
...~Happy Reading~...
"Cih nggak usah sok penting deh lo datang ke acara kaya gini. Gue yakin lo pasti di sana bakalan di buly lagi," ucap Lia saat melihat Hanna yang sedang berdandan di kamar.
Hanna tetap diam.
Lia yang merasa diabaikan oleh gadis bau ketek itu, langsung menendang kursi yang sedang di duduki oleh Hanna. Sehingga membuat gadis itu terjatuh.
"Mampus, lo! Makanya jangan sok kecapekan jadi cewek. Dasarnya burik mah, burik aja. Ha-ha-ha," tawa jahat keluar dari bibir gadis itu.
Hanna bangun dari lantai kemudian ia kembali duduk di kursi. Dia sengaja tidak membalas perbuatan si adik tiri, karena suatu hal.
"Lo nggak cuman burik, tapi budeg juga ternyata," cibir Lia.
"Yah!" Teriak marah gadis itu. Namun Hanna hanya diam.
"Brengs*k! Lo udah berani mengabaikan gue yah!"
Desah nafas lelah keluar dari bibir Hanna. "Lebih baik lo pergi dari sini sekarang juga! Dari pada nanti gue iket mulut lo!" Ucap Hanna sadis.
Lia yang mendengarnya langsung menjambak rambut Hanna keras. "Dasar sampah! Berani-beraninya lo ngomong kayak gitu sama gue. Jangan mentang-mentang Lo udah berubah kaya gini, lo bisa semena-mena sama gue. Gue nggak bakalan berhenti buat nyakitin lo. Justru dengan ini, gue semakin bersemangat buat ngehancurin hidup lo."
Pertikaian yang tidak seimbang, karena Hanna sama sekali tidak melawan dan hanya diam saja.
Sementara itu di luar kamar, Malik yang baru saja duduk di sofa ruang tamu, mengernyit heran dengan suara kegaduhan yang ada di kamar anak kandungnya.
Kakinya melangkah mendekat, dan jantungnya hampir saja berhenti berdetak saat melihat kelakuan anak-anak. Ia bergegas menarik lengan Lia yang berada di rambut anak gadisnya.
"Lia! Apa yang kamu lakukan terhadap kakak kamu?" tanya Malik.
Bibirnya meringis saat melihat ada cakaran di wajah mulus anaknya. Matanya menatap penuh penjelasan dari Lia. Ia yakin, pasti ada sesuatu di antara mereka.
"Ini, tuh, salah Hanna yang sudah memancing kemarahan aku, Pah! Padahal tadi aku hanya bertanya, tapi dia malah nyolot dan nantangin aku," elak Lia.
Gadis berambut berantakan itu, berdecih pelan.
'Emang paling bisa banget, nih, orang buat memutar balikkan fakta.' Batin Hanna.
Dia di bantu Malik untuk duduk di atas ranjang. Sang ayah juga membantu merapihkan rambutnya yang berantakan. Siapa lagi kalau bukan ulah Lia.
"Apa benar itu, Hanna?" tanya Malik memastikan. Dia cukup tahu bagaimana sifat asli Hanna, dan dia juga tahu gadis itu tidak akan melakukannya.
"Itu, terserah Ayah saja. Mau percaya pada siapa, itu hak Ayah. Karena saya harus membenahi penampilan hari ini, kalian bisa pergi dari kamar saya."
"Baiklah, nanti ayah bantu buat oleskan obat di wajah kamu."
"Terima kasih Ayah," gumam gadis itu.
Ia segera masuk ke kamar mandi, dan melihat penampakan rambut dan wajahnya yang cukup mengerikan. Ada luka goresan di pipi dan juga dagu, dan itu cukup panjang.
"Si*lan, muka gue jadi kaya gini, kan," umpat gadis itu.
__ADS_1
"Lo bisa seneng sekarang, tapi kalau udah tiba waktunya. Gue bakalan balas semua apa yang telah lo lakuin ke gue." ucap Hanna tajam.
...Acara Reuni...
Malam ini adalah acara reuni akbar sekolah SMA Puspita. Para alumni sudah datang memenuhi sebuah Ballroom hotel ternama di kota.
Mereka sudah saling berkelompok sesuai kelas , dan ada juga yang sibuk mengurusi anak yang mereka bawa.
"Bay, si Zyan kemana? Kok, gue belum lihat muka dia dari tadi?" tanya Radit sambil melihat sekitar.
Bayu hanya mengangkat bahu acuh. Ia sebenarnya masih kepikiran dengan pertemuannya dengan Rihanna.
Apakah ia sedang bermimpi atau tidak, karena waktu itu si gadis langsung pergi meninggalkan ia dan juga Zyan di cafe.
Tapi ia cukup yakin kalau gadis itu adalah Rihanna. Tapi sejak kapan gadis itu berubah? Dan kenapa bisa Zyan jadi begitu akrab dengan gadis itu?
