Destiny RiBay

Destiny RiBay
Tamu tak dikenal


__ADS_3

Kantor


Zyan sudah datang sedari tadi pagi ke kantor. Entah kenapa hari ini, dia merasa ada sesuatu hal yang akan terjadi. Namun, pria itu tidak tahu.


Saat netra pria itu tak sengaja melihat ke arah pintu lobby. Dia menemukan sang kekasih yang turun dari Taxi, "Kemana mobilnya?" tanyanya dalam hati.


Langkah kakinya membawa, dia berhadapan dengan Rihanna. Senyum manis terukir di wajah cantik sang kekasih. Hingga sanggup menenangkan hati Zyan yang sedang risau.


"Good morning, Sayang."


"Good morning." Zyan membawa tubuh Hanna dalam dekapan singkat. Karena pria itu sadar ini diruang publik, dan dia juga tidak mau membuat sang kekasih marah-marah.


Saat Zyan akan menggandeng tangan Hanna. Dirinya dikejutkan dengan perban yang melilit di telapak tangan si pacar.


"Ini kenapa lagi, Sayang?" Baru juga kemarin wajah kamu lebam. Lalu sudah ada luka baru lagi?" Zyan menatap khawatir Hanna, yang justru tersenyum, "Kali ini siapa pelakunya? Dan lagi-lagi kamu tidak menghubungiku lagi," gumamnya kecewa.


Hanna menarik tubuh Zyan untuk menepi di taman dekat kantor. Lalu dia menyuruh sang pacar untuk duduk di kursi yang ada di sana. Dan mulai bercerita kejadian yang sesungguhnya.


"Kemarin aku datang ke rumah orangtuaku. Berniat untuk bertemu dengan Ayah. Namun, ternyata mereka sedang khawatir mencari Lia, yang belum pulang setelah beberapa hari. Dan dengan seenaknya, ibu tiriku menuduh kalau aku adalah pelakunya. Sementara aku memang tidak tahu dimana keberadaan Lia."


"Setelah itu terjadilah keributan yang membuat hingga membuat tanganku terluka. Tapi ini tidak apa-apa, kok, Yan!" imbuhnya sambil menatap Zyan.


Sedangkan Zyan menatap datar Hanna, yang sedang menunggu reaksi dia. Dalam hati pria itu, apa ini yang membuat perasaan dia tidak tenang sedari kemarin. Ternyata sang kekasih sedang mengalami masalah dengan keluarga.


"Kamu beneran nggak apa-apa?"


Hanna mengangguk.


Zyan mendesah lega.


"Boleh aku melihat lukanya?"


"Boleh, tapi nanti temani aku buat mengganti perban ini di klinik. Kalau sekarang, kan, kita harus kerja dulu. Bagaimana?" usul Hanna dan di iyakan oleh sang kekasih.


Zyan lalu mengecup punggung tangan Hanna yang terdapat perban di atasnya.


"Baiklah, sepertinya aku harus mengalah lagi denganmu. Tapi nanti siang aku akan menjemput kamu di ruangan, oke!"

__ADS_1


"Siap, Kapten!"


"Kok, Kapten? Aku, kan, pacar kamu," Zyan merajuk hingga membuat Hanna tersenyum.


"Kamu, tuh, nggak pantes kalau merajuk seperti itu, Yan!" ledek sang kekasih.


"Kamu jahat sekali. Masa pacarnya lagi ngambek malah di ledekin. Kan, harusnya disayang-sayang,"


"Apaan, sih, Yan. Nggak cocok tahu sama muka kamu yang sangar itu?"


Zyan makin memasang wajah memelasnya, "Tega sekali kamu, padaku. Dan kenapa kamu tetap memanggil namaku terus? Apa tak ada panggilan khusus dari kamu buat aku, gitu Beb?" ucapnya.


Hanna lalu berfikir. Dia malah baru sadar kalau selama berpacaran dengan Zyan. gadis itu selalu memanggil sang pacar dengan menyebut namanya saja.


"Kamu maunya dipanggil apa?" Hanna bertanya pada Zyan sambil mengetuk-ngetuk bibirnya. Seolah sedang mencari panggilan yang pas, untuk sang kekasih.


Zyan lalu menarik telapak tangan Hanna, dan di genggamnya lembut.


"Emm ... bagaimana kalau Honey, Sayang, pacarku, kekasihku, pujaan hatiku, atau-,"


"Yakh!" Hanna memukul manja sang kekasih. Wajahnya bersemu merah, menahan malu dengan kelakuan si pacar.


Batin Hanna sambil menutup wajahnya.


"Makin hari, aku makin sayaaaaaaaaaang ... banget sama kamu," ujar Zyan sambil mencubit pipi Hanna.


"Sakit, tau, Yan," rengek gadis itu.


Setelah bercanda dan berdebat cukup panjang. Akhirnya mereka sudah mencapai kesepakatan, dimana sang kekasih memanggil Zyan dengan panggilan "Sayang". Perempuan itu juga setuju saja, asal tidak yang aneh-aneh.


...-------...


Sepulang kerja, Zyan mengajak sang kekasih untuk bertemu Radit, dan juga Alam, di cafe biasa mereka nongkrong.


"Hai, Bro. Sorry lama."


"Santai aja. Gue juga baru sampai, kok."

__ADS_1


"Bayu kemana?"


"Dia nggak bisa datang. Soalnya ada rapat, yang nggak bisa ditinggalin."


Hanna yang mendengar nama Bayu disebut-sebut, hanya diam saja. Walaupun sebenarnya hati dia, jadi ketar-ketir. Takut pria itu akan datang, dan membuat suasana jadi canggung


"Hai, Hanna," Radit menjulurkan tangan pada Hanna, dan disambut baik oleh perempuan itu.


"Hai, dit. Hai Alam." sapanya balik.


"Makin cantik aja, nih, pacar orang." ujar alam sambil mengedipkan mata ke arah Hanna.


"Woi, pacar gue itu! Jangan lo embat juga, bangsul!" seru Zyan.


Alam, Radit serta Hanna sendiri malah tertawa.


"Hanna, kalau lo udah bosen sama Zyan, aku siap, kok, jadi penggantinya?" Radit makin semangat menggoda Zyan dan juga sang kekasih.


Rihanna sampai tertawa terpingkal-pingkal, karena melihat tiga serangkai itu.


'Andai saja, aku punya teman seperti mereka. Mungkin hidupku lebih berwarna,'


"Sudah, lebih baik kalian diam, dan jangan membuat malu gue sama Hanna, yah!" Alam mencoba melerai, perang lempar kentang goreng di antara ke dua sahabatnya, "Lagian apa kalian tidak malu. Sudah besar, tapi kelakuan kaya anak TK." imbuhnya.


Zyan dan Radit langsung diam. Mereka juga saling membuang wajah secara bersamaan. Hingga membuat Hanna terkekeh geli.


"Han-na, kamu Rihanna, kan?"


Senyum perempuan itu luntur seketika. Saat melihat orang itu memanggil namanya, "Kamu?" timpal Hanna terkejut.


TBC


**Maaf up siang. karena kesibukan real life membuatku menjadi up siang.


Untuk pemenang komen terbaik. Akan aku chat kalian secara pribadi. Makasih juga yang masih stay di novelku. Semoga kalian tidak bosan dengan ceritaku ini.


Sekali lagi jangan lupa like, komen, dan vote serta hadiahnya.

__ADS_1


Salam sayang dari penulis remahan ini, 🥰🥰🥰😘😘😘😘😘**


__ADS_2