
"Sial, gara-gara nganterin tuh cowok rese, gue jadi telat kaya gini. Semoga saja, Bu Regina belum datang," gerutu seorang wanita cantik sambil berlari menuju dalam ruangan.
Dia tadi telat, karena harus ngedropin si mantan pria idaman di depan kantor. Lalu setelah itu, mobilnya harus kehabisan bensin. Jadi, mau tidak mau harus mencari pom bensin terdekat dan dibantu dorong oleh warga setempat.
'Kalau tahu akan sesial ini, lebih baik aku tidak menolongnya tadi!' batinnya
"Loh, tumben baru datang? terus, itu muka ngapa ditekuk begitu?"
"Habis kenal sial aku," jawabnya ketus.
"Waduh, roman-romannya habis ribut nih sama ayang beb-nya?"
"Dih, ogah pacaran sama dia!"
"Biasanya, kan, gitu? Kalau ketemu ribut mulu, kaya Tom and Jerry, tapi giliran jauh, kangen," ujarnya menggebu.
"A-ku ... kangen sama dia?" Hanna menunjuk dirinya sendiri, "No way!" sambungnya ketus.
"Hanna, sini dengerin, deh! Cinta sama benci itu bedanya itu tipis. Mungkin sekarang kamu bilang tidak, tapi siapa tahu kedepannya nanti kalian malah jadi pasangan yang serasi. Iya, nggak?" ujar si teman sambil menggoda Hanna.
Wanita itu langsung memasang wajah horor, "Dengerin gue, yah, April! Walaupun laki-laki di dunia ini tinggal dia seorang, lebih baik aku jomblo dari pada harus sama pria seperti dia!" timpal Hanna tegas.
"Woiiiiii! Dicariin sama Bu Regina, tuh!" teriak salah satu karyawan pria.
Rihanna dan April, kompak menoleh secara bersamaan ke arah pria yang biasa dipanggil Ucup itu.
"Iya, Ucup." jawab mereka kompak.
"Obrolan kita bekam kelar, yah. Jadi jangan coba-coba kabur kamu! Nanti kita lanjut lagi pas makan siang dan jangan lupa, ajak Zyan!"
Hanna yang malah mendengarnya langsung pergi ke mejanya untuk menaruh tas. Kemudian menuju ruangan Bu Regina. Sambil membenarkan penampilan, wanita itu mengetuk pintu kaca yang menghubungkan dengan ruangan sang Atasan.
"Masuk," sahut dari dalam.
Wanita itu lalu mendorong pintu kacanya dan masuk ke dalam ruangan si Atasan. "Permisi, Bu." ujar Hanna sambil menunduk sopan.
"Hanna, sini, deh!'
"Iya, Bu. Ada apa?"
__ADS_1
"Duduk, Na!"
"Makasih, Bu. Kalau boleh tahu, ada apa, yah, Bu?"
"Begini, Saya ada janji dengan salah satu perusahaan besar di sini. Nah , kamu bisa kan nemenin?"
"Kapan, Bu?"
"Nanti jam sembilan. Kamu bisa ,kan?"
Hanna pun mengangguk. "Bisa, Bu," timpal nya.
"Ya udah, kamu keluarin kerjaan kamu dulu di sini! Nanti jam sembilan kita langsung pergi ke sana, Oke!" ucap sang Atasan.
"Baik, Bu. Apa ada lagi?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu, saya permisi keruangan dulu, Bu."
"Silahkan!"
"Hanna," panggil sang Atasan.
Hanna yang sedang fokus, tidak sadar kalau jam sudah menunjukan pukul sembilan tepat. Dia mendongak menatap Bu Regina, yang sudah rapih berdiri di depan mejanya. "Iya Bu, ada apa?" tanya wanita itu bingung.
Bu Regina tersenyum kecil, menggeleng melihat kelakuan sang bawahan yang lupa akan janjinya. "Padahal baru satu jam yang lalu, loh, Na, kamu terima ajakan Saya. Masa sudah lupa?" ujar sang atasan.
Hanna yang baru sadar langsung tergagap, dan membuat kursi yang dia duduki terdorong jauh, saking cepatnya dia berdiri. "Maafkan saya Bu Regina!" Wanita itu langsung menunduk, meminta maaf atas kelalaiannya.
