
"Jika aku tidak bisa mendapatkan kamu, tentu pria lain juga tidak boleh ada yang memilikimu!"
"Kau gila, hah?" hardik Hanna keras sambil memeluk tubuh Bayu.
Zyan yang melihat Hanna memeluk Bayu, hendak menikamnya kembali. Namun, langsung diringkus oleh Toni serta Malik. Pria itu meronta-ronta dan bahkan tak segan-segan melukai mereka.
"Lepaskan! Jangan cegah aku untuk membunuh pria baj*Ngan itu. Dia sudah merebut pacarku, aku tidak terima!"
"Zyan, hentikan! Apa kamu tidak ingat, kalau Bayu itu teman kamu juga?"
"Teman mana yang tega menikung pacar temannya sendiri, hah? Asal bapak tau, yah, kalau Hanna itu pacarku!"
"Kita sudah putus, Yan. Ingat itu!"
"Tapi aku tidak mau, Hanna."
"Tapi aku tidak sudi berpacaran dengan lelaki yang tidak bisa menahan nafsunya."
"Itu hanya salah paham, Sayang."
"Jangan pernah panggil sayang lagi padaku, karena aku tidak suka! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga, atau ... kamu mau aku panggilkan polisi?"
Malik serta Toni langsung membawa pergi Zyan dari tempat kejadian. Mereka tidak akan membiarkan pria gila itu melakukan hal yang lebih kejam lagi pada Bayu. Sedangkan Zyan, menatap dingin pintu rumah keluarga si mantan pacar, kemudian pergi dengan frustasi.
Entah setan apa yang merasukinya, hingga dengan tega menusuk Bayu. Namun, ada penyesalan dalam hati kecil pria itu tapi segera ditepis. Anggap saja kalau ini adalah balasan, karena telah mengambil wanita yang dia cintai.
Sementara itu, Bayu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil. Hanna sengaja menyenderkan kepala pria itu di bahu, supaya memudahkan dia untuk mengecek keadaan lelaki itu. "Ayah, apa masih lama? Kasihan Bayu, dia pasti kesakitan sekali," ucapnya tidak sabaran.
Rani juga sama cemasnya dengan Hanna. Bahkan dua wanita berbeda umur itu menangis secara bersamaan. Sedangkan Bayu yang melihat itu, tersenyum. Kemudian menggenggam tangan sang Ibu dan menepuk-nepuk lembut.
__ADS_1
"A-ku ti-dak a-pa, Mah."
"Tidak apa bagaimana? Perut kamu itu terluka, Sayang. Jangan ngada-ngada, deh!" omel Rani.
Bayu berniat tersenyum, tapi yang terlihat justru ringisan. Saat merasakan getar di bahu yang disandarinya, pria itu menoleh dan mendapati wajah wanita yang dicintai sudah basah oleh air mata.
"Hei, ke-na-pa menangis, Hem?" Pria itu menggeser tubuhnya, agar bisa menghadap wanita itu. Senyum dia berikan pada si calon istri (loh, sejak kapan?), kemudian mengusap lembut air mata yang masih merembes dari netra indah itu. "Ssssttt, aku baik-baik, aja. Jadi jangan bersedih!" imbuh Bayu susah payah.
Bukannya tenang, wanita itu justru makin menangis sesenggukan. Hingga membuat Bayu tersenyum kecil, melihat tingkah Hanna yang baru kali ini dia lihat. "Aku juga nggak tahu kenapa air ini terus mengalir," timpalnya sambil menutup wajah.
"Sudah-sudah jangan menangis lagi! Lebih baik, kita segera turun, dan membiarkan dokter memeriksa luka Bayu."
Rihanna yang mendengar itu langsung mengusap bekas air mata yang tersisa dengan lengan bajunya. Biarkan orang menganggap jorok atau apa, dia tak peduli. Wanita itu membantu Bayu untuk keluar dari mobil, dan mendudukkan tubuh pria itu di kursi roda yang sudah diambilkan oleh Toni.
"Biar, Papa saja yang mendorong. Lebih baik kamu temenin Mama, dia pasti shock melihat darah sebanyak ini." Toni meminta si calon mantu untuk menemani sang istri. Karena dia harus segera membawa si anak untuk ke UGD, biar cepat ditangani.
