Destiny RiBay

Destiny RiBay
Meresahkan


__ADS_3

Bayu berdiri di depan sebuah toilet, menunggu seseorang. Saat orang yang dia tunggu muncul, dia langsung menarik tubuh gadis itu dan mendorongnya ke tembok. Pekikan yang berasal dari si gadis menggema di lorong yang sepi.


"Kamu!"


"Hai, Sayang. Apa kamu merindukanku?" ujar Bayu sambil tetap mencengkeram tangan gadis itu di belakang tembok.


Posisi mereka begitu dekat, hingga membuat mereka bisa saling merasakan hembusan nafas orang di depannya, "Apa kamu tahu, kalau malam ini kamu begitu cantik dan seksi?" ungkap Bayu jujur.


Mata Hanna menyorot tajam, pria dihadapannya, "Lalu, apa aku peduli pendapatmu?" timpalnya datar.


Bayu menyeringai mendengar jawaban dari perempuan itu, "Jelas kamu harus peduli, karena kamu, adalah milikku!" tekan pria itu tajam.


Gadis itu meringis saat Bayu menekan tubuhnya terlalu keras. Punggung ia yang masih luka, berdenyut sakit. Namun ia tetap diam tak mau memperlihatkan.


"Milikmu?" tawa mengejek keluar dari bibir pink gadis itu, "Sejak kapan?" cecarnya ketus.


"Sejak kamu menyukaiku."


"Wow, sepertinya kepala Anda perlu dibenturkan ke tembok, deh!"


"Hanna!"


"Jangan panggil nama saya seperti itu!" Peringat gadis itu keras, saat di sentak oleh Bayu.


Tubuh Bayu makin mempersempit jarak diantara mereka. Bahkan pria itu bisa melihat jelas, aura kemarahan yang menguat dari gadis itu. Namun dia tetap tidak melepaskan, walaupun Hanna meronta-ronta.


"Kenapa? Apa kamu terpesona dengan ketampanan ku?" Ditelusurinya wajah cantik itu dengan tangan kiri pria itu yang bebas, "Aku akan rela melepaskan semuanya, asal kamu mau kembali denganku!" ujarnya serius.


Netra gadis itu menatap datar pria di depannya, "Dengarkan saya, Tuan Bayu yang terhormat! Sampai kapanpun, saya tidak akan mau kembali menjadi orang bodoh. Hanya demi mencintai orang yang telah menyakiti saya." Hanna berkata tegas.

__ADS_1


"Ohya, kita lihat sampai kapan kamu bertahan dengan lelaki itu, cantik." Bayu mengecup pipi gadis itu, hingga membuat Hanna terkejut.


Mata gadis itu menyorot tajam pria itu.


"Kau!"


"Tidak akan. Sampai kamu jelasin alasannya, kenapa kamu mau menerima Zyan?


"Ten-tu, ka-rena saya mencintai dia, lah!" ucap Hanna gagap.


"Bohong." sergah Bayu.


"Mau bohong atau enggak, itu bukan urusan Anda!"


"Bukankah sudah pernah aku bilang, kalau kamu itu diciptakan hanya untukku."


"Hah, siapa ... Anda?"


Rihanna mendengus kasar, "Maaf. Cintaku sudah lama mati untukmu. Jadi jangan terlalu kepedean, deh!"


"Benarkah itu? Terus kenapa kamu sedari tadi gugup? Lalu ini, apa namanya?" Bayu mengusap keringat yang menetes di pelipis wanita itu, "Kamu itu tidak pandai berbohong, jadi jangan pernah mengelak dari perasaan kamu!" sindir pria itu.


Rihanna mengepalkan kedua tangan erat, saat jari tangan Bayu yang mengusap lembut wajahnya. Entah kenapa dia sangat menikmati itu, apalagi tangan pria itu dengan sengaja berlama-lama di pipi Hanna. Membuat si gadis terlena.


"Lihat! Kau begitu nyaman kan?"


Mata Hanna langsung membeliak. Dengan sekali sentak, Hanna mendorong Bayu menjauh dari tubuhnya, "Jangan pernah menyentuhku! Atau aku akan menghajar kamu sampai babak belur!" Gadis itu pergi meninggalkan pria itu dengan marah.


Bagaimana bisa dia terlena dengan semua ini?

__ADS_1


Hanna meremas gaun yang dia pakai dengan gugup, "Inget Hanna! Lo itu udah punya Zyan. Jangan sampai lo menyakiti hati pacar lo itu!" rutuknya sendiri.


...---------...


Sementara itu, Zyan yang sedang berdiri bersama teman kerjanya. Menatap cemas ke arah jam di tangan. Sudah lebih dari sepuluh menit, sang kekasih ke toilet. Namun sampai sekarang gadis itu belum terlihat.


"Apa gue susul aja, yah?" ucap Zyan pada dirinya sendiri.


"Mau kemana, Yan?" tanya salah satu rekan kerjanya.


Zyan kemudian tersenyum canggung, lalu menggeleng, "Nggak ada apa-apa. Tadi sampai mana,? Maaf tadi lagi ngga konsen, Sorry?" timpalnya.


Ririn juga merasakan hal yang sama. Bayu juga sedari tadi ke toilet tetapi belum kembali. Jangan bilang kalau tunangan dia ...,


Ririn yang tidak sabar menyusul Bayu ke toilet, dimana sang tunangan berada. Dalam perjalanan dia berpapasan dengan teman lama, lalu mengobrol sebentar. Setelah saling memberikan kartu nama, dia melanjutkan tujuannya.


"Awas saja kalau dia macem-macem sama gue, nggak bakalan gue maafin!" gerutu Ririn sepanjang jalan.


Saat sampai di lorong, matanya menyipit memastikan apa yang dia lihat bukanlah fatamorgana atau hanya ilusi sesaat. Setelah sadar kalau ini adalah nyata, Ririn berlari ke arah orang itu,


"Apa yang lo lakukan di sini, hah?" hardik gadis itu keras.


TBC


Pagi semua...


Salam sejahtera buat semuanya 🥰


Jangan lupa vote, like, komen, dan hadiahnya. Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2