"Sudah-sudah, lebih baik bereskan meja kamu sekarang! Biar Ibu tunggu di loby."
"Baik, Bu," Rihanna lalu membereskan semua kertas-kertas dan pensil di tempatnya. Kemudian mengambil ponsel serta tas untuk dibawa pergi.
Saat di lift, dia tidak sengaja bertemu sang kekasih, yang sedang bersama seorang perempuan, dalam posisi yang sangat membuat iritasi matanya. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Hanna datar.
Sementara itu, Zyan yang melihat keberadaan sang pacar, langsung mendorong si perempuan dengan keras. Sehingga membuat suara ringisan keluar dari bibir wanita berpenampilan berantakan. Bahkan dua kancing teratas, sudah lepas dari tempatnya.
"Sayang, i-ni ti-dak se-per-ti yang ka-mu lihat? A-ku bisa jelasin!"
__ADS_1
Rihanna memandang sang kekasih dengan dingin. "Kalau lo mau berbuat mesum, jangan di sini! Karena ini tempat umum, dan tolong jangan sentuh tangan saya!" ujarnya tajam.
Zyan yang merasa bersalah langsung mengejar sang kekasih yang berjalan menuju tangga darurat. "Hanna, please, dengerin aku dulu! Semua ini tidak seperti yang kamu lihat, dia yang goda aku dulu,"
"Dan Lo tergoda dengan dia, iya kan?" sentak wanita itu keras, saat sang kekasih memegang pundaknya.
"Bukan seperti itu, tapi ... arghhhhh!" jedanya emosi, "Aku minta maaf, Sayang!" sambungnya memelas.
"Please, Yan. Tolong, lepasin gue!"
"Enggak, aku nggak bakalan lepasin kamu! Sebelum kamu maafin aku!"
"Gue udah ditungguin sama Bu Regina di bawah, jadi lepasin gue sekarang!"
Suara getaran ponsel membuat Zyan melirik ke arah tas sang pacar. Namun dia belum mau melepaskan cengkraman di pundak wanita itu, "Tidak, sebelum kamu mendengarkan penjelasanku!" ucapnya tidak mau kalah.
Hanna yang sudah mulai kehabisan kesabaran, langsung menyentak tangan pria itu dengan tenaga penuh. Setelah terlepas, wanita itu berlari masuk ke dalam tangga darurat dan mengabaikan panggilan dari sang kekasih. Sepanjang menuruni tangga hingga loby, dia tidak berbicara apapun dan hanya diam saja.
"Kenapa lama sekali, Hanna! Kalau begini kita bisa telat?"
"Maaf, Bu, tadi ada kerjaan yang tiba-tiba harus dilakukan." ucap Hanna meminta maaf.
Regina mendesah kesal, "Ya udah buruan, kita langsung ke mobil saja!" ujarnya tidak bisa menutupi kekesalannya.
"Baik, Bu." Hanna mengikuti si Atasan dengan tangan mengepal. Dia masih tidak menyangka kalau orang yang dia kira baik, ternyata juga sama saja dengan pria di luaran sana, yang akan tergoda jika di sajikan dengan wanita seksi.
'Cih, menjijikan!' batin Hanna.
Selama perjalanan, Hanna hanya mendengarkan setiap penjelasan yang dari sang Atasan. Namun tetap saja, bayang-bayang Zyan sedang menggerayangi tubuh wanita itu, masih terpantri jelas di benaknya, dan itu membuat Mood dia hancur-sehancurnya.
"Hanna, ayo turun! Kita sudah sampai," ucap sang Atasan, membangunkan lamunannya.
Hanna langsung turun dari mobil, dan memandang gedung pencakar langit yang ada didepannya, dengan bingung. 'Bukankah, ini perusahaan milik pria Si*lan itu?' ucap wanita itu dalam hati.
TBC
maafkan aku yang sok sibuk ini para readerku. Kesibukan di dunia nyata begitu membuatku harus pandai-pandai mengatur waktu menulisku. 🙇🙇🙇🙇
Sekali lagi jangan lupa vote,like ,komen, dan hadiahnya.
__ADS_1
Peluk Hanna 🤧🤧🤧🤧🤧