Destiny RiBay

Destiny RiBay
Satu tempat


__ADS_3

"Kenapa kita kesini, yah, Bu?"


"Yang jelas kita kesini bukan untuk meminta sumbangan, Na." Regina menjawab pertanyaan Hanna sambil terkekeh. Namun, tidak membuat perasaan si bawahan menjadi tenang. Justru, mood Rihanna semakin mendung.


'Kalau tahu bakalan ke sini, mending tadi aku tolak ajakan Bu Regina,'


"Ya sudah masuk, yuk! Beliau pasti sudah menunggu kita di ruangannya!" ajak regina pada Hanna.


Lalu wanita itu hanya diam, mengikuti langkah sang Atasan yang entah akan membawanya kemana. Dia sudah pasrah jika harus bertemu dengan pemilik dari perusahaan Paradise ini, karena pikirannya sudah mumet jika harus main kucing-kucingan dengan pria itu.


"Nanti kamu temui beliau sendiri dulu, Na. Soalnya, Saya mau ke toilet," ucap Regina ketika berada berdua di dalam lift.


Hanna yang sedang malas berbicara, hanya mengangguk saja. Ketika lift itu berhenti, mereka berpisah. Dia sudah diberitahu ruangan mana yang akan didatangi. Entah harus bahagia atau apa, karena pelanggan kali ini bukanlah pria itu melainkan manajer perusahaan ini.


Rihanna mengetuk pintu kaca itu, lalu saat mendengar sahutan dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dengan gerakan pelan, "Selamat pagi, Bu Rumi," sapanya sopan.


Sementara itu, wanita yang bernama Rumi itu tersenyum, menyambut kedatangan sang Desainer. "Pagi, Mba. Silahkan duduk!" timpalnya tak kalah ramah.


Hanna duduk di kursi yang menghadap langsung kliennya. Senyum manis terulas dari bibir wanita cantik itu, walaupun dalam hati ingin mengumpat dengan kejadian di lift tadi. Dia harus profesional, dan mengutamakan pekerjaan dibandingkan perasaan.


"Loh, Regina mana, kenapa kamu sendirian?"


"Iya Bu, tadi Bu Regina ijin ke toilet dulu."


"Owalah, kebiasaan banget tuh, orang. Masa tiap mampir ketempat baru, yang disambangi toilet mulu," ucap wanita yang seumuran dengan Bu Regina.


"Maaf, apa kalian sudah saling mengenal dekat?" tanya Hanna.


Rumi terkekeh, "Iya, kami ini teman satu kampus dulu. Kami juga sering hang out bareng, makanya kami bisa akrab seperti sekarang." ujarnya bercerita. "Oh iya, nama kamu siapa?" sambung wanita itu.


"Nama saya Rihanna, Bu."


"Jangan panggil Ibu, Mba aja! Lagian saya seumuran dengan regina, kok,"


Hanna menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, kemudian tersenyum kecut. Masalahnya dia memanggil regina saja dengan sebutan Bu, jadi bagaimana bisa harus memanggil Rumi dengan sebutan seakrab itu. "Baiklah, em-ba Rumi," ucap wanita itu sungkan.


"Good. Tapi, kamu cantik sekali, kamu melakukan perawatan dimana?" tanya Rumi ingin tahu.

__ADS_1


Hanna meringis teringat akan penampilan dia yang dulu. Dimana mereka selalu memandang jijik, terhadap wajah dan tubuhnya. Jangan lupakan juga perlakuan yang tidak mengenakan yang didapatkan setiap hari.


"Han, han-na," panggil Rumi berulang kali.


"Oh, maaf Bu-eh maksud saya Mba Rumi, tadi nanya apa, yah?" ujar Hanna salah tingkah.


"Kamu perawatan di salon mana?"


"Ah, itu, saya hanya sesekali saja ke salon. Selain itu, sering makan-makanan yang rendah kalori dan olahraga tentunya, mba."


"Saya sudah melakukan apa yang kamu sebutkan, tapi tetap saja kulit saya tidak sehalus dan sekencang kamu," timpal Arum sedih.


"Kalian sedang ngobrol apa? Kayaknya asyik banget, ikutan dong?" ucap Regina yang baru saja masuk ke dalam ruangan Arum.


Sementara itu, Arum dan Hanna saling menggedikan bahu. "Tidak, Bu Regina. Kami tadi hanya sedang membahas masal ...," ujar Hanna terjeda.


