
["Yah, anak tere! Pulang lo, di cariin sama bapak lo tuh!"] Rihanna langsung menjauhkan ponsel dari telinga, saat mendengar suara di seberang sana begitu keras.
Gadis itu mengusap-usap telinga bagian luar, supaya tidak menjadi tuli. Kemudian menempelkan kembali ponselnya di telinga. Dengusan jelas terlihat dari wajah cantik itu.
"Kenapa Ayahku?" tanyanya dingin.
Decakan terdengar dari seberang telepon, dan itu makin membuat Hanna makin berang.
"Mau Anda itu apasih? Aku sudah pergi dari rumah itu, dan apa itu masih kurang, hah?" tekan gadis itu saat mendengar suara tertawa keras wanita tua itu.
Beruntung dia sekarang berada di luar cafe. Jika saja dia tadi tidak keluar, mungkin yang lain akan melihat wajah memerah perempuan itu.
Sementara itu, Bayu yang beralasan ingin merokok di luar. Tidak sengaja melihat gadis itu sedang berdiri sambil mengepalkan tangan. Lalu kakinya melangkah mendekati gadis cantik itu, dan berdiri di belakangnya.
"Diam kamu!" hardik gadis itu keras.
Bayu bersandar di belakang kaca, sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana. Pria itu masih diam sampai Hanna menyelesaikan panggilannya. Kemudian perempuan itu berbalik dan menemukan dia berdiri di belakang gadis itu.
"Allahu Akbar," Rihanna melangkah mundur, karena terkejut saat menyadari ada orang bdi belakangnya. Bayu yang melihat Hanna terkejut seperti itu ,malah terkekeh geli.
"Kamu kayak ngelihat hantu saja, Han."
Tanpa sadar Hanna menepuk punggung pria itu reflek saking terkejutnya.
Sedangkan Bayu malah langsung terdiam kaku, saat tangan Hanna menepuknya tadi.
Hanna yang sadar, langsung pergi dari hadapan Bayu. Dia tidak mau berurusan dengan pria itu lagi, tetapi langkahnya langsung terhenti. Tangan lelaki itu memegang erat lengannya.
"Apa benar yang tadi Zyan katakan?" tanya Bayu skeptis.
Hanna kemudian menolehkan kepalanya menghadap Bayu, "Kalau iya kenapa? Apa ada masalah dengan Anda?" timpal Hanna sambil meremas kedua tangannya.
"Bukankah kamu menyukaiku? Apa semudah itu kamu mencari pria lain?"
__ADS_1
"Apa anda sedang bermimpi?" tanya Hanna ketus.
"Saya yakin jika saya adalah cinta pertama kamu, dan itu sudah jelas. Kamu tidak bisa mengelak nya lagi!"
"Waah ... Apa anda selalu percaya diri seperti ini? Saya tidak menyangka kalau Anda adalah orang yang sombong dan angkuh!"
"Jelas. Saya tampan, dan pintar. Apalagi saya seorang CEO, wanita manapun akan rela antri untuk mendapatkan saya."
Bibir Hanna berkedut samar, "Sayangnya anda terlalu menyebalkan untuk mendapatkan cinta dari saya!" ujar gadis itu dengan penuh penekanan.
Namun entah kenapa bibir dan hatinya tidak berjalan seiringan. Dibibir dia menyela tetapi dalam hatinya yang paling dalam. Dia masih mengagumi malaikat penolongnya, dulu.
"Putuskan Zyan!"
Mata Hanna membola terkejut dengan perintah Bayu yang semena-mena, "Siapa Anda?" tanyanya ketus.
"Saya adalah cinta pertama kamu, dan akan selalu menjadi yang pertama buat kamu. Ingat itu!" Setelah berkata seperti itu, Bayu pergi kedalam cafe, meninggalkan Hanna yang masih berdiri cengo dengan ucapan pria itu.
"Sinting tuh orang! Dan gue lebih sinting lagi karena menyukai pria gila itu." rutuk Hanna dalam hati.
Sesampainya di rumah Malik-ayahnya.
