Destiny RiBay

Destiny RiBay
Curahan hati


__ADS_3

Rihanna POV


Aku menolehkan kepalaku kearah belakang, dimana suara itu berasal. Aku mendengus melihat siapa pelakunya. Sejujurnya aku cukup terkejut dengan kedatangan Ririn ke sini, "Kalau lo nggak bisa bedain fungsi toilet, gue bakalan jelasin sama lo," jawabku datar.


"Lo nggak usah berkelit, deh! Lo pasti lagi nungguin tunangan gue, kan, di sini?"


Aku mendengus, "Maaf, yah, gue nggak sekurang kerjaan itu buat ngurusin orang lain!"


"Cih, alasan! Gue yakin, lo pasti habis buntutin tunangan gue, kan?"


"Terserah apa kata lo, gue nggak da urusan sama lo!"


Aku berniat pergi meninggalkan gadis itu, tapi ditahan olehnya.


"Hei gadis cupu, nggak usah berlagak, yah! Walaupun lo mau ngerubah penampilan lo kaya apapun. Dimata gue, lo itu tetep gadis cupu dan bau ketek!" sindir Ririn tajam.


Aku menatap berang gadis itu. Bisa saja aku mengeluarkan jurus beladiriku, tapi aku tahan. Ini bukan saat yang tepat untuk melakukannya.


"Jadi ... kenapa kamu harus takut dan merasa tersaingi? Itukan, sama saja kamu mengakui kalau gue adalah saingan lo." jawabku sambil terkekeh geli.


Tanpa aba-aba, rambutku di tarik kebelakang oleh Ririn. Sehingga membuatku mendongak kesakitan. Aku mencoba menggapai tangannya, tapi langsung ditepis. Aku merintih menahan sakit.


"Gue bilang jangan belagu di depan gue!" teriaknya hingga membuat telingaku berdenging.

__ADS_1


"Lepas!" sentakku.


"Enggak akan, sampai lo janji sama gue, kalau lo nggak bakalan deketin Bayu lagi!" Ririn semakin menarik kuat rambutku, dan bisa dipastikan pasti rambutku rontok.


"Gue nggak pernah deketin cowok Lo, yah! Lagian gue juga udah punya pacar. Jadi tolong jangan bikin gue naik darah!" Aku menggeram marah sambil mencengkeram tangannya, "Atau lo mau gue balas kelakuan lo ini dengan cara kekerasan juga, hah?" bisikku penuh ancaman.


Dengusan terdengar dari belakang tubuhku, "Lo itu bisa apa? Cewek lemah kayak lo itu pantasnya cuma di tong sampah, bareng sama kumpulan lo itu!" timpal gadis itu.


Aku menyeringai. Dengan sekali sentak, aku sudah bisa membalik keadaan. Sekarang justru dia yang merintih kesakitan, karena tangannya aku plintir ke belakang.


Aku berbisik di telinga, "Jangan pernah meremehkan gue lagi, karena apa? Karena sekarang gue udah nggak kayak dulu lagi, yang bisa lo injak-injak."


"Lepas! Berani sekali lo ngelakuin ini sama gue. Asal lo tahu yah cupu! Akh ... Gu-e nggak baka-lan biarin lo hi-dup te-nang. Ingat itu!"


Aku berlalu pergi dari lorong ini menuju loby. Karena aku sudah muak untuk kembali ke pesta itu. Rasa marah dan benci bercampur menjadi satu. Maka dari itu, dari pada aku Membuat kacau di dalam, mending aku pergi.


"Dasar baj*ngan, seenaknya di nyium gue. Dasar pria mesum tak punya sopan santun." rutukku sepanjang jalan.


"Mereka memang pantas menjadi pasangan. Cowoknya brengsek, terus ceweknya sinting. Cocok sekali."


Aku mengusap pipiku yang basah karena air mata ini yang dengan lancangnya merembes. Tak aku pedulikan orang-orang yang melihatku kasihan. Aku tetap berjalan lurus kedepan, dan saat mencapai luar gedung kantor. Aku menghentikan Taxi, kemudian menaikinya.


"Ke apartemen Cahaya pak!" ucapku kepada si sopir.

__ADS_1


"Baik, Non. Tapi apa nona baik-baik saja?" tanya sang Sopir kepadaku yang masih menangis.


"Saya baik-baik saja, Pak, tenang saja!"


"Baiklah, kalau begitu."


Aku mengambil ponselku yang bergetar di dalam tas. Nama Zyan tertera di sana. Aku langsung menolaknya, "Maaf, Yan, aku sedang ingin sendiri dulu." monologku sendiri.


Aku langsung menonaktifkan fitur ponselku, dan menaruhnya kembali di tas. Netraku memejam dan air mataku menetes kembali, saat sang Sopir membuka jendela mobil. Bibirku terangkat untuk hal sesepele ini, yang membuatku merasa diperhatikan, "Terima kasih, Pak." ucapku.


"Sama-sama, Nona. Karena prioritas saya adalah kenyamanan penumpang. Anda bisa beristirahat sejenak, nanti akan saya bangunkan jika sudah sampai ditujuan."


Aku membuka mataku, dan melihat kearah lelaki tua yang menjadi Sopir ku hari ini. Senyum tulus aku berikan kepada pria tua itu, "Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada bapak yang sudah baik terhadap saya. Semoga makin lancar, yah, Pak!" ucapku tulus.


Pria tua itu tersenyum kemudian membentuk tanda oke dengan tangannya.


Selama perjalanan menuju apartemen, aku memejamkan kedua mataku sambil mendengarkan lagu pop jaman dahulu yang disetel oleh sang Sopir. Entah kenapa lagu ini begitu mewakili perasaanku sekarang. Sama-sama menyedihkan.


"Kenapa mereka masih saja menyakiti ku? Apa mereka belum puas juga merundung ku?" Lirihku sambil meratapi nasibku.


"Aku juga ingin bahagia seperti yang lain. Tak bisakah mereka membiarkan ku hidup damai?" Air mataku menetes dengan derasnya.


TBC

__ADS_1


jangan lupa vote like komen dan masukin list favorit.


__ADS_2