah di penuhi dengan emosi, karena malu di ejek oleh Radit, alam, dan Zyan bahwa seorang cupu dan bau ketek mencintaiku.


Aku sudah seperti orang kerasukan, hingga mencaci maki gadis itu dan melukainya dengan kasar. Pantas kalau sekarang dia membenci dirinya.


Aku menghela nafas lelah, "Gue nggak nyangka kalau lo akan berubah sedrastis ini, Hanna. Maaf ... karena gue udah pernah menyakiti hati lo sedemikian rupa. Namun, gue janji akan menebus rasa bersalah gue, dengan menjaga lo seperti amanat yang dulu pernah Ayah kamu katakan padaku." tekadku kuat.


Ririn


Dia adalah sosok wanita yang cantik, tetapi sifatnya yang suka caper dan posesif. Membuatku merasa muak. Ingin rasanya aku memutuskan hubungan pertunangan ini, dan bersama dengan orang yang aku pilih sendiri. Namun, aku juga tidak ingin membuat kedua orangtuaku sedih.


"Maaf ... Hanna! Maaf atas semua luka yang aku torehkan padamu, dulu. Bisakah kita mengulang kembali dari awal?"


Netraku menatap pintu kamar gadis itu, seolah-olah aku sedang berhadapan dengannya, "Kau mungkin sudah membenciku sampai enggan menatap wajahku. Namun, ijinkan aku untuk memperbaiki ini semua. Jujur, aku nyaman berada di sisimu, tapi karena egoku yang brengsek ini ... aku jadi menyakitimu," gumamku diakhir.


Bayu POV end.


...--------...


Sementara itu, Hanna yang sudah kelelahan langsung tepar di atas ranjang. Tak dia pedulikan Bayu yang berada diluar sana, "Abaikan saja dia, Na. lebih baik kamu tidur, dan kumpulkan energi kamu untuk bekerja kembali esok." ucap gadis itu sebelum menjemput mimpi indahnya.

__ADS_1


Semoga saja dia bermimpi indah, bukan bermimpi buruk.


Keesokan paginya, Hanna terbangun dengan badan yang kaku. Dia meregangkan tubuhnya sambil menjerit kesakitan, "Akh ... kenapa badanku terasa remuk seperti ini? Sepertinya gue harus rajin olahraga kembali! Apalagi setelah sampai di Indonesia, tak ada watu untuk gue ke Gym center." keluh gadis itu.


Usai berendam dengan air hangat untuk merilekskan otot dan sendinya. Hanna memakai baju dan celana panjang, dan keluar dari kamar. Namun langkah gadis itu terhenti, saat melihat Bayu yang masih terjaga dalam tidur diatas sofa panjang dengan posisi yang cukup membaut badan pegel.


Hanna menghela nafas. Lalu membiarkan pria itu tertidur. Dia hari ini sedang malas memasak, jadi hanya sarapan dengan roti gandum dan susu saja. Toh, nanti dia bisa makan siang di kantor.


Semoga saja nanti di kantor tidak gempar dengan penampilannya hari ini. Hanna sudah menutupi memar yang ada di pipi bagian kanan dengan make up, tapi luka yang ada di bibir bagian pinggir dia biarkan saja.


"Zyan kenapa belum hubungin gue, yah?" monolog gadis itu sambil mengecek jam yang ada di ponsel.


"Sudahlah, lebih baik gue berangkat sekarang. Toh nanti juga ketemu di kantor. Tapi ... gue harus jelasin apa ke dia nanti?" Hanna menggigit bibit bagian bawah, saat memikirkan alasan apa yang akan dia berikan kepada Zyan.


"Lupakan!"


Hanna membereskan bekas piring dan gelas yang dia pakai ke westafel dan mencucinya. Dia tidak mau meninggalkan piring dan gelas kotor tergelatak hingga seharian. Nanti yang ada bisa bau apartemennya.


Gadis itu melangkah santai seperti tidak menganggap ada orang lain disekitarnya. Dengan cepat dia mengambil tas di kamar, dan berniat pergi meninggalkan apartemen tapi dia urungkan, "Kalau lo bukan anak dari temen ayah gue, udah gue biarin lo tidur dan bolos kerja." ujarnya.


"Yakh, bangun!" panggil Hanna dengan ketus.


"Lo nggak niat buat bolos kerja, kan? Dan numpang tidur dirumah gue!"

__ADS_1


Sudah lebih dari lima menit Hanna menunggu, tapi pria itu masih tertidur pulas di atas Sofanya. Dengan kesal, gadis itu menepuk punggung Bayu dengan keras, " Yakh, bangun! Kalau lo nggak mau bangun juga, gue bakalan siram lo pakai air nih, yah!" ancam gadis itu.


Bayu yang merasa terganggu akhirnya membuka mata. Dia mengusap kedua matanya yang terasa berat. Saat dia sudah bisa mengumpulkan kesadaran, Bayu mendengar suara pintu apartemen yang tertutup.


"Dimana ini?" tanya Bayu linglung.


"Ah ... ini kan apartemen Hanna. Terus," Bayu melihat ke sekitar dan tidak menemukan ada kehidupan lain selain dirinya, "Jangan bilang ... gue ditinggal dan Hanna udah berangkat ke kantor? Bego banget, sih, gue! Kenapa harus bangun kesiangan," rutuk pria itu kesal sambil memukul kepalanya sendiri.


Dengan cepat, pria itu pergi keluar dari apartemen sang gadis. Dalam perjalanan Bayu masih merancau tidak jelas, "Biasanya gue juga selalu bangun awal, tapi kenapa semalem gue bisa tidur nyenyak banget? Padahal gue tidur di sofa loh, bukan ranjang empuk yang biasanya gue pakai? Ada apa ini?" keluhnya sepanjang jalan.


Setelah sampai di parkiran mobil, Bayu berniat pergi meninggalkan Basement, tapi diurungkan. Getar ponsel yang ada disaku jasnya, membuat dia melihat siapa yang mengganggu pagi pria itu yang sudah amburadul. Ternyata nomor dari salah satu bawahan, diangkat lah telepon itu, "Jika kamu hanya ingin mengatakan tidak tahu siapa pelakunya, akan kubunuh kau!" ucapnya ketus.


Seringai di wajah tampan itu, mengartikan bahwa orang suruhannya membawa kabar baik.


"Baik. lakukan seperti biasa! Tapi ... jangan sampai kau membunuhnya, biarkan saja dia hidup! Supaya ****** itu tahu sedang berurusan dengan siapa!" perintahnya dingin.


'Akan gue perlihatkan siapa sebenarnya yang berhak memiliki gadis itu! Dan tidak boleh ada yang menyentuh gadis itu selain gue!'


TBC


Yuhuu ... bawa Chapter baru lagi. Up selanjutnya nanti siang atau sore yah...


Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya, see you😍😍😍🥰🥰🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2