Destiny RiBay

Destiny RiBay
Khawatir


__ADS_3

Zyan merasa khawatir dengan keadaan Hanna yang tidak mau mengangkat telfon nya. Apalagi sekarang ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi, "Guys, gue mau pamit dulu, yah! Soalnya gue ada urusan mendadak," ujarnya pamit kepada yang lain.


"Ya udah hati-hati, bro!"


"Oke, have fun guys."


Usai berpamitan, Zyan pergi menuju parkiran, untuk mengambil mobilnya.


"Kamu kenapa sayang? semoga saja kamu baik-baik saja!" Zyan mulai meninggalkan parkiran menuju apartemen sang kekasih. Dia ingin melihat keadaan gadis itu.


"Si*l, kenapa harus macet, sih!" gumam pria itu marah, lalu memukul setir mobilnya.


Saat Zyan melihat ke depan lagi, antrian mobil sudah mengular sepanjang jalan. Dia bisa di sini sampai besok pagi, kalau hanya berdiam diri terus. Lalu tak sengaja netranya melihat ke arah motor yang menyalip-nyalip kendaraan lain.


Zyan menyeringai.


"Gue ada ide." Pria itu lalu menyalakan lampu sen ke kiri, dan membelokkan mobilnya ke arah Minimarket terdekat. Lalu pria itu turun dari mobil menuju tukang ojek yang sedang mangkal.


"Bang anterin ke apartemen Cahaya, yah!"


"Siap, Mas. Ini helm nya dipakai dulu!"


Zyan memakai helm di kepala, lalu menaiki motor si tukang ojek. Si Abang membawa motornya melewati kemacetan yang panjang, tanpa ada masalah berarti. Akhirnya dia bisa sampai di depan apartemen sang kekasih.


"Makasih yah, Pak." ujar Zyan sambil memberikan uang dua lembar warna merah ke Abang ojek.


"Loh, ini kebanyakan, Mas!" ucap Abang itu.


Zyan tersenyum, "Anggap saja itu rejeki, Bapak. Kalau begitu saya permisi dulu." timpalnya, kemudian berlalu pergi menuju apartemen sang kekasih.

__ADS_1


Pria itu masih berusaha menghubungi nomor ponsel Hanna, tetapi masih belum aktif juga. Membuat Zyan makin di dera rasa khawatir. Dengan cepat dia melangkahkan kaki, menuju kamar sang kekasih.


Zyan menekan bel apartemen Hanna berkali-kali, dan tak ada tanggapan. Lalu dia menggedor pintu besi itu dengan keras. Berharap pintu itu akan terbuka dan menampakan wajah pacarnya.


"Sayang, ini aku, Zyan. Tolong, buka pintunya!" teriak pria itu keras.


Namun sampai beberapa menit kemudian, masih saja sama. Tak ada tanggapan yang berarti, "Gue harus ke resepsionis, dan minta kunci cadangan kamar Hanna!" ujar Zyan berlalu pergi.


Usai meminta kunci cadangan dengan debat yang cukup panjang tadi. Akhirnya dia mendapatkannya juga. Dengan tangan gemetar Zyan membuka pintu apartemen Hanna dan berhasil. Pintu itu terbuka.


"Akhirnya," desahnya lega.


"Sayang, kamu dimana? Ini aku, Zyan!" Pria itu memanggil nama sang kekasih, sambil melihat keadaan ruang tamu yang cukup tenang. "Kalau dia nggak ada di sini, berarti Hanna ada di kamarnya," monolognya sendiri.


Zyan ngetik pintu kamar bercat putih itu, "Hanna ... ini aku, Zyan. Apa aku boleh masuk?" tanya pria itu.


Ketukan di pintu membuat gadis itu sadar, lalu bergegas membuka pintu kamarnya.


"Ap-," Belum selesai Hanna berbicara, Zyan sudah menubruk tubuh Hanna hingga membuat tubuh gadis itu limbung. Untung saja dengan cepat, pria itu menopangnya.


"Ya ampun, Na. Aku pikir kamu nggak ada di sini. Aku udah khawatir banget sama kamu, Sayang. Please kasih tahu aku kalau kamu mau kemana-mana!" ujar lelaki itu khawatir.


Hanna yang mendengar itu, jadi merasa bersalah, "Maaf, Yan. Tadi itu urgent, makanya aku nggak sempet ngabarin kamu." jawabnya menenangkan sang kekasih.


Zyan melepaskan rengkuhan tubuh mereka, lalu memandang wajah Hanna dengan seksama, " Apa ada kejadian yang terlewat olehku?" tanya pria itu, saat melihat mata Hanna yang sembab.


Hanna tersenyum, "Nggak ada. Aku tadi hanya sedang menonton drama, hingga membuatku menangis," dustanya.


Zyan tak semudah itu percaya. Dia sudah kenal lama dengan sang kekasih. Jadi bisa dipastikan kalau ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi oleh Hanna.

__ADS_1


"Katakan dengan jujur, siapa yang telah menyakitimu? Aku tahu kamu bukan sekali dua kali, Na! Aku itu sudah mengenal kamu lebih dari enam tahun. Jadi jangan pernah berharap aku akan percaya dengan kebohongan kamu."


Hanna menundukkan kepalanya. Tak disangka kalau Zyan tahu, kalau dia sedang berbohong. "Aku hanya tidak ingin membuat kamu khawatir, Yan!" gumamnya pelan.


Zyan yang melihat Hanna seperti itu, lalu menghela nafas berat. Tangannya menangkup wajah sang kekasih, lalu berkata, "Aku ini pacar kamu. Jadi sudah menjadi tugas ku untuk menjaga dan melindungi mu," ucap pria itu lembut.


Dikecupnya kening sang kekasih, lama.


Hanna memejamkan mata, menikmati rasa nyaman yang diberikan Zyan padanya.


Usai mencium kening Hanna, Zyan membawa mereka dalam dekapan yang hangat, "Kamu itu sudah dititipkan oleh orangtuaku, untuk menjaga mu sampai akhir. Jadi, ceritakan kejadian yang sesungguhnya padaku!" ujarnya lembut.


Hanna mengangguk, lalu menghirup wangi tubuh lelaki itu. Nyaman sekali, "Nanti saja. Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang. Lebih baik kamu menemani saya makan, aku lapar," rengeknya manja.


Zyan tersenyum, saat melihat gadis itu merengek padanya. Dengan gemas, dia menyentil hidung Hanna pelan, "Baiklah, untuk tuan Permaisuriku yang cantik. Hamba siap melaksanakan titah Anda. Mari saya masakan makanan yang enak, untuk nyonya Zyan." goda pria itu hingga membuat sang kekasih bersemu merah.


Hanna mengikuti langkah Zyan yang membawanya ke dapur. Dia menatap punggung hangat lelaki itu dengan perasaan campur aduk.


"Yan, ajari aku untuk mencintaimu!"


TBC


Hello, i'm comeback.


Tidak pernah lupa aku mengingatkan kalian untuk selalu mendukung karya ini. Dengan like, komen, masukin ke list favorit kalian, dan vote cerita ini juga. Jika kalian ingin memberikan hadiah, aku sangat berterima kasih.


Karya ini sedang mengikuti event, jadi aku berharap kalian bersabar dengan alur yang aku buat. Karena memang sudah dari pihak Noveltoon, menginginkan alurnya seperti ini. Jadi jika kalian penasaran, ikutin terus kelanjutannya.


See you, and thanks you buat semuanya.🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2