Hanna mengangguk dan beralih memeluk bahu Rani. "Bayu pasti bisa melewati ini semua, kan Hanna?" tanya sang Ibu.
"Aamiin. Makasih, yah , Nak. Kamu mau menemani kami di sini."
"Justru saya tidak bisa jika berdiam diri di rumah, sedangkan anak Mama sedang kesakitan seperti sekarang."
"Tapi, Bayu ...."
"Mah ...," Hanna menyela pembicaraan Rani, karena dia tahu apa kelanjutan dari ucapan wanita paruh baya itu. "Lebih baik, kita tunggu sampai Bayu selesai ditangani oleh dokter, baru kita bahas masalah lain," imbuhnya menenangkan.
"Maaf, yah, Sayang."
"Iya, Mah. Kita tunggu di kursi itu aja, bagaimana?" Hanna menuntun tubuh Rani untuk menempati kursi kosong yang ada di depan loket kasir. Karena memang hanya kursi itu yang kosong, yang lain sudah penuh.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Bayu didampingi oleh Toni serta Malik keluar dari ruangan. Dua wanita itu langsung dengan cepat mendekati mereka.
"Bagaimana, apa sudah ditangani? Terus apa ada yang sakit? Apa kamu juga lapar, Sayang? Biar mama belikan un- ...," berondong Rani cepat, tapi ditahan oleh si anak.
"Mah ... tanyanya satu-satu. Bayu bingung mau jawab yang mana dulu?" timpal pria itu.
"Kamu tidak tahu betapa khawatirnya Mama, Sayang. Melihat darah mengucur dari tubuh kamu itu, membuatku tidak bisa untuk berhenti memikirkanmu."
"Iya, Mah maaf. Tapi Bayu sudah baik-baik saja. Lihat, ini hanya luka kecil saja, besok juga sudah sembuh."
Rani yang sudah tidak kuat lagi, langsung memeluk si anak lanang dan menangis di sana. "Jangan sakit lagi, Sayang! Mamah tidak mau melihat kamu seperti ini lagi. Cukup kali ini saja, yah, Nak?" raung wanita paruh baya itu.
Sementara itu, Hanna yang berdiri di pelukan Malik ikut menitikkan air matanya kembali. Padahal dia sudah tidak mau menangis lagi. Namun, melihat pria itu lagi membuat wanita itu tidak bisa untuk tidak bersedih.
"Sudah, Mah! Malu, dilihat banyak orang," Toni minta sang istri untuk berdiri dari posisinya. Dia hanya tidak ingin menjadi tontonan orang banyak. "Lebih baik kita pulang sekarang, karena Bayu butuh istirahat! Salahkan saja anakmu itu, yang menolak untuk dirawat di sini," imbuhnya sewot.
"Aku hanya tidak suka bau rumah sakit, Pah. Mengertilah,"
"Ya-ya-ya terserah kata kamu saja!"
"Pah," Bayu menatap Toni serta Malik secara bersamaan, kemudian memandang perempuan yang sedang berada dalam pelukan si ayah. "Ijinkan aku untuk berbicara sebentar dengan Hanna, apa boleh?" ujarnya.
Malik tahu akan ada hal penting yang akan mereka bicarakan, memilih mendorong pelan tubuh Hanna untuk mendekati Bayu. "Bicaralah, biar kami tunggu di depan!" ucapnya pada si anak.
Hanna memandang pria itu, lalu kembali melihat pada orang tua mereka yang sudah pergi meninggalkan dia, dan Bayu di lorong rumah sakit. Dengan canggung, wanita itu berjalan mendekati kursi roda lalu mendorongnya keluar, tentu saja atas instruksi si pemilik kursi roda itu.
Setelah sampai di luar, Bayu meminta Hanna berhenti. Wanita itu menuruti dan kini, mereka sedang menatap gelapnya malam hari. Di temani suara jangkrik atau deru motor dari luar, pria itu menarik tangan halus itu lalu dikecup.
"Hanna, sebelum hari ini berlalu. Aku ingin menanyakan sekali lagi padamu. Apa kamu mau, menerimaku sebagai calon suamimu?"
__ADS_1
TBC