"Sudah, tidak usah dibahas. Lebih baik kita langsung ke intinya saja. Hanna, tolong kamu ambilkan meteran lalu tulis apa saja yang saya katakan, mengerti?" potong Regina panjang lebar.


...---------...


"Sedang di urus sama pihak bengkel. Kemungkinan nanti sore baru bisadi antar ke sini."


"Bagus, kalau begitu, saya mau keruangan. Tapi sebelum itu, tolong kamu panggilkan manajer Rumi untuk menghadap saya sekarang juga!" titah Bayu pada sang Sekretaris.


"Baik, Tuan!"


Bayu kembali keruangan dan keningnya berkedut samar, saat menemukan keberadaan sang tunangan di dalam. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" ujarnya dingin.


Ririn menoleh pada sang tunangan, lalu berdiri dari singgasana sang tunangan yang dia duduki tadi. Dia dengan tersenyum lebar, merentangkan kedua tangan untuk merengkuh tubuh si tunangan. Namun, dalam sekejap bibir wanita itu turun karena penolakan dari Pria itu.


"Sayang~ kenapa kamu nggak mau meluk aku?" ucap Ririn mendayu-dayu.


"Lo masih punya muka buat ketemu sama gue?" timpal Bayu.


"Apa salah kalau aku ketemu sama tunangan sendiri? Enggak dong?"


"Enggak ada, yang salah itu kenapa gue masih mau bertahan sama cewek gila kayak elo!"

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu berbicara kasar seperti itu padaku? Aku ini calon istri kamu, loh?"


"Enggak usah mimpi, karena sebentar lagi gue bakalan umumin ke orang tua kita, kalau pertunangan ini dibatalkan!"


"Enggak bisa gitu dong, Sayang! Sebentar lagi pernikahan kita akan segera dilaksanakan, jadi kamu nggak bisa batalin ini secara sepihak."


"Kata siapa gue nggak bisa? Justru gue udah ngumpulin semua bukti-bukti kelakuan lo yang sangat menjijikan itu."


Ririn langsung panik, dan berniat mendekat ke arah Bayu. Namun, pria itu justru menjauh dari dirinya. Wanita itu tidak bisa tinggal diam, lalu dengan cepat merengkuh tubuh bagian belakang sang tunangan kemudian menangis.


"Lepas!" sentak Bayu.


"Enggak, aku nggak bakalan lepasin kamu! Aku ini adalah wanita yang sudah ditakdirkan untuk kamu, Sayang. Jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa lepas dariku!"


"Gila, lo itu cuma terobsesi sama gue. Inget, gue itu nggak pernah suka ataupun cintai sama lo."


"Aku nggak mau tahu, pokoknya lo harus mau nikah sama gue, TITIK!"


"Oke, kalau gitu. Gue bakalan sebarin video panas lo sama part-ner s*x Lo itu ke media sosial. Lalu, Boom ...." Bayu menjeda ucapannya, "Hidup mewah yang selama ini lo agung-agungkan itu, akan lenyap dalam sekejap!" seringai pria itu begitu menakutkan.


Bunyi ketukan pintu membuat Ririn terkecoh, dan itu dimanfaatkan oleh Bayu untuk melepaskan rengkuhan si tunangan. "Masuk!" ujarnya pada si pengetuk pintu.


Ririn sendiri langsung memasang wajah semuram mungkin, saat pintu itu terbuka dia pergi meninggalkan ruangan sang tunangan dengan jengkel. Sementara itu, sang Asisten serta Rumi dan dua orang dibelakangnya memandang bingung wanita yang baru saja keluar dari ruangan sang CEO dengan pakaian yang seminim itu.


"Siapa itu?" Arum bertanya pada Asisten CEO, tapi dijawab gelengan kepala oleh pria itu. "Pelit!" sambung wanita itu kesal.


Sedangkan Rihanna hanya berdiri cemas di belakang sang Atasan-Regina. Entah kenapa melihat wajah muram Ririn, membuat pikiran dia jadi melalang buana. 'Sebenarnya apa yang terjadi di dalam, hingga membuat wanita ular itu marah sedemikian rupa?' batin Hanna.


"Silahkan masuk!"


TBC


Akhirnya bisa up lagi.


Yuk guys bantu vote, like, komen, dan hadiah buat cerita ini. Karena dukungan kalian sangat berarti buat aku. Sekali lagi terima kasih, karena masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.


Salam sayang dari penulis receh ini 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2