"Ssttt, itu cewek yang di bawa Zyan siapa? Gila ... cantik banget." Puji Alam, setelah melihat kedatangan sahabat karibnya.
Bayu serta Radit ikut melihat ke arah gadis yang sedang di bicarakan oleh Alam.
.
Degup jantung Bayu, dan para lelaki yang hadir langsung berdetak tak karuan. Mereka terpesona dengan kecantikan yang di miliki oleh gadis itu.
Tangan gadis itu sudah dingin sedari tadi. Ia merasa bahwa kilasan kejadian dulu terngiang di pikirannya saat ini.
Zyan yang menyadari kalau Hanna sedang gugup, langsung merengkuh bahunya.
"Hei ... kenapa, Han? Apa lo kedinginan? Haruskah, gue meminjamkan jas ini?" berondong lelaki itu khawatir..
Hanna menolehkan kepala ke arah Zyan, kemudian menggeleng.
"Nggak usah. Gue cuma, gugup saja," elak nya.
"Tapi muka lo, kenapa? Itu seperti bekas cakaran, apa kamu habis berantem sama seseorang?" selidik sang lelaki.
"Ah, ini ... nggak apa-apa, kok. Ini tadi nggak sengaja kena kuku, iya begitu," dusta gadis itu.
"Syukurlah kalau begitu."
Zyan pun mendesah lega. Lalu, dia mulai mencari keberadaan para sahabatnya dahulu di antara para alumni yang lain.
'Kemana mereka semua? Apa mereka masih semedi di goa? Dan apa ini? Kenapa mereka melihat ke arah sini semua? Apa ada yang salah dari kami?' batin Zyan.
Saat di telusuri ternyata temannya duduk di meja paling depan. Ia hampir lupa kalau mereka itu orang yang cukup berpengaruh.
"Ayo, Han, kita ke sana!"
__ADS_1
"Kemana?"
"ke temen gue."
"Tapi ...,"
"Hei ... ada apa? Apa kamu merasa risih berada di sini? Kalau iya, lebih baik kita pulang sekarang."
Hanna terlihat ragu. Apalagi sedari tadi dia sudah merasa cukup terganggu dengan pandangan mereka semua. Entah apa yang ada di pikiran mereka, hingga menatapnya seperti itu?
Zyan menangkap keraguan di mata gadis itu. Membuat ia menjadi bimbang, di satu sisi dia ingin bertemu dengan sahabat lamanya, Namun di sisi lain, dia tidak bisa jika harus meninggalkan gadis itu.
"Apa lebih baik kita pulang saja?" tanyanya sekali lagi.
Hanna menggeleng cepat. Saking cepatnya, membuat rambut gadis itu ikut bergoyang.
'Cantik sekali,'
'Gila, tuh cewek cakep bener. Kira-kira itu ceweknya Zyan apa bukan, yah?'
'Terima kasih, ya Allah. Karena engkau telah menurunkan bidadari surga ke sini.'
'Namanya siapa? Gue juga pengin dapet wanita seperti itu.'
Bisik para tamu undangan, membuat Zyan menyunggingkan seringai.
'Kalian jangan pernah bermimpi, untuk bisa mendapatkan hati dari Rihanna. Karena aku yang akan mendapatkan nya.'
Tanpa di sadari oleh Hanna dan Zyan, dari belakang mereka ada seorang yang sengaja mendorong tubuh Hanna. Sehingga membuat gadis itu jatuh terjerembab ke lantai.
"UPS, Sorry! Nggak sengaja." Ucap gadis itu.
Hanna menatap saudara tirinya dengan pandangan tajam. Sedari tadi ia sudah diam di perlakukan semena-mena oleh Lia. Ingin sekali gadis itu melawan, dan melakukan hal yang sama. Tapi ...,
"Yakh! Apa-apaan, sih, lo? Kalau jalan yang bener dong!" Hardik Zyan kepada Lia.
"Sudah, Yan. Gue nggak apa-apa, kok." Lerai gadis itu sungkan.
Ia merasa malu jika di lihat oleh banyak orang seperti ini. Ingatannya jelas kembali ke masa lalu. Dimana ia di perlakukan seperti ini oleh mereka semua, dan tak ada yang mau menolongnya.
Tubuhnya kembali bergetar, ketakutan. Ia berusaha menggapai lengan Zyan, tetapi laki-laki itu malah sibuk berdebat dengan adik tirinya.
Saat dirinya ingin menangis, di saat itu pula ada seorang laki-laki lain yang merengkuhnya dari depan.
Bau parfum ini, begitu mengingatkan gadis itu kepada malaikat penolongnya dahulu.
"Sstt, kamu sudah aman. Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini," ujar lelaki itu menenangkan.
TBC
Hayoo, tebak? Siapa laki-laki itu?
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah guys, dan maaf jika masih ada typo yang bertebaran di mana-mana. Terima kasih.