Hanna mencari-cari keberadaan sang ayah, tetapi tidak terlihat. Saat dia melewati taman belakang, tak sengaja dia menemukan Lia yang sedang berc*mbu dengan seorang lelaki di kursi. Seringai gadis itu keluar saat menemukan sebuah ide, untuk membalas Lia selama ini.
Gadis itu segera mencari sang Ayah, dan keberuntungan masih berpihak dengannya. Malik sedang duduk di ruang baca sambil membaca buku tentang ilmu ekonomi. Kebiasaan si ayah memang seperti ini sedari dulu, hobi membaca.
"Assalamualaikum Ayah."
Malik yang sedang membaca langsung menolehkan kepalanya menghadap si pemanggil. Senyum lebar lansgung bertengger di wajah lelaki tua itu. Lalu Malik menyuruh Hanna untuk duduk di sampingnya.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Ayah sendiri bagaimana? Tadi kata ibu, ayah sedang tidak enak badan. Kenapa malah di sini, harusnya, kan , ayah tiduran saja di kasur?" Hanna yang melihat wajah pucat sang Ayah menjadi khawatir. Dia jadi merasa bersalah, karena telah meninggalkan ayahnya di tangan wanita bunglon itu.
__ADS_1
Maling menggeleng, "Tidak usah. Ayah baik-baik saja, lagian ayah bosan jika harus di kamar terus."
"Tapi tetap saja, ayah butuh istirahat!"
"Tak perlu. Ayah sudah bisa mendengar ocehan kamu juga langsung sembuh," kelakar Malik hingga membuat Hanna cemberut.
"Ayah dibilangin juga. Ini kan, demi kebaikan Ayah juga."
Malik yang menyadari anaknya cemberut justru makin bersemangat menggoda si anak.
Seakan teringat sesuatu, Hanna langsung menghadap Malik kembali, "Ayah, siapa cowok yang sedang berduaan dengan Lia itu?" tanyanya penasaran.
"Katanya, sih, pacarnya Lia. Kenapa?"
"Nggak nanya doang, sih, Yah. Soalnya tadi aku nggak sengaja lihat mereka lagi bermesraan di taman belakang."
"Maksud kamu Lia sama pacarnya?" Malik berubah marah. Dia memang paling tidak suka jika melihat anaknya berpacaran, apalagi ini sudah main bermesraan saja. Dirumahnya lagi, dengan emosi yang meluap-luap, dia pergi ke taman belakang.
Langkah Malik berubah cepat seiring dengan jarak mereka sudah dekat. Pintu kayu itu langsung di dobrak oleh pria tua itu, hingga membuat Lia dan sang kekasih terlonjak kaget, "APA-APAAN KAMU LIA?" Hardik Malik keras.
Lia langsung membetulkan pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sedangkan sang kekasih langsung pergi meninggalkan rumah itu begitu saja. Tak berniat untuk menjelaskan atau apapun, membuat Lia ketar-ketir sendiri.
"Apa kamu nggak punya otak, hingga berbuat seperti itu dengan yang bukan muhrim kamu? Ayah malu Lia, malu ...,"
Sedangkan Hanna yang melihat itu langsung menyeringai. Tak ada niatan untuk menenangkan si Ayah, karena itu memang jelas kesalahan Lia sendiri.
***Ini hanyalah sebuah awal dariku Lia. Kita akan lihat, apa lagi yang bisa aku lakukan kepada kamu dan Masayu nanti. Wellcome to my game!
TBC***
Rihanna Ndak Bayu menyapa kalian.
Jangan lupa like komen, dan hadiahnya.π₯°π₯°π₯°π₯°.
__ADS_1
Karena ini adalah novel yang sedang mengikuti lomba di Noveltoon, saya meminta dukungan kalian. Kalah menang itu sudah wajar dalam perlombaan, seengganya aku bisa jadi tahu kalau kalian membaca ceritaku.
Terima kasih buat semuanya.βΊοΈβΊοΈβΊοΈππππͺπͺπͺ