
"Ini orang kemana, sih? Masa dari tadi malam di telfon nggak di angkat-angkat?"
Seorang perempuan cantik sedang menggerutu, karena sejak semalam, nomor sang kekasih tidak bisa dihubungi. Padahal mereka sudah janjian, kalau hari ini akan dating. Bibirnya mulai cemberut, sebab kelakukan sang kekasih.
"Tuh, lihat, udah jam sepuluh, tapi Zyan belum nongol juga. Mau dia apa, sih? Enggak biasanya, loh, dia begini. Atau, ada sesuatu hal yang terjadi dengan keluarganya?"
Rihanna mulai khawatir dengan pikiran dia sendiri. Masalahnya, Zyan akan selalu tepat waktu. Kalau sampai seperti ini, berarti ada yang terjadi dengan pria itu. Entah menyangkut Mario, Intan, atau Tante Irene dan suami. Hanna tidak tahu.
"Lebih baik aku samperin langsung deh, kerumahnya." Hanna akhirnya berinisiatif mendatangi langsung kediaman sang kekasih. Dia mulai melajukan mobilnya, melintasi kemacetan yang terjadi saat weekend seperti ini. Sudah lebih dari tiga pulut menit berlalu, tetapi perempuan itu masih terjebak bersama dengan kendaraan lain di jalan raya.
Hanna berdecak, "Tau gitu, aku tadi naik ojol aja," desahnya panjang.
Sambil menunggu kemacetan itu reda. Hanna menyalakan musik untuk mengisi keheningan yang terjadi di dalam mobil. Perempuan itu mengetuk-ngetuk kemudi dengan jari, mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan oleh sang penyanyi. Bibirnya juga ikut bernyanyi, bahkan kepala dia ikut bergoyang.
Usai bermacet-macetan, Hanna akhirnya sampai di kediaman sang kekasih. Sang penjaga yang melihat ada tamu, langsung mendatangi nya.
"Mau cari siapa, Nona?"
"Zyan ada?"
"Oh, tuan Zyan ada di dalam. Kalau boleh tau, Anda siapa? Biar saya bisa melaporkan kedatangan Nona."
"Bilang saja ada Rihanna,"
"Baik, tunggu sebentar, Nona!"
Satpam itu kembali ke pos jaga, dan melapor ke pemilik rumah itu. Setelah mendapatkan titah, dia langsung berlari untuk membukakan gerbang dan mempersilahkan tamu itu masuk.
__ADS_1
"Maaf Nona, saya tidak tahu kalau anda adalah pacar dari Tuan muda Zyan. Sekali lagi, maafkan saya! Karena telah membuat Anda menunggu terlalu lama." Satpam itu menunduk meminta maaf, karena telah melakukan kesalahan.
Hanna tersenyum, "Tidak apa-apa, Pak. kalau begitu saya ke dalam dulu, yah, Pak." jawabnya sambil membawa mobilnya masuk kedalam kediaman Zyan yang megah.
Saat dirinya turun dari mobil, dia sudah disambut dengan wajah khas bangun tidur dari seorang Zyan. Bibir Hanna berdecak sebal, ternyata orang yang dia tunggi sedari tadi baru saja bangun tidur. Ingin rasanya perempuan itu mencakar tanaman hias, untuk melampiaskan kemarahannya.
"Sayang, maafkan aku! Soalnya aku baru bangun tidur." Zyan berjalan mendekati sang kekasih, yang sedang berdiri diam di samping mobil. Dia tahu pasti Hanna marah, karena dilihat dari gelagatnya yang diam saja. Jangan lupakan juga tatapan mata perempuan itu yang datar, "Sayang ... jangan diam dong! Kamu boleh marah kok, sama aku, tapi jangan seperti ini!" rajuk pria itu.
Hanna melangkah mundur, saat mencium bau alkohol dari pria di depannya, "Kamu habis mabok, yah, semalam?" tanyanya tidak suka.
Zyan langsung membekap mulutnya sendiri, dan salah tingkah. Dia jadi makin merasa bersalah kepada sang kekasih. Padahal ia tahu, kalau si pacar sangat tidak suka terhadap lelaki yang mabok. Namun dia malah seperti ini.
"Maaf kan aku sayang. Aku janji tidak akan mabok lagi. Semalam a-aku terbawa suasana, ja-jadi seperti ini. Tapi aku janji,"
"Sudahlah lupakan, lebih baik aku pulang!" Belum usai Zyan menjelaskan, Hanna sudah menyela pembicaraan pria itu.
"Tu-tunggu dulu dong sayang, jangan pergi!" tahan Zyan saat melihat Hanna akan masuk kembali ke dalam mobil.
Zyan langsung mendekap tubuh sang kekasih. Dia tidak memperdulikan Hanna yang meronta ingin dilepaskan, "Iya tahu aku salah. Tapi, please, Hanna! maaf, kan aku! Aku janji nggak akan mabuk lagi." jelasnya.
Hanna yang merasa lelah akhirnya diam dan membiarkan sang kekasih merengkuh dia.
"Oke, kali ini aku maafin! Tapi kalau sampai besok ketahuan kamu seperti ini lagi, lebih baik-,"
"Iya, aku janji. Jadi please! Jangan katakan lanjutkan lagi perkataan mu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang." Zyan makin menenggelamkan wajahnya keceruk leher sang kekasih. Seolah-olah dia tidak rela jauh dari perempuan ini.
Rihanna menghela nafas, "Ya sudah lepas! Mau sampai kapan kamu memelukku terus? Aku sudah kepanasan, nih. Tega banget sih kamu, masa aku di suruh berdiri, di bawah terik matahari yang terik begini!" rajuknya.
__ADS_1
Zyan yang baru sadar, lalu melepaskan rengkuhan dia. Lalu menggenggam tangan sang kekasih. Diciumnya punggung tangan Hanna, dan tersenyum manis kemudian.
"Makasih, yah, Sayang. Aku emang beruntung punya pacar kayak kamu. Jadi pingin nyium kamu, deh!"
"Ogah, jijik gue dicium sama orang teler kaya elo!"
"Dih-dih, masa gue elo lagi, sih?"
"Lagian kamu nyebelin banget!"
"Iya-iya, maaf deh. Lain kali nggak kok, sayang." Zyan langsung merangkul bahu Hanna, dan menusuk-nusuk pipi sang kekasih.
Hanna yang mendapati tingkah lucu Zyan, tidak bisa untuk tidak luluh. Senyum perempuan itupun, langsung terulas cantik uy sang kekasih.
Zyan yang melihat itu, makin gemas dan langsung mencium pipi sang kekasih.
"Zyan," teriak Hanna sambil mengejar sang kekasih yang kabur setelah mencium pipinya.
Zyan sendiri langsung kabur masuk ke dalam rumah, meninggalkan sang kekasih yang sedang mengejarnya.
"Jangan kabur, yah Zyan! Gue, kan, udah bilang sama kamu. Jangan main cium-cium sembarangan, aku nggak suka!"
Akhirnya mereka malah asyik kejar-kejaran di rumah itu, tanpa memperdulikan orang lain yang melihat mereka bingung. Namun ada satu orang, yang melihat kejadian itu tidak suka. Bahkan tangannya mengepal erat.
TBC
Siapa nih yang nungguin scene ini?
__ADS_1
Oke jangan lupa like dan komennya. Oh iya bantu vote juga yah cerita iniπ
Maaf juga typo yang bertebaran